Memaknai "Kembali" Ke Al Qur'an dan Hadits

Ilustrasi

Oleh : Rijalul Wathon Al Madury

Minum Susu langsung dari pentil sapinya,
Beramal langsung ngambil pada sumbernya Qur'an - Hadits.

" KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN & AL-HADITS "

Secara sekilas dan sepintas slogan diatas sangat baik, indah, memukau dan memikat.
Tentu kalangan orang-orang yg status keilmuan agamanya masih setengah2 akan merasa kagum apalagi kalangan orang awam yg masih butuh injeksi keilmuan dan pemupukan intensif dalam masalah ilmu agama yg memuat Aqidah, Ibadah dan Amaliah.

Namun, ketika kita mencerna dan mau mendalami serta mencari detailnya tentu tak semudah apa yg diucapkan dan diusung dgn slogan diatas karena butuh kematangan serius dan penuh spirit total dlm mempelajarinya.

Semudah itukah?
Segampang itukah?
Tentu tidak ! Kalau cuma mengatakannya sih anak SD/MI juga bisa dgn slogan diatas.
Namun masalahnya disini mampukah kita mencerna dan mendalami ilmu yg memuat dua sandaran hukum Islam tsb. tanpa Wasilah Guru ? tanpa Tafsir, tanpa Mustholah?
Sudah tentu jawabnya tidakkan mudah!

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul (Al-Hadits) merupakan dua pokok utama dalam berhujjah dan istidlal masalah Aqidah, Ibadah dan Amaliah.
Namun, Nabi صلّی ﷲ عليه وسلّم sendiri sudah memberikan peringatan agar tidak seenake dewe menafsirkan Ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits.
Tentu ada ilmu yg harus dijadikan bahan dasar utk memahaminya.

Nabi SAW bersabda :
ﻣَﻦْ ﻓَﺴَّﺮَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﺑِﺮَﺃْﻳِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒَﻮَّﺃْ
ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭ
“Barang Siapa yang menafsirkan Al Qur'an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka"
(HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah) .

Kita ambil contoh sederhana saja tentang ilmu yg berkorelasi dan menjadi perangkat pendukung memahaminya.
Dalam memahami 1 ayat dan 1 hadits saja kita harus bisa dan butuh ilmu yg mendukungnya.
Seperti;
a. Alat ; 1. Nahwu 2. Sharraf 3. Manthiq 4. Balaghah 5. Badi' dll.
b. Tafsir; 1. Ibnu Katsir 2. Attobari 3. Al-Jalalain 4. Khazin 5. Ibnu Abbas dll.
c. Mustholah dan Syarah Hadits; 1. Al-Minhaj Syarah Sohih Muslim 2. Fathul Bari Syarah Shohih Bukhari 3. Al-Mustadrak 4. Syarah Ibnu Majah 5. Syarah At-Turmudzi dll.
d. Kitab Rijal; seperti, Kanzul Umal, Taqributtahdzib, Tahdzibuttahdzib, Tahdzibul Kamal, Mizanul I'tidal, Kitabul Asanid dll.
e. Kitab Tarikh; seperti; Tarikh Damsyiq, Tarikh Iraq, Tarikh Mishr dll.
f. Ilmu Qur'an; Tajwid, I'rab, Asbabunnuzul, Tarikh-Mansukh, Washil-Maushul, Tafsir, Ta'wil dll.

Itu hanya sebagian saja.
Lantas semudah itukah kita tanpa melalui Taqlid kepada Ulama, tentu tidak akan mudah, karena Qur'an dan Hadits itu kedudukannya hampir sama sebagai pedoman.
Lantas kenapa harus ada Qiyas sebagai Ijtihad Ulama apakah Qur'an dan Hadits belum lengkap dan sempurna? Tentu sempurna tanpa kekurangan sedikitpun, hanya saja Ulama2 terdahulu memberikan formulasi utk ummat Islam yg lebih mudah dan tdk keluar dari kedua Nash Sharih tsb.

Ketika kita berdiskusi dgn Qaumul Hawaa An-Najd.
Mereka selalu minta dalil Qur'an dan Hadits, ketika kita memberikannya masih ngeyel menanyakan status dan predikat atau derajat sebuah Hadits, apakah Sohih, Hasan, Dhoif, Marfu', Maudhu', Maqthu' dll.
Padahal hakikatnya mereka sendiri tdk faham akan hal itu alias "Dungu".

Tapi, kita sebagai pengikut Assawaadul A'zhaam Ahlussunnah Wal Jama'ah khususnya NU harus tetap belajar berjuang dan memberikan pelayanan serta pencerahan kpd Ummat agar tdk mudah dibodohi dgn slogan diatas.
Dan yg paling utama kita tunjukkan Akhlaq dan Adab kita agar tdk sampai mengeluarkan kata2 tercela dan ngawur.

Sumber : Status Facebook Rijalul Wathan Al Madury

Saturday, February 3, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: