Memanipulasi Agama untuk Berkuasa

Oleh: Ali Valentino

Teringat kisah ketika sebagian besar kaisar-kaisar Bani Umayyah dan Abbasiyah yang dalam setiap kebijakannya selalu mengatasnamakan islam tetapi tidak mengamalkannya. Agama dijadikan tameng untuk menutupi aksi-aksi kejahatan mereka. Mereka mengaku sebagai wakil islam, tetapi mereka juga yang menjadi dalang utama perusak islam.

Siapapun melawan aksi kejahatan dan arogansi mereka maka akan dicap sebagai kafir dan anti islam meskipun yang menentang aksinya umat islam sendiri. Agama mereka jadikan tameng untuk menipu rakyat sekaligus senjata untuk menghukum rakyat yang berani menentang kezaliman mereka.

Ratusan tahun telah berlalu, muncullah kembali orang-orang yang mengaku sebagai wakil islam, mereka muncul bukan dalam bentuk kerajaan, tetapi dalam bentuk partai, ormas dan organisasi politik. Meskipun tidak semuanya, tetapi sebagian besar tujuan utamanya jelas untuk berkuasa, tentunya lagi-lagi dengan mengatasnamakan islam.

Bahkan diantara mereka masih ada yang berusaha membangkitkan kembali gaya kekaisaran Bani Umayyah dan Abbasiyah yang mereka anggap sebagai sistem "Kekhilafahan" pasca Nabi. Padahal jelas-jelas sistem yang mereka gunakan adalah sistem pemerintahan Monarki yang jauh dari kriteria dan syarat-syarat yang diajarkan Islam.

Meskipun sebagian mereka dikenal sebagai pendakwah atau ustadz, tetapi pada kenyataannya mereka adalah orang-orang yang menjadikan politik sebagai profesi dan sumber kehidupan mereka. Mereka bukan lagi pendakwah tetapi telah "berevolusi" menjadi politikus. Terbukti banyak diantara mereka yang melakukan kejahatan korupsi untuk memperkaya diri dan kelompoknya sendiri yang sangat bertentangan dengan ajaran islam yang mereka gembar-gemborkan.

Dan mereka tidak segan-segan menjatuhkan dan terus berusaha menyingkirkan orang-orang (baik islam atau bukan islam) yang mereka anggap sebagai lawan partai, ormas atau organisasi mereka. Dan seperti perilaku para kaisar Bani Umayyah dan Abbasiyah, mereka juga meneriakkan kata "kafir" atau "anti islam" kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai lawan politik atau orang-orang yang menentang kezaliman dan arogansi mereka.

Dalam islam, menjadi pejabat atau politikus itu sah-sah saja selama tidak bertentangan dengan nilai dan ajaran-ajaran islam. Jadi bila ada politikus atau pejabat "islam" yang korupsi, menghalalkan fitnah, menghina, menebar kebencian (yang lagi-lagi bertentangan dengan nilai dan ajaran islam) untuk menjatuhkan lawan politiknya. Pada hakikatnya mereka adalah musuh utama umat islam dan musuh kita bersama. 

>> Sungguh jauh berbeda antara orang-orang yang mengamalkan ajaran-ajaran islam dalam kekuasaan dengan mereka yang memanipulasi islam untuk menegakkan kekuasaan.

Salam Damai

 
(Sumber: Facebook Ali Valentino)

 

Wednesday, February 10, 2016 - 10:30
Kategori Rubrik: