Memahami Dunia Menulis, Teks Dan Konteks

ilustrasi

Oleh : Endang Rukmana

Selain ejaan dan kemampuan bertutur, apa lagi yang menjadi acuan saya saat menentukan sebuah karya layak tayang? Keakuratan data dan kandungan pesannya--baik yang tersurat, maupun tersirat!

Keakuratan data sangat penting untuk menjaga kepercayaan pembaca pada cerita yang kita buat. Selain itu juga mencegah kita menjadi agen penyebar hoax.

Di group menulis yang saya ikuti misalnya, ada cerita yang di dalamnya menyebutkan bahwa Bir Pletok dapat menyembuhkan kanker rahim. Saya baru tahu. Maka saya tanyakan kepada penulisnya? Seyakin apa kamu pada informasi tersebut? Adakah referensi ilmiahnya? Akan sangat berbahaya jika pembaca kita mendapatkan informasi yang salah.

Di cerpen lain ada penulis yang mengetengahkan adegan seorang anak yang nekat duduk sebangku dan minum dari botol yang sama dengan temannya yang baru sembuh dari Hepatitis B, meski telah dilarang gurunya.

Maksud si penulisnya sangat mulia. Kedua anak yang duduk sebangku ini bersahabat dan mereka berbeda agama. Ceritanya jelas membawa pesan kemanusiaan. Tapi sebagai mentor saya perlu bertanya, sejauh apa penulis mencari informasi tentang Hepatitis B? Apakah menular dan dalam kondisi seperti apa sudah tidak lagi menular? Jangan sampai pembacanya mendapatkan informasi keliru yang bisa sangat fatal dampaknya.

Berhati-hatilah saat menulis informasi dan isu-isu sensitif. Bekali dirimu dengan banyak referensi sebelum kamu yakin mampu menghadirkannya menjadi sebuah cerita.

Selanjutnya tentang pesan yang dikandung dalam sebuah cerita. Seorang penulis adalah agen perubahan yang hendaknya selalu mewartakan sesuatu yang baru, yang segar, yang selama ini sebenarnya ada, tapi tidak terlihat oleh orang kebanyakan. Setidaknya ada kebaruan dari cara memandang atau menyajikannya.

Penulis harus punya keberanian mewartakan hasil perenungannya atas sebuah gagasan atau realitas sosial. Bang Sahat Siagian salah seorang yang kerap memikul salib pewartaan kebaruan ini dalam tulisan-tulisan tentang agamanya. Hasilnya, tentu saja, sejumlah orang mencemoohnya--baik karena ketidakpahaman ataupun ketidaksepahaman.

Selain soal kebaruan, menulis kerap menjadi sarana untuk mewakili minoritas, mereka yang teraniaya, yang terpinggirkan.

Buat apa bersuara untuk mayoritas dan gagasan-gagasan yang sudah mapan? Mereka tidak membutuhkannya!

Yang membutuhkan kita adalah mereka yang takut untuk bersuara, mereka yang tidak diperhitungkan, mereka yang dicap "para pendosa" oleh masyarakat yang sok tahu dan sok suci. Kalau kita hendak menulis tentang orang-orang malang ini, pastikan kita menulis untuk kemanusiaan, bukan untuk sebuah penghakiman dan pendiktean. Jangan sampai tulisan kita (baik disengaja atau tidak disengaja) malah menambah informasi yang salah dan stigma negatif pada minoritas.

Contoh, kalau kita menulis tentang LGBT/Syia'ah/Ahmadiah dan kelompok minoritas lainnya, pertama pastikan kita sudah punya referensi memadai terkait topik tersebut. Misalnya untuk LGBT, sudahkan anda mengacu pada ketetapan WHO?

Kedua, pastikan tulisan kita tidak untuk menghakimi dan mendikte hidup mereka. Apa contoh menghakimi dan mendikte? Kita berceramah dan menyuruh mereka bertaubat! Cukuplah Pak Pendeta dan Pak Haji saja yang merasa berhak mendikte hidup orang lain.

Percayalah, tanpa kita hakimi dalam tulisan, kelompok minoritas ini sudah sangat tertekan dan termarginalkan. Waria, misalnya, adalah kelompok yang paling sering mengalami perundungan dan penghakiman jalanan. Tak perlu kita menambah stigma negatif dan masalah untuk mereka. Tak perlu.

Keakuratan data, kebaruan gagasan dan pesan-pesan kemanusiaan inilah unsur-unsur yang akan menjadikan karya kita istimewa!

Saya misalnya, kerap menulis tentang kejombloan saya yang haqiqi dan melegenda ini.

Apa?

Kelen pikir jomblo tidak termasuk kelompok yang terpinggirkan, teraniaya dan tercakiti? 

Sumber : Status Facebook Endang Rukmana

Monday, June 17, 2019 - 21:45
Kategori Rubrik: