Meliuk-liuk Ditengah Pandemi

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Dari data yang tersaji selama 10 hari terakhir, agaknya kita segera meninggalkan kawasan seribu untuk berada di kawasan duaribu. Itu pun belum mencapai puncak karena, perkiraan saya secara matematikal, masih berlanjut ke kawasan tigaribu.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Sudah cukuplah orang-orang gila berbusa-busa melontar taksiran tak berdasar, yang mengemuka entah karena sudah lama tak kelonan dengan pasangannya atau menderita sembelit berkepanjangan.

Dalam Alkitab ada tertulis, "berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya". Kalau 'tidak melihat' dalam ayat tersebut disamakan dengan tak tahu atau tak paham, maka saya berdiri di depan menantangnya.

Ketidaktahuan, ketidakpahaman, ketidakmengertian, adalah pemicu kepanikan. Sebab terlalu sering dalam ketidakmengertian kita takluk kepada kepercayaan palsu dan, akhirnya, ketakutan tak berdasar. Histeria adalah ladang subur bagi penyakit mana pun.

Orang-orang waras memetakan persoalan dan menemukan pemicunya. Dari sana ia menyusun langkah penghindaran agar persoalan tak menghampir. Kalau pun terhampir dia perlu lebih dulu tahu antitesis dari persoalan tersebut dan buru-buru berpindah kebiasaan dan penguatan ke sana.

Covid-19 sudah jadi hantu, jadi momok. Orang dirubung kecemasan karena tak punya pengetahuan memadai. Contoh sederhana, penanda Covid dirumuskan secara gampangan: demam, batuk, kelelahan (fatigue). Lalu ketika seseorang ditemukan tewas dan ditetapkan sebagai pasien terinfeksi covid padahal 3 tanda itu tak tertemukan--cuma diarrhea doang, kita terkejut, blingsatan. Tak satu saya dengar para ahli kesehatan pernah ngomong bahwa diare kadang ditemukan sebagai simptom tunggal pada pasien yang terinfeksi Covid-19.

Beberapa teman saya leave grup WA cuma karena stress sendiri membaca aneka posting di sana yang lebih mirip racauan orang sakaw, gak pakek otak, produk kusut agama, dalam membincang Corona. Kegemaran kita sebagai orang tolol menshare aneka berita adalah pupuk terbaik bagi tumbuh-mekarnya kecemasan.

Kehidupan tidak berakhir dengan dimasukinya kawasan pertumbuhan 2000 kasus Covid baru per hari. Tak juga ketika angka 3,000 atau 4,000 menghampir. Tak ada angka-angka yang berkuasa membunuh kita. Kecemasanmu, kepanikanmu, kehilanganmu akan siapa dirimu, adalah pembunuh utama. Begonya, ini tak dibahas para agamawan. Mereka cuma genit, bak futurolog ndesit, memetakan gerak peradaban selanjut oleh Corona.

Karena itu, mengertilah, pahamilah, berkuasalah atas segala sesuatu di depanmu. Tapi juga ketahuilah bahwa berkuasa tak sama dengan menguasai. Berkuasa, itu abadi. Menguasai, itu temporal dan gombal.

Saya bermaksud melontar tulisan serial sepanjang Agustus tentang Corona dan problem utama kesehatan manusia. Biasanya saya buka pustaka untuk menggali bahan. Kali ini pun begitu juga tapi ditambah dengan serial wawancara. Beberapa pakar kesehatan raga mau pun jiwa akan saya dekati.

Wawancara berlangsung dalam 2 format: tertulis dan visual. Setiap kali, sebelum video wawancara saya lansir, didahului dengan tulisan yang merangkum wawancara tertulis. Itu bertujuan untuk menyiapkan pemirsa dengan pengetahuan cukup ketika memirsa video wawancara.

Untuk episode pertama saya telah memilih dr. Theresia Monica Rahardjo. Dokter Mon, demikian panggilan akrabnya, juga telah bersedia. Sambil melakukan wawancara tertulis, saya juga akan mengirim beberapa pustaka atau tautan kepadanya agar apa yang saya tanyakan lebih jelas terpahami sehingga terhasilkan jawaban jernih.

Saya tak tertarik jadi interviewer kenés, yang kerjanya mengadili interviewee. Tugas saya, sebagai pewawancara, adalah menyembulkan narasumber--bukan membunuhnya, menemukan intisari gagasannya untuk mengemuka.

Saya belum tahu apa judul tulisan serial ini. Wawancara tertulis dengan dokter Mon akan saya mulai besok. Pekan depan tulisan tentangnya sudah bisa Anda nikmati.

Nantikanlah. Kunyahlah. Menjaditahulah.

Dan berkuasalah.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, July 31, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: