Memaknai Cinta

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Dalam suatu opera tari di kisahkan tentang seorang wanita yang di tinggalkan suami untuk pergi bertempur. Wanita itu berjanji akan selalu setia menanti kedatangan suami. Andaikan kabar buruk dimana suaminya gugur di medan tempur, dia akan jadikan berita itu sebagai keyakinan bahwa suaminya selalu ada di hatinya.

Setelah sekian tahun menanti, akhirnya dapat kabar bahwa suaminya termasuk yang pulang ke kampung dalam keadaan cacat. Kaki sebelah kanan diamputasi. Namun suaminya tidak kunjung datang kerumah. Dari kabar teman temannya bahwa suaminya lebih memilih untuk tinggal dirumah orang tuannya. Dia berusaha membujuk agar suaminya pulang namun suaminya tidak mau..Bahkan suaminya tidak mau bicara dengannya.

Wanita itu akhirnya dengan ramuan tradisional membutakan matanya. Maka jadilah dia wanita tunanetra. Kabar ini sampai kepada suaminya yang akhirnya datang menemuinya. " Mengapa kamu lakukan ini ? Kata suaminya.

" Karena aku tidak tahu lagi bagaimana mengungkapkan kepadamu bahwa aku mencintaimu tanpa melihat lahir mu. Kamu adalah belahan jiwaku dan aku memperlakukan mu dengan mata hatiku. Aku tidak peduli dengan keadaan cacatmu dan cintaku tak akak berkurang sedikitpun. "

Suaminya akhirnya menyadari ketika berhasil merebut hati wanita bukanlah seperti dugaannya bahwa dia perkasa dan ganteng tapi wanita itu jatuh cinta karena mata hati, bukan mata lahir. Suaminya menerima kembali dan mereka berjanji dengan kekuatan mata hati mereka saling menyelami untuk berbagi sepanjang usia.

Cinta tidak bisa di definisikan dengan keberadaan lahir dan atribut tapi karena pesan cinta itu datang bagaikan anak panah dengan kecepatan tinggi sehingga lekat di hati tanpa bisa lepas lagi. Namun kadang panah cinta itu tidak banyak orang sadari kedatangnya. Mengapa ? Karena mata hatinya terkaburkan oleh silau dunia dan rasa cemas. Mereka lupa bahwa cinta itu anugerah Allah dan produk sorga yang di ciptakan Tuhan agar menjadi penyeimbang satu sama lain dan berkembang menjadi sempurna.

Nak, ketika kamu memaknai cinta dengan syarat seperti yang kamu mau, sebetulnya kamu tidak pernah mencintai orang lain tapi kamu mencintai diri kamu sendiri. Kamu berdiri diatas fondasi yang rapuh yang karena berbagai sebab bisa merubah cinta jadi benci dan membosankan bahkan menyakitkan, mengecewakan. Belajarlah jujur memaknai cinta dan kemudian ketika datang maka yakinkan dirimu bahwa kamu harus berjuang melewati proses sepanjang usia agar cinta itu terus tumbuh menjadi indah.Cinta itu di hati dan melihatnya pun dengan mata hati..** (ak)

Sumber : Facebook Erizeli Jely Bandaro

Thursday, June 16, 2016 - 06:00
Kategori Rubrik: