Meluruskan Tesis Ngawur Rizieq Tentang Piagam Jakarta

Ilustrasi

Oleh : Fritz Haryadi

Membahas penghapusan 7 kata dari Piagam Djakarta dalam tesisnya, Rizieq Shihab tidak sekalipun menyebut nama Hadhrotussyaikh Hasyim Asy'ari.

KH Wahid Hasyim ditempatkannya seolah-olah sebagai satu-satunya perwakilan "nasionalis Islami", dalam sidang PPKI 18 Agustus 1945, dengan menyebut Soekarno-Hatta-Ahmad Soebardjo sebagai "nasionalis muslim sekuler", dan AA Maramis sebagai "nasionalis Kristen sekuler". 
Tesis kok enak betul nyebut orang sekuler asal njeplak saja.

Rizieq juga menempatkan KH Wahid Hasyim seolah-olah tidak diberi andil dalam sidang PPKI, dengan menyebut sidang itu sebagai "amat mendadak" dan tidak dihadiri oleh KH Wahid Hasyim (mengutip E.S. Anshari, 1997). 
Padahal menyebutkan absennya KH Wahid Hasyim itu tidak berarti apa-apa dalam mendukung klaim ini, karena toh perundingan tidak cuma terjadi dalam sidang saja, namun sejak BPUPKI sebelum PPKI juga sudah intensif berbagai pertemuan panitia-panitia kecil.

Sama sekali tidak disinggung Rizieq bahwa penghapusan 7 kata itu bisa terjadi tidak lain atas restu Hadhrotussyaikh, dan dengan demikian atas restu NU, sebagaimana sudah menjadi posisi historis resmi NU.

Rizieq menyebut sidang PPKI sebagai "campur tangan asing", jampi-jampi standar Bani Retardiyyah. 

Klaim itu diberinya dua dasar : pertama dengan menyebut BPUPKI sebagai bentukan Jepang, dan kedua dengan menyebut Jepang sebagai penuntut dihapusnya 7 kata, dengan didatanginya Hatta oleh utusan laksamana Maeda sebelum sidang (mengutip buku Hatta "Sekitar Proklamasi...", 1969). 
Padahal persetujuan Jepang atas BPUPKI itu tidak terlepas dari upaya diplomasi tokoh-tokoh nasionalis termasuk diantaranya NU. 
Tuntutan penghapusan 7 kata itu juga datangnya dari AA Maramis, anggota sah Tim Sembilan, dengan pernyataan yang sudah masyhur bahwa umat Kristen tidak akan bergabung dengan Indonesia kalau 7 kata tidak dihapus.

Sudah menjadi posisi historis resmi NU juga bahwa semata fatwa Hadhrotussyaikh-lah yang mendaulat PPKI untuk menyetujui usulan AA Maramis, bahwa penghapusan 7 kata itu justru adalah sunnah Rasulullah SAW; merujuk riwayat pada saat Rasulullah berunding dengan perwakilan kaum di luar Islam maka beliau menghapus namanya yang tertulis "Muhammad Rasulullah", diganti dengan "Muhammad bin Abdillah".

Sudah masyhur pula di kalangan warga NU, jawaban Hadhrotussyaikh kepada M. Natsir yang mempertanyakan fatwa beliau tersebut : "Karena akan datang suatu masa dimana orang Kristen akan menolong kita."

Pantas saja kuliah di Malaysia. Kalau di sini entah bagaimana nasibnya "tesis" ini.

Sumber : Status Facebook Fritz Haryadi

Thursday, February 8, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: