Memahami Agama Lain

ilustrasi

Oleh : Arif Maftuhin

Suatu ketika, saya berdua saja di mobil dengan anak saya yang masih SD. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin Anda juga pernah menerimanya. Apakah orang Kristen itu masuk surga? Apakah orang Kristen itu kafir?

Anda tahu apa reaksi pertama saya? Apa yang paling cepat muncul di benak saya bukan jawaban atas pertanyaan itu, melainkan juga pertanyaan: bagaimana cara terbaik menjawabnya.

Kita yang belajar ilmu agama tentu tahu betapa rumitnya pertanyaan itu secara teologis. Lalu kita yang biasa hidup "normal", tahu betapa sensitifnya implikasi jawaban pertanyaan itu terhadap relasi kemanusiaan kita.

Saya akhirnya memilih menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan-pertanyaan analogis saja. Analogi dengan memilih pakaian, analogi dengan perjalanan kami di kendaraan itu untuk mencapai tujuan. Dst.

Saya tidak akan cerita detil jawaban itu di sini, sebab poin saya adalah: bahwa di mana pun kita berada, cara kita memahami agama lain itu tidak boleh berbeda. Di ruang private atau publik, cara pandang kita terhadap agama lain itu WAJIB konsisten.

Kalau iman itu adalah kesesuaian antara yang kita yakini, ucapkan, dan amalkan, maka cara pandang kita terhadap agama lain harus jadi bagian utuh dari iman kita.

Jika saya percaya ada ruang private dan publik dalam memandang agama lain, tentu saya akan menjadi Ustad Soto Madura (jare Itsnan Hidayat) dalam menjawab pertanyaan anak saya. Tetapi tidak. Jawaban saya ke anak saya sama persis dengan cara pandang saya terhadap agama lain.

Saya ingin anak saya teguh dalam iman Islam seteguh hormatnya kepada iman teman-teman agama lain. Oh, apalagi Kristen, agama yang lebih tua dari Islam, jika Anda tidak mau mengakuinya sebagai saudara kandung.

Sumber : Status Facebook Arif Maftuhin

Tuesday, August 20, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: