Memaknai Kemarahan Presiden

Oleh: Ricky Apriansyah

Presiden marah. Itu tidak biasanya. Biasanya beliau tampil kalem, sabar. Tak sekalipun menggunakan intonasi tinggi. Kaum pembenci memaknai kemarahan Presiden sebagai pencitraan, akting dan sejumlah prasangka buruk lainnya. Biarkan saja. Sebab apapun yang dilakukan Presiden, mereka tetap akan mananggapinya dengan negatif. Namun orang waras akan menangkap makna lebih dalam dari kejadian ini. 

Orang yang biasanya kalem dan sabar kemudian marah, itu berarti ada sesuatu yang sangat serius, butuh penanganan khusus. Dilihat dari isu yang diangkat saat berpidato pada Arahan Presiden Jokowi 18 Juni 2020 itu, maka terlihat benar bahwa Presiden penuh empati dengan kondisi rakyat di tengah pandemi. Beliau juga ingin memastkkan rakyatnyasehat. Bagaimanapun beliau adalah presiden yang berasal dari rakyat biasa yang pernah hidup miskin. Bahkan keluarganya pernah tinggal di pinggiran kali dan terkena penggusuran. Maka tidak heran presiden kita punya kepekaan dan empati yang tinggi terhadap kondisi dan penderitaan rakyat. 

 

Tentunya, tak semua pemimpin bangsa, kelompok elit, memiliki kepekaan perasaan senasib dan sepenanggungan akan kondisi dan kesulitan rakyat sebagaimana dirasakan Presiden Jokowi. Penderitaan rakyat bukan semata statistik angka kematian atau kemiskinan. 

Presiden Jokowi memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan dengan rakyat. Oleh karena itu Presiden merasa perlu memastikan rakyat sehat, dan bagi rakyat yang memerlukan perawatan maka memperoleh layanan kesehatan secara cepat, terjangkau dan manusiawi. Presiden terus memantau kinerja pemerintah dalam penanggulangan wabah Covid-19 untuk menekan jumlah korban dan menghentikan laju penyebaran wabah.

Pesan lain dari kemarahan Presiden yang tak kalah dalam maknanya adalah betapa Presiden Jokowi sangat mengerti ancaman ekonomi yang mengiringi pandemic. Maka kemarahannya adalah untuk meminta jajarannya melakukan banyak program yang lebih kreatif, dengan tujuan utama menyelamatkan ekonomi rakyat. 

Satu makna lagi yang tidak banyak dipikirkan orang adalah betapa demi rakyat dan anak buahnya, Presiden siap pasang badan. Presiden paham bahwa anak buahnya takut bertindak extraordinary. Karena bukan tidak mungkin risikonya mereka akan menghadapi masalah hukum di kemudian hari bila gegabah dalam menggunakan dana APBN. Oleh karena itu Presiden tidak lepas tangan. Presiden Jokowi pasang badan untuk para anak buahnya. Bila para anak buahnya perlu perlindungan berupa aturan baru, Presiden siap mengeluarkan.

Akhirnya, makna yang tak kalah menarik adalah isyarat bahwa Presiden sendiri akan melakukan apapun bila diperlukan, hingga kebijakan yang paling ekstrem berupa reshuffle kabinet.  Kebijakan reshuffle kabinet sesungguhnya juga bukan pendekatan baru presiden dalam mengevaluasi dan memberhentikan menteri yang tidak pro-rakyat, dan kinerjanya tidak sesuai harapan. Kita tentu ingat pada periode lalu, Presiden juga pernah di-reshuffle terhadap Rizal Ramli, Sudirman Said, serta Anies Baswedan karena berkinerja buruk. 

Terus maju, Presiden! Untuk 267 juta rakyat, untuk Indonesia. 

(Sumber: Facebook)

Tuesday, July 7, 2020 - 07:30
Kategori Rubrik: