Mematahkan Logika Teroris

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Setelah sebelumnya tentang "Menjawab Pertanyaan Teroris", sekarang saya akan menulis tentang "Mematahkan Logika Teroris". Sebenarnya hanya cukup berpikir jernih untuk menjawab ataupun mematahkan logika mereka. Dan memang, rata-rata yang berhasil direkrut adalah mereka yang nalarnya pendek ditambah bonus sumbunya juga pendek. Contohnya seperti video di bawah ini.

Menjawab pertanyaan Teroris tentang lebih baik mana antara Nabi Muhammad SAW dengan Jokowi, cukuplah dijawab bahwa Jokowi meniru beliau SAW sebagai Uswatun Hasanah (Teladan Yang Sebaik-baiknya). Termasuk masalah saling melindungi dan toleransi antar umat yang pernah tertuang dalam Piagam Madinah. Dan siapapun yang berusaha membandingkan Rasulullah SAW dengan siapapun, bisa dikatakan sedang meragukan keteladanan terbaik beliau. Bahkan pertanyaan seperti ini pernah juga dilakukan oleh Ibnu Muljam yang membunuh Keluarga dan Sahabat Nabi dengan membandingkan Hukum Allah dengan Hukum Pemerintah (Khalifah).

Nah, sekarang untuk mematahkan Logika Teroris bahwa Islam datangnya asing (aneh) dan akhirnya juga asing sebenarnya juga mudah. Dalil itulah yang membuat mereka merasa sebagai manusia-manusia terpilih.

Memang Islam datangnya asing, karena hadir ditengah masyarakat atau tatanan sosial yang barbar. Dimana pada saat itu, mengubur (membunuh) anak perempuan (dianggap aib) adalah hal biasa. Memperdagangkan manusia sebagai budak juga biasa. Kekerasan dan pertumpahan darah dimana-mana. Sampai akhirnya Islam hadir menyajikan pokok ajaran Akhlaq yang Mulia. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq Yang Mulia".

Setelah misi Rasulullah SAW berhasil dan dilanjutkan oleh penerusnya hingga belasan abad lamanya, tiba-tiba muncul segologan yang merasa benar sendiri. Membawa-bawa nama Islam tapi perilakunya Jahiliyah. Mudah menumpahkan darah, manusia menjadi komoditas (lihat saja perdagangan budak sex oleh ISIS) dan bahkan tidak sedikit yang mengancam membunuh orang tuanya sendiri yang dianggap tidak sealiran.

Dan akhirnya memang, Islam datangnya asing dan akan kembali asing. Menjadi paradoks dari sikap Akhlaq Yang Mulia yang dibawa oleh Nabi SAW. Asing yang ditampilkan oleh orang-orang yang merasa terpilih dan mengaku paling Islami. Terasing di dunia karena menempuh hidup yang salah. Dan terasing (celaka) di akhirat karena memilih jalan mati yang keliru.
*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, April 8, 2021 - 10:15
Kategori Rubrik: