Memahami Dalam Perbedaan

Oleh : Habil Akhmad Alkasfahany

Pagi ini saya menemukan sebuah berita yang sedang gencar disampaikan oleh media cetak, elektronik dan juga social media di dunia maya. Pemerkosaan. Menurut saya pemerkosaan adalah tindakan yang amat biadab dan tidak berprikemanusian. Anda bisa bayangkan beberapa langkah yang dilakukan oleh seorang atau kelompok pemuda yang melakukan tindakan pemerkosaan dengan korban anak-anak, remaja atau pun wanita dewasa. Jika anda sanggup membayangkannya maka saya sendiri tidak sanggup untuk membayangkannya karena saya menganggap bahwa tindakan kriminalitas seperti pemerkosaan melebihi tindakan pemukulan dengan senjata tajam.

Kejahatan dengan melakukan tindakan pemerkosaan sangat melukai derajat kemanusiaan dan merendahkan integritas manusia sebagai makhluk yang terhormat dan patut dihargai. Pemerkosaan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun begitu pula dengan upaya untuk melakukannya. Keduanya harus mendapatkan hukuman yang berat dan tidak bisa dibandingkan dengan jenis kejahatan apapun. Pengaruh negative dan gelar (telah diperkosa) akan terus melekat pada diri korban sepanjang hidupnya dan bahkan korban akan menngalami dampak traumatic yang mengerikan setiap kali bertemu dengan pria atau bahkan ketika memasuki dunia pernikahan. Korban akan merasa bahwa dirinya telah ternoda apalagi di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi keperawanan. Dimana keperawanan menunjukkan tingkat pergaulan dan keliaran seorang wanita pada masyarakat kita. Pemerkosa bukan hanya mengoyak kehidupan korban secara psikologis dan fisik tetapi juga menistakan nilai-nilai kemanusian yang sudah tertanam dalam masyarakat Indonesia.
Penderitaan yang begitu berat sepanjang hanyat akan terus diterima oleh korban sementara hukuman yang diterima oleh pelaku terasa begitu ringan selama ini.

Pelaku tindak kejahatan pemerkosaan selayaknya mendapatkan hukuman yang dapat dirasakan seumur hidupnya dan publikasi atau hukuman yang membuat dirinya dikenal di sepanjang sisa hidupnya sebagai pemerkosa. Misalnya saja kebiri seumur hidup, potong kelaminnya hingga habis, diberi tato di pipi kanan dan kiri yang menandakan bahwa dirinya adalah pemerkosa. Dan saya kira ketika kedua kakinya dibuat cacat seumur hiduppun maka itu tidaklah cukup apalagi ketika korban pemerkosaan hingga dibunuh. Maka selayaknya pemerkosa baik secara individu ataupun berkelompok yang menyebabkan korban terbunuh harus mendapatkan hukuman mati. Dengan mengabaikan hak asasi manusia bagi pelaku.

Saya sangat setuju dengan apa yang sudah disampaikan oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla yang mengatakan bahwa hukuman mati sebagai hukuman yang paling maksimal bagi pelaku tindak kejahatan pemerkosaan dengan tidak memperhatikan HAM. Hukuman tersebut akan menimbulkan efek jera bagi calon-calon pelaku tindak kejahatan pemerkosaan. Disamping itu pemerintah juga melakukan upaya-upaya pencegahan dengan menanamkan toleransi, nilai-nilai pancasila serta pendekatan-pendekatan budaya yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat setempat.

Saya juga tidak menafikan sebuah pendapat yang mengatakan bahwa penerapan syariah Islam atau hukum Islam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai solusi yang justru akan menimbulkan konflik baru yang jauh lebih besar. Ada kelompok tertentu yang meyakini bahwa kemunduran moralitas pemerkosa sebagai kemunduran moral masyarakat secara umum. Mereka ini mencoba secara terus menerus menawarkan berdirinya khilafah yang dilandaskan pada bungkus Islam yang nampak apik. Numun justru menimbulkan begitu banyak konflik yang berkepanjangan dan berdarah-darah. Cukuplah Syria saja yang menjadi sarang pertempuran ISIS. Biarkan Indonesia ada dengan karakter masyarakatnya yang asli Indonesia, masyarakat yang toleran, saling menghormati, saling menyayangi, saling berbagi, mampu hidup berdampingan dengan berbagai jenis latar belakang masyarakat yang majemuk.

Biarlah Indonesia menjadi bangsa yang terus mengenal dan menerapkan budaya lokal yang kaya dengan nilai-nilai kebersamaan, prinsip saling berbagi, peduli, cinta terhadap lingkungan dan saling asah, asih dan asuh. Jangan biarkan budaya asing yang diselimuti dengan agama justru menebarkan kebencian dari dalam, jangan biarkan budaya yang mudah menyalahkan dan mengkafirkan terus beredar di bumi Nusantara ini. Biarlah kita hidup dibawah perinsip Bhineka Tunggal Ika. Sebuah prinsip yang mengajarkan untuk saling memahami dalam perbedaan. Semboyan leluhur yang sekarang ini harus terus didengungkan untuk melindungi bumi pertiwi dari pengaruh asing yang mempunyai berbegai macam topeng yang indah.
Follow instagram gambarwow yaaaa** (ak)

Sumber : Facebook Habil Akhmad A

Tuesday, May 31, 2016 - 10:45
Kategori Rubrik: