Memahami Kemarahan pak Jokowi

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Semalam lagi drakoran pas ngecek postingan di fb dan lewat video Pak Presiden bertemu para menteri. Drakor saya pause, lebih penting ini nih urusan negara!

Pas sampai di kalimat yang diucapkan dengan wajah kusut; ada 75 T dana untuk kesehatan yang baru bisa disalurkan satu koma lima sekian persen, wah saya merepet.

Ada toh duitnya! Kenapa butuh lama sekali dipakai belanja alat tes dan apd, trus itu dokter dan perawat di daerah masih harus menguras kocek sendiri buat beli masker dll.

Suami saya lalu menepuk bantal di sampingnya.

Sini tidur. Ndak usah dipikir, bukan urusanmu itu...

***

Seandainya ya anggaran dana kartu pra kerja yang 5,9 trilyun itu dibagilah sedikit kepada bisnis-bisnis kecil dan menengah kelas umkm, sekadar penyambung modal produksi dan supaya ide-ide kreatif serta semangat berusaha tidak menyurut. Tapi ya mau sumbang saran juga, belum tentu ada yang mendengarkan.

Kemarin teman di Jawa bertanya soal keadaan di Makassar bagaimana? Tak sanggup saya menjelaskan, walau punya beberapa data dan bocoran, saya sudah lelah duluan. Saya cuma jawab; saya sedang berjuang keras terlihat selalu gembira.

Baru kemarin berkirim kue ke seorang pelanggan, saya pikir beralamat hotel itu pelanggan yang berkunjung dari luar kota. Ternyata perawat yang sedang isolasi mandiri. Bahkan untuk dirinya sendiri, jatah dirawat di rumah sakit sudah tidak cukup.

Teman dokter yang saya bilang mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli perlengkapan perangnya sendiri, itu juga bukan karangan. Saya lihat sendiri nominalnya.

Barusan lihat berita di DKI kisruh soal PPDB yang aturannya konon sangat merugikan (ada 4 anak melakukan percobaan bunuh diri, satu tewas), sebagai orang tua ya pasti ikut sedih.

Salah urus sana sini ini memang percis benang kusut. Bingung mau percaya siapa, lebih bingung lagi harus menaruh harapan kepada siapa. Dan di media sosial itu pun orang-orang sama kusutnya. Ya yang galau, yang pura-pura normal, yang saling tuding, yang mulai capek mengritik... semua pakar sepertinya pun sudah mengeluarkan semua ide jurus dan taktik, kita rakyat jelata hampir semuanya sama mengidamkan; ketenangan dan keselamatan jiwa maupun raga.

Saya bukan ndak kasihan lho Pak, lihat raut wajah Pak Presiden sampai videonya saya matikan padahal belum habis saya tonton. Saya tahu beban kepala negara itu jauh banget dari remeh dan ampun-ampunan ribet urusannya. Cuma mendengar Bapak berkesimpulan asisten-asisten Bapak tidak sedang berada di perasaan 'tidak normal' yang sama, kok rasanya payah banget to Pak?

Ini berdasar logika saja biar kata dulu saya ada di barisan cebong, saya percayanya begini:

Misalnya analoginya dapur saya. Kapan kualitas produk buruk, pelanggan tidak mau tahu lagi soal saya tetiba curhat tentang Sumi yang kerja asal-asalan, Titin yang lambat, Nia yang ngeyel, Lina yang salah oles apa Mila kurang teliti. Misalnya begitu.

Yang orang tahu, saya yang paling bertanggung jawab mengatur kestabilan dapur. Saya yang bertanggung jawab kalau hasil produksi tidak mencapai standar. Saya yang punya kuasa mengeluarkan aturan dan sanksi, saya yang punya tanggung jawab mengukur target dan merencanakan langkah-langkah pencapaian.

Saya wajib menguasai medan peperangan saya maka saya sudah seharusnya bisa mengendalikan setiap gerak dan kinerja pasukan saya.

Nanti ada delegasi tugas, iya benar. Tapi tetap saya yang pasang badan semisal pendelegasian tugas itu gagal.

Asisten yang saya pekerjakan kerjanya buruk? Ya berarti ada yang keliru dengan standar kerja atau memang asistennya lemah. Kenapa saya bisa mempekerjakan asisten yang tidak bisa bekerja secara baik? Ya, saya harus sadar diri bahwa mungkin saya memang pernah lalai atau kurang teliti pas memutuskan mengangkat si A menjadi asisten.

Tahu darimana kinerja asisten A buruk? Ya dari evaluasi. Lalu biasanya kelihatan di prosesnya ada yang nggak jalan sesuai harapan atau ada tujuan-tujuan yang gagal dicapai. Bahkan timbul kerugian karenanya.

Antisipasinya?

Ya suruh si asisten perbaiki kinerjanya, kasih target dan sanksi yang jelas atau ganti orangnya. Kalau mereka bingung ada dua sebabnya. Mereka memang tidak mampu memahami instruksi saya atau sayanya yang gagal membuat instruksi yang mudah mereka pahami.

Tapi harus dikerjakan dengan cepat kalau risiko yang dihadapi juga besar. Nggak pakai lebay, menyesali ini itu, tunggu keajaiban dulu, dst. Supaya apa? Supaya kerugian yang ditanggung nanti bisa diminimalisir. Supaya tidak mengakibatkan kekecewaan yang lebih mendalam pada orang-orang yang saya layani.

Apalagi kalau macam urusan pandemi ini. Bidang ekonomi minus, bidang pendidikan tersendat, bidang kesehatan semaput. Banyak orang mati sia-sia. Kacau tenan.

Bukan saya ndak kasihan sama beban seorang pemimpin. Tapi saya lebih pilih jatuh kasihan sama nyawa banyak rakyat dan nakes yang jadi taruhan. Bukan kasihan lagi, sedih sudah sampai tingkat merana.

Besok tanggal gajian, saya masih sanggup bayar gaji asisten. Nggak tahu teman-teman lain. Mudah-mudahan juga masih sama bertahan, masih sama kuat semangatnya. Belakangan saya suka minta didoakan sama sahabat dan pelanggan, supaya saya kuat nyetok beras untuk dikasihkan ke driver ojol. Minimal lihat ekspresi sumringah mereka, saya bisa mencuri sedikit semangat dari mereka yang juga napasnya sudah kembang kempis.

Sebenarnya saya dan teman-teman lain bisa mencari satu dua ide untuk saling membantu dan menyelamatkan, masalahnya kalau contoh yang di atas babak belur kayak sekarang, rakyat jelata dengan kemampuan seadanya macam kami ini jelas jadi keder.

Yang punya kuasa atas anggaran trilyunan saja nggak signifikan hasilnya, apalagi kami yang modalnya cuma kuota.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Tuesday, June 30, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: