Memaknai Kenaikan Isa Almasih

Oleh :Nicholaus Prassetyo

Nabi Isa begitu terkenal dalam dunia keagamaan. Yahudi dan Islam, mengakui Isa sebagai seorang nabi. Nasrani, mengakui Isa sebagai juruselamat, anak Allah yang datang ke dunia untuk menebus dosa umat manusia.

 Di hari kenaikan Isa Al-Masih ini pun, perbedaan pandangan mengenai siapa itu Nabi Isa yang sesungguhnya -tidak bisa dielakkan- masih saja terus terjadi.

Sudah lama kita hidup dalam suatu kotak-kotak perbedaan atas nama agama. Tak jarang, perbedaan itu menyulut sebuah konflik. Penyatuan pun nampaknya juga sulit dicapai, mengingat dogma-dogma yang sudah ditanamkan oleh pendahulu-pendahulunya, sehingga tidak bisa diganggu gugat.

Hari ini saya mencoba memaknai kenaikan Nabi Isa secara global dan saya akan membahas ini menjadi dua bagian, yaitu memaknai untuk diri sendri dan orang lain. Saya menggunakan referensi sebuah Alkitab, karena memang saya beragama Katolik, namun saya akan membahas ini secara objektif. Saya akan mencoba untuk memaknai hari ini tanpa ada pihak manapun yang saya untungkan atau rugikan.

Makna untuk diri sendiri

 Dalam Injil Markus 16: 9-19, diceritakan mengenai kejadian-kejadian sebelum Yeses (panggilan Nabi Isa untuk umat nasrani) naik ke Surga.

Dalam hal memaknai kejadian ini untuk diri sendiri, ada beberapa referensi dari Injil tersebut, antara lain:

Ayat 17: Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, ....

Ayat 18: mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka meminum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; ....

 Lalu, apakah itu semua berarti kita harus mengusir setan atas nama-Nya dan kemudian meminum racun maut dan menunjukkan tidak akan mati?

Tidak. Itu adalah sebuah persepsi yang salah di tengah dunia saat ini. Mari kita menyikapi ini secara lebih luas, tidak terkungkung dalam dogma agama mana pun.

Mereka akan mengusir setan menunjukkan kepada kita bahwa kita harus mampu untuk mengusir setan dalam diri kita sendiri. Siapa setan itu? Tentu saja segala niat jahat kita, perbuatan buruk kita, sikap malas dan segala hal yang membuat kita jauh dari Allah. Tidak perlu repot-repot mencari setan, sebab setan itu sebenarnya banyak di dalam diri kita. Jadi, yang dimaksudkan adalah kita mampu untuk mengusir segala niatan tidak baik dalam hati kita sehingga akan merubah kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Perihal memegang ular dan meminum racun maut, kita harus mendefinisikan kedua hal tersebut terlebih dahulu. Ular, diidentikkan dengan binatang yang paling mematikan. Sedangkan racun maut diidentikkan dengan segala sesuatu yang berbahaya yang mampu untuk menghilagkan nyawa kita.

Lalu, mengapa dikatakan bahwa kita tidak akan celaka? Jelas. Yang mempunyai jiwa hanyalah Allah sendiri. Meskipun nantinya tubuh kita ini akan mati, tetapi jiwa kita tidak. Semua bisa saja membunuh dan menghancurkan tubuh kita, namun tidak pernah bisa untuk mencelakai jiwa kita, sebab yang memiliki jiwa kita seutuhnya hanya Sang Pencipta kita. Jadi, kita diminta untuk tidak takut pada apaun kecuali pada Allah, Sang Pencipta kita.

Makna untuk lingkungan sekitar

Referensi yang berkaitan dengan lingkungan sekitar antara lain:

Ayat 15: Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergillah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Ayat 18: ... mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh. Ayat lima belas, nampaknya menarik untuk dibahas. Dimana disitu terdapat kalimat penugasan untuk menyebarkan Injil. Apakah dengan begitu saya harus mendoktrinkan kepada anda Injil yang saya punya?

Tentu tidak.

Injil di sini juga bisa berarti kitab. Dan kita tahu bahwa semua agama di dunia ini mempunyai kitab suci nya masing-masingSaya meyakini bahwa semua agama itu mengajarkan kepada kita kebaikan, oleh karenanya, saya beranggapan juga bahwa apa yang ditulis dalam kitab-kitab keagamaan juga adalah sebuah ajaran mengenai kebaikan.

Jadi, yang dimaksudkan adalah kita hidup dengan senantiasa memancarkan kebaikan kepada semua makhluk di dunia ini tanpa terkecuali. Entah itu dari agama manapun, kita harus memancarkan kebaikan yang telah diajarkan oleh agama kita masing-masing kepada orang lain.

Kitab itu jangan hanya jadi pajangan. Agama pun jangan hanya sekedar dijadikan formalitas. Jika begitu adanya, maka kita tidak akan pernah bisa memancarkan kebaikan pada orang lain.

Perihal meletakkan tangan atas orang sakit, kita harus membuka luas cakrawala kita dahulu mengenai apa itu penumpangan tangan dan siapa itu orang sakit. Meletakkan tangan kita berarti kita juga mau ikut ambil bagian dalam kesakitan orang tersebut, atau dalam kata lain kita menjadi peduli.

Lalu, perihal orang sakit, mereka juga bisa diartikan sesama kita yang menderita, misalnya karena ketidakberuntungan dalam bidang ekonomi, sosial, dsb. Jadi, yang dimaksudkan disini adalah kita turut ambil bagian dan menjadi peduli dengan penderitaan orang-orang lain. Membuka kepedulian itu perlu di tengah kesulitan yang kini terus merebak di dunia. Sudah sepatutnyalah kita untuk menyingkirkan kepentingan pribadi dan menjdai peduli terhadap orang lain.

Dari uraian-uraian singkat di atas, sudah sepatutnyalah bagi kita untuk memaknai kenaikan Nabi Isa ini secara lebih luas dan menembus segala perbedaan. Semoga, dengan memperingati kenikan Nabi Isa ke Surga ini, kita semua umat beragama semakin diajari untuk selalu memancarkan kebaikan kepada semua orang. Salam damai untuk seluruh umat beragama.** (ak)

Sumber : kompasiana.com

 

Friday, May 6, 2016 - 09:30
Kategori Rubrik: