Memahami Perasaan Pemeluk Agama Lain

Ilustrasi

Oleh : Endah Raharjo

Untuk teman-teman Kristiani, 
Selamat merayakan Natal. Semoga perayaan berjalan damai dan hangat, bisa kumpul keluarga serta menikmati liburan.

Untuk teman-teman yang tidak merayakan Natal, selamat menikmati liburan dengan keluarga dan sahabat.

Semoga cuaca berbaik-hati pada kita semua.

Dalam situasi seperti sekarang ini, ketika agama digunakan untuk menyakiti, sebagai bagian mayoritas Islam, tidak mudah bagi saya untuk bersikap. Sejarah membuktikan bahwa agama adalah salah satu senjata ampuh untuk membunuh musuh dan merebut tahta. Namun seluas-luasnya pengetahuan orang tentang sejarah, ia bisa terluka jika keyakinannya diserang. Maka sepenuhnya saya maklum kalau ada teman yang mengungkapkan rasa tak suka mereka dengan kalimat yang cenderung menggeneralisir. Ya, saya juga terluka dengan generalisasi itu. Saya, dan kamu temanku di mana saja, sama-sama terluka.

Saya pertama kali mengalami jadi minoritas di Halifax, Kanada, sekitar 25 tahun lalu. Sesekali terasa sungguh buruk sebab beberapa bulan sebelum kedatangan kami (saya dan anak yang baru 2 tahun; menyusul suami yang telah di sana 6 bulan sebelumnya) terjadi tragedi di Timor Timur yang dikenal dengan “Santa Cruz Massacre.” Suami saya menerima beasiswa CIDA dan waktu itu saya berniat melamar beasiswa juga, program untuk pasangan, namun program itu dihentikan akibat kejahatan kemanusiaan itu. Cemoohan terburuk yang saya terima adalah teriakan "Smell rice!" tepat di kuping saya; biasa-biasa saja jika tidak ada konteksnya namun membuat jantung berdentum ketika itu diniatkan untuk melukai. Ada teman yang dilempar telur busuk saat menunggu bis, sebab mereka tahu teman itu dari Indonesia.

Seminggu setelah kedatangan, kami berafiliasi dengan gereja di kota itu, dan diperkenalkan dengan host family yang membantu kami beradaptasi. Mereka suami istri, seusia bapak-ibu saya, kelahiran Belanda, pernah tinggal di Indonesia semasa perang. Saya juga ‘diberi’ teman yang sekaligus jadi tutor bahasa Inggris, Ardith. Oh, bahasa Inggris saya sudah fasih saat itu. Sedari kecil saya dan mbakyu-adik diajar Bapak.

Konon, pelajar Islam yang belajar lama di negara-negara Barat akan pulang dengan beberapa kemungkinan perubahan watak, di antaranya cenderung fundamentalis atau menjadi humanis. Saya, merasa, cenderung pada yang kedua.

Ketika itu, kalau kecut hati akibat perlakukan tidak nyaman, saya berusaha keras fokus pada orang-orang Kanada, yang umumnya tidak serasis orang Amerika, yang sangat menyayangi kami dan kami ‘temukan’ di gereja. Oh, jangan salah. Mereka sama sekali tidak berkhotbah, tidak menarik-narik kami agar mengubah agama. Oh, jangan buruk sangka, saya percaya mereka tulus.

Salah satu obrolan dengan Ardith yang terpahat di hati saya adalah perkara agama saya, agamanya dan agama orang Irian Jaya (sekarang Papua). Tidak akan saya ceritakan di sini sebab itu perkara lain. Dia sangat tertarik dengan orang-orang Papua sehabis membaca artikel di sebuah majalah, dengan foto-foto dahsyat, tentang kesaksian seorang misionaris. Obrolan itu kami tutup dengan pertanyaan sekaligus kesepakatan:

“What if my way is THE RIGHT way, Endah?” kata Ardith menekankan kata ‘the right,’ merenung, menggenggam cangkir teh yang sudah dingin.

“Exactly. I have the same question, Ardith,” kata saya.

“So, let’s hold hands. And I can take you to my place if it is THE PLACE and vice versa,” katanya. Senyumnya lebih jernih dari melati yang baru mekar. Dia memang puitis, bahkan dalam perbincangan sehari-hari.

Dan…

Ketika selanjutnya saya jadi minoritas di berbagai negara, pertanyaan dan kesepakatan dengan Ardith itu menguatkan. Hingga kini, pertanyaan itu kerap muncul. Apakah itu lalu membuat saya jadi Islam peragu? Siapa yang berhak memukul palu kecuali Zat Maha Satu Maha Tahu?

Jadi, sampai kini, saya memutuskan untuk tetap berpegangan tangan dengan ardith-ardith lain. Mereka bisa tetangga, bisa teman kuliah, bisa teman kerja, bisa teman facebook pun.

Selamat merayakan Natal dan selamat menikmati liburan.

Sumber : Status Facebook Endah Raharjo

Saturday, December 23, 2017 - 22:15
Kategori Rubrik: