Memaknai Ketupat Lebaran

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Dalam tradisi Jawa..., ketupat atau kupat memang bukan sekadar makanan khas Lebaran..., melainkan sudah menjadi simbol yang sarat makna dan mistifikasi.

Menurut pakar budaya Jawa..., KRHT DR HC Kalinggo Honggopuro...; konon ketupat telah ada sejak zaman Jawa kuno..., yang kemudian diadopsi Wali Sanga dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Ketupat dalam peradaban tersebut sebagai simbolisasi tulak balak (penangkal kesialan)..., dan lambang kemakmuran.

Hal itu terlihat dari bahan baku pembuatannya..., yakni dari beras serta bungkus janur kuning..., yang mewakili Dewi Sri dan Sadono sebagai lambang Dewa Kemakmuran.

Adapun empat sudut ketupat adalah lambang arah mata angin..., sebagai simbol kiblat papat, limo pancer...; atau sudah lengkap lima..., yang bermakna bahwa seseorang sudah mencapai derajat (maqam) tinggi/mulia dalam berperilaku.

Menurut leksikon Jawa..., kata kupat berasal dari kupataya...; yang berarti wadah nasi.

Sedang lepet..., merupakan metamorfosis dari kata luput..., lepat..., lepas...; yang berarti kealpaan.

Dalam versi lain..., ada pula yang mengartikan bahwa kupat (ketupat) berasal dari Jarwo Dhosok (makna kata) ngaku lepat (mengaku salah)..., ngakoni sedoyo kalepatan (mengakui segala dosa dan kesalahan).

Ada juga yang memaknai laku papat..., mengku nefsu papat.

Jika ditelaah..., semua anasir kata hasil rekaan (othak athik mathuk) itu bermuara ke arah pengakuan dosa manusia.

Etimologi dari leksikon Jawa ini tampaknya lebih mengena..., dibanding leksikon Arab.

Sedangkan dilihat dari bahan bakunya...; pembungkus dari janur kelapa serta isinya beras dan ketan (padi)..., jelas ini nabati Jawa..., bukan nabati Arab (kurma).

Dan dari mitologi Jawa tentang Dewi Sri Sadono (Dewi Padi)..., kisah ini sudah ada sejak jaman pemerintahan di Medang Kamulan..., sekitar abad ke 5 Masehi..., Jaman prasejarah.

Sebelum menuai padi (Dewi Sri)..., petani Jawa tempo dulu menandai dengan upacara sakral methik (mengambil penganten padi sebagai simbol awal memanen)..., dengan ritus selamatan kupat lepet.

Melaksanakan nazar misalnya..., juga selamatan dengan peranti kupat luwar.

Bahkan menolak bala pun dengan menggunakan kupat..., yang dianggap bernilai magis.

Kupat yang sudah diberi mantra (doa)..., biasanya digantungkan di atas pintu atau di depan kaca mobil.

Malah..., ada juga yang dikalungkan pada leher hewan-hewan peliharaan seperti kambing dan sapi.

Leluhur kita memang tiada duanya.

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Monday, May 25, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: