Melintas Batas Agama

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Pagi ini istri saya lapor bahwa Bu Budi sudah antar amplop lebaran utk kami. Ibu dan Bapak Budi Sugianto adalah tetangga kami yg sdh 25 thn berinteraksi dan bersosial bersama tanpa batas, mereka adalah penganut Katholik taat, Pak Budi sdh jadi asiisten Romo. Dua tahun yll kami siapkan waktu berlibur ke Eropa bersama sekalian mengantar mereka ke Basilica Roma.

Ritual saling menghadiahi itu sdh begitu lama, saat Natal kamilah yg mengantar parcel utk mereka. Tidak ada rasa berkurang dalam memberi, dan kami merasakan kebahagiaan yg sama.

 

Kami adalah penganut islam rahmatan lilalamin, bukan rahmatan lil muslimin. Memeluk agama adalah kebebasan, lakum dinukum waliadin, agamaku, buatku, agamamu, buatmu. Bahkan dalam islam menjalankan ritual beribdah dibebaskan, lana akmaluna walakum akmalukum. Amalmu untukmu, amalku untukku. Dalam bilangan mencapai Allah bila dinilai dlm bilangan 10, saya bebas memakai perangkat angka yg mana saja, bisa 1+9, 8+2, dst. Tidak ada keharusan 5+5. Karena dalam mazhab saja islam ada 4. Semua berbeda tapi boleh dipakai, itulah benang merah dalam memakai angka bilangan diatas. Karena hubungan dgn Tuhan sangatlah inrividual, tidak ada privacy yg bisa di intervensi.

Bilangan kiasan ini berlaku juga utk penganut agama, silakan keinginan utk mencapai Tuhan memakai angka yg mana. Sampai atau tidak bukan urusan kita. Sehingga menjadi "lucu" manakala ada penganut agama yg takut dgn agama orang lain, bahkan bisa ada tindakan anarkis atas kegiatan agama tertentu. Lucu nya makin buat perut mual kalau tindakan hukumnya jadi abu-abu, dan MUI jadi bisu tuli.

JANGAN KOREKSI IBADAH ORANG LAIN KALAU KITA TAK PERNAH INTROSPEKSI ATAS DIRI KITA, KARENA AKIBATNYA BISA MEMBUAT KONTRAKSI KEBERAGAMAAN KITA.

Ritual ribut ngurusi ibadah orang lain ini seperti budaya, saat Natal ribut dgn Sinterkelas, saat Ramadhan ribut dgn warung makan, bahkan saat Maulid Nabi SAW ribut soal bid'ah. Sekarang lagi ada wabah ribut dgn takmir masjid karena maksa mau berjama'ah. Akhirnya kita melihat, sebenarnya manusia jenis inilah yg menjadi super wabah yg sebenarnya. Virus jenis ini di lahirkan dari proses salah mengerami. Baca kitab suci hanya di kulit ari, bahkan agamanya cuma nyantol sekenanya, kapan butuh diambil, kapan tidak hanya di letakkan.

Kasus ketua RT yg melarang kebaktian baru di "selesaikan" dgn meterai, sekarang muncul kasus perundungan rumah makan, ritual kok kebejatan, bukan kebaikan. Ntar penegak hukumnya datang dgn "bijak" mendamaikan, pakai kebiasaan nempelkan meterai 6.000an. Dan hebatnya meterai itu berlaku hanya utk penindasan yg dilakukan "oknum' yg beragama islam, hal yg sama tidak berlaku utk agama lain. Meliana yg meminta suara azan di kecilkan saja kena hukuman 18 bulan plus, patung di Vihara harus di turunkan. Ini kan namanya kesetanan dibalut keberagamaan.

Terus, sampai kapan kok ketololan kebablasan dan di terus-teruskan.

Ingat statement Filosof Prancis, Renan kepada Syekh Muhamamad Abuh di Mesir. 

TAK BISA DI SANGKAL ISI AL-QUR'AN DGN SEGALA SUPER KEBAIKAN DAN NABI MUHAMMAD ADALAH MANUSIA TAULADAN YG TAK DI RAGUKAN. NAMUN, TUNJUKKAN SATU SAJA KOMUNITAS MUSLIM YG ISLAMI.

Jawaban ini terbukti dalam survey yg dilakukan George Washington University 5 thn yll ttg negara yg menjalankan hidup secara islami. Jawabnya, jreng..dari 200 negara yg di survey, Selandia baru adalah juaranya. Dan Indonesia menduduki ranking 140, jajaran negara islam lainnya hanya bertengger di ranking 100-200.

Sudah beberapa kali saya menulis ttg hal ini. Case ini utk perenungan, khususnya diri saya dan keluarga. Dengannya saya suka kalimat bijak dari ulama. JADILAH ENGKAU SBG MANUSIA, SEBELUM BERAGAMA. AGAR AGAMU TAK SIA-SIA. 

Simpati saya buat keluarga Boru Manulang, yg sedang berjuang menentukan nasibnya. SEMOGA TIDAK HANYA DI PHP PAKAI METERAI.

HORAS !!!

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 

 

Sunday, May 3, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: