Memaksakan dengan Ketidakmampuan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Sejak 2014 dimana pilpres dimenangkan Pak Jokowi dan "terlanjur sujudnya" Prabowo yg kemudian dianulir oleh angka kemenangan yg sebenarnya, membuat rona raut wajahnya memerah bak buah saga. Mungkin inilah dalam sejarah dunia ada capres yg diolok-olok oleh hitungan abal-abal yg membuat malu sepanjang hidupnya. Dan inilah buah kemaluan yg tidak bisa dilupakan dalam hidup seorang Prabowo.

Kalah dalam kontestasi, gerombolan ini tidak berdiam diri, dgn nyali ingin menguasai parlemen jadi sasaran, dan diakali, PDIP partai pemenang pemilu bisa tak dapat kursi memimpin DPR, peran Demokrat kental dgn sikap cari aman dan negara jadi korban. Parlemen paling tidak produktif dan pemegang piala citra lembaga paling korup 2016 diraih mereka. Inilah parlemen yg membuat grand design mega korupsi yg membuat kita terperangah dan terengah-engah, dimana uang 2,3 triliun di ramu menjadi sajian bancaan tanpa perasaan, puluhan manusia berpenampilan bak tuan tp kelakuan setan.

 

 

Inilah zaman politik paling membuat jijik, gaduh setiap detik, kerjanya mengkritik setiap gerak gerik Presiden yg jam tidurnya pendek, langkahnya terayun dari Sabang sampai Merauke, membangun ketertinggalan yg dibuat para mantan yg pernah berkuasa sampai karatan, Jokowi presiden sungguhan, bukan sesenggukan karena sujudnya di batalkan.

Gerombolan sujud palsu akhirnya menutup malu dgn terus membuat gaduh, mereka lupa negara dgn manusia 256 juta ini harus ditata agar anak cucunya bisa sejahtera, bukan menggila dgn nafsu berkuasa tapi tak bisa bekerja. Profesor, Jendral, Doktor, dan jenis apa saja dlm koloni ini jadi seperti anjing gila yg lapar dan dahaga, tidak pernah jeda utk reda mencela pekerjaan orang yg begitu besar hasilnya, tidak mau berkontemplasi bahwa usianya sia-sia hanya dipakai mencela orang yg sedang bekerja. Bak orang gila yg akalnya tak ada, hari-harinya hanya dipakai mencari-cari apa saja utk bisa menyalahkan dan niat mengebiri presiden, bahkan disain makar dirancang begitu kasar, agama dijadikan tikar keabsahan tindakan, PKI dipanggil-panggil utk hidup lagi dan lucunya angka bangkitnya cuma katanya, jendral tua terus menyalak memaksakan kehendak, politisi yg katanya berakal budi terus juga ikut memaki-maki Jokowi, akal sehatnya hilang melayang, dulunya dia pahlawan reformasi skrg jadi musuh demokrasi, bahkan Ahok seorang diri diserang jutaan orang memakai pedang agama, Ahok sasaran antara tujuan utamanya adalah bagaimana Jokowi bisa dihabisi.

Inilah zaman dimana kampus dicekoki, anak muda diajak beringas, ajaran kebencian dicanangkan utk mengejar dan membantu bagaimana kekuasaan bisa diamankan, sayang mereka lupa ada Tuhan zat yg melingkupi kebaikan, Indonesia masih dalam genggaman Tuhan sehingga masih dikirim manusia sederhana utk membenahi akal budi sebagai pondasi pijakan sebuah negara yg salah urus, dan nyaris gagal. 4 negara Asean, Indonesia, Malaysia, Philipina dan Singapura. Dua berjaya dan dua merana, karena pemimpinnya bak buaya tanpa lidah perasa, bangke sepeda pun ditelannya saking rakusnya.

Ada fenomena baru dalam beroposisi saat ini, manusia rendah moral ini kompak menyerang kebaikan, mereka seolah sulit menbedakan antara akhlak dan memalak, komentarnya kdg menggelikan kayak dagelan, tapi tetap pede bak kedele berubah menjadi tempe. Mereka lupa serangannya menjadi bumerang, mereka lupa ini zaman sosmed yg batang hidungnya bisa diukur jutaan manusia yg menontonnya, mereka lupa ada manusia pembeda yg bisa dinilai, diam, bekerja demi rakyatnya, bukan keluarganya, bukan pula utk dirinya. Dia manusia luar biasa yg dihadirkan Tuhan utk Indonesia. makanya Jokowi saja, jangan pernah berubah.

Diakhir usia senjanya skrg mungkin mulai terasa bhw tidak ada daya mengejar cita-citanya, memaksakan sudah lewat waktunya, makanya koloninya melempar wacana jadi wakil saja tak apa-apa dari pada sudah latihan naik kuda dan upacara bendera masih juga jadi presiden kawe 5, memaksakan sudah tak zamannya karena semua sudah dimakan usia, kini giliran anak muda utk bersiap demi Indonesia.

Bukan alergi kpd yang tua, tapi kalau hanya usianya saja yg jadi pembeda bkn hasil kerjanya, maka Indonesia sulit utk berjaya.

Mari anak muda cepat isi kursi no 2, karena penerus Jokowi harus yg mumpuni bukan yg cuma bisa nelungsumi. Yang tua ngurus kuda saja sambil upacara menurunkan bendera menatap langit senja berwarna jingga..ah andai saja dulu tak sujud bersama, engkau masih ada muka, tapi apa mau dikata zaman itu sudah berlalu, memaksapun engkau sudah tak mampu karena usia senja tidak bisa ditepis utk dipaksa jadi muda seperti semula.

Biarlah Jokowi saja...bahkan utk jadi no 2 engkau terlalu tua. Memaksa akan sia-sia.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, March 8, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: