Memaknai Sebuah Teks

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Teks itu hadir tanpa emosi. Dia datar dan netral. Tapi membacanya, kita sering menafsir sesuai emosi kita. Itulah yang membuat sebuah teks jadi begitu galau diterima. Bukan karena teksnya. Justru karena cara kita menafsirkannya.

Berbeda dengan bahasa oral. Meski gak berjumpa wajah, saat telepon misalnya. Kita bisa dapatkan penekanan kata. Intonasi. Ritme suara. Teriakan. Desahan. Sedih. Emosi mengalir via suara.

 

Apalagi kalau bertemu langsung. Kita bisa menjumpai bahasa tubuh. Mimik wajah. Tarikan dan reaksi mata. Dalam konteks ini sebuah ungkapan akan hadir full. Lengkap dengan momen-momen emosionalnya.

Tentu saja emosi akan tereduksi jika komunikasi dilakukan dengan video call. Meski berjumpa muka, kita berkomunikasi dengan berbeda latar. Berbeda atmosfir. Saya yakin atmosfir yang tidak sama juga bisa mereduksi makna komunikasi. 

Makanya Slsaya lebih suka menempatkan setiap jenis komunikasi sesuai dengan medianya. Apakah teks, voice atau tatap muka. Lalu saya mensikapi dengan wajar. Memahami kekurangan dan kelebihannya 

Saya censerung tidak pernah menggunakan emosi saat konunikasi hanya via teks. Mungkin saja apa yang saya tafsir berbeda dengan lawan komunikasi saya. Apalagi ketika komunikasi teks ada di ruang publik. Dimana semua orang bisa menafsir sesuai dengan kondisi emosinya.

Media sosial adalah komunikasi teks di ruang publik. Kita harus pandai menempatkan tafsir atas sebuah teks.

Akan sangat naif, jika orang bereaksi secara berlebihan atas sebuah teks. Apalagi jika teks itu sifatnya ngambang. Tidak menunjuk langsung. Atau hanya berupa sindiran. 

Sebab, sekali lagi, karena bentuknya teks, mungkin saja apa yang kita perkirakan dari teks tersebut berbeda dengan yang dimaksud oleh si penulisnya. 

Itulah yang selalu saya sampaikan. Jangan terlalu baper hanya karena komunikasi teks. Sebab teks ini tanpa emosi. Kitalah sebagai pembaca yang menafsirkannya sesuai dengan kondisi emosi kita saat membacanya.

Makanya, peluang salah tafsir jadi begitu tinggi.

Saya contohkan beberapa status saya belakangan ini. Semuanya coba saya sajikan di luar semua konteks persoalan. Tapi, ternyata setiap orang menafsir sesuai dengan asumsinya. 

Ada yang menafsir bahwa sebuah status berkenaan dengan isu lem Aibon. Ada juga malah yang mengira itu adalah berkenaan dengan kasus Birgaldo dan Ninoy. Ada juga yang menafsir utuh, sesuai dengan teks yang saya sajikan saja. Cuma sesuai teks yang ada saja.

Itu menyadarkan saya --juga kita-- bahwa sebuah teks mestinya gak perlu ditarik sebagai kesimpulan tunggal. Apalagi teks dari status medsos. Biarkan dia sebagai teks. Jangan dibetot-betot dalam wilayah yang lebih personal. 

Jangan ditafsir-tafsir sendiri. Nanti malah sakit hati. Atau geer. Atau emosi. Atau mengira betapa baik atau jahatnya orang itu. Padahal belum tentu maksuenya demikian.

Tentu saja semua teks perlu konteks. Perlu ditempatkan dalam sebuah perspektif lingkungan. Sebab ujungnya teks adalah bahasa simbol dari konteks.

Tapi jangan juga melulu menempatkan emosi kita dalam konteks itu. Nanti stress sendiri. Wong sebuah tulisan belum tentu untuk kita malah kitanya yang kegeeran.

Itulah cara saya merespon komunikasi di media sosial. 

Ujungnya, yang asyik-asyik aja. Jangan baper.

"Mas, lagi ngomongin apaan sih? Sok bijak banget. Padahal kamu juga kadang baperan," celoteh Abu Kumkum.

Jangan buka rahasia Kum...

 

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Friday, November 8, 2019 - 05:15
Kategori Rubrik: