Melayani

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Pelayanan/melayani/pelayan/kepelayanan adalah kata yang acap digunakan di lingkungan Kristen/gereja selain kata mengasihi. Kebanyakan orang Kristen akan berpikir bahwa yang dimaksud dengan melayani ialah melayani Tuhan. Kalau ada seorang teman sedang tergesa-gesa berjalan membawa gitar, lalu kita bertanya,”Mau ke mana?”, maka dijawabnya,”Pelayanan!”. Seorang penatua menghadiri rapat Majelis Jemaat persiapan ibadah disebut pelayanan.

Bagi mereka bermain gitar di gereja, rapat persiapan ibadah (selebrasi) adalah pelayanan, karena mereka melancarkan orang-orang untuk beribadah. Pelayanan/melayani diartikan sebagai membantu kelancaran ibadah atau persekutuan doa. Oleh karena pelayanan/melayani, maka si pelaku tidak perlu menuntut upah/honor. Namun ada juga yang mengartikan melayani ialah mengerjakan sesuatu yang konkret untuk menolong sesama manusia. Pelayanan ini meliputi segala gatra etik.

Dua acuan (model) pelayanan di atas kerap menjadi benturan. Di satu sisi orang Kristen sangat menekankan gatra ritual sehingga gatra etik ditinggalkan. Pelayanan hanya terbatas dalam ibadah selebrasi. Di sisi lain ada yang menekankan gatra etik sehingga ada yang mengecamnya sebagai propaganda Injil sosial. Kalau pelayanan/melayani seperti kedua acuan di atas, maka kita justru akan menjauh dari apa yang dimaksudkan di dalam kitab-kitab Injil.

Kalau kita membaca Markus 10:35-45 ada dua bersaudara, Yakobus dan Yohanes, yang adalah murid-murid Yesus, secara bergerilya minta kepada Sang Guru agar mereka diberi posisi empuk. Permintaan kedua murid itu tidak digubris oleh Yesus. Melihat kelakuan Yakobus dan Yohanes kontan kesepuluh murid lainnya marah. Di perikop (passage) itu Yesus untuk ketigakalinya memberitahukan tentang penderitaan yang bakal dialami-Nya. Apakah memang kesepuluh murid Yesus itu marah karena Yakobus dan Yohanes tidak mau ikut prihatin bersama Yesus? Ternyata tidak! Kesepuluh murid itu marah, karena melihat Yakobus dan Yohanes main pintu belakang. Mereka tidak sudi akan diperintah oleh Yakobus dan Yohanes.

Yesus memanggil mereka semua untuk menjungkirbalikkan wawasan mereka. Mau jadi besar? Boleh! Mau jadi pejabat? Sila! Mau jadi kaya? Ambil! Yesus tidak melarang itu semua. Kata Yesus, “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”. Dengan kata lain bukan berpikir untuk diri sendiri, tetapi berwawasan pada kesejahteraan orang lain.

Dalam perikop Markus 2:13-17 kita melihat Lewi, si pemungut cukai, golongan yang tidak disukai oleh orang Yahudi. Yesus memanggil Lewi dan ia langsung mengikuti-Nya. Bukan itu saja, Yesus juga makan bersama dengan Lewi dan kawan-kawan sejawatnya yang disebut sebagai “orang berdosa itu”. Perbuatan Yesus ini tentu mengundang pertanyaan,”Kok mau-maunya sih Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa?”. Dengan enteng Yesus menjawab,”Bukan orang sehat memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Mengapa Yesus tidak bergaul dengan “orang benar”? Siapa bilang? Dalam bagian lain Perjanjian Baru Yesus juga menerima undangan untuk berkunjung dan makan bersama dengan orang Farisi. Namun di sini Yesus mau menekankan bahwa Ia mendahulukan mereka yang benar-benar memerlukan, mereka yang berada dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, dan mereka yang tidak mendapat pertolongan.

Melayani berarti mengubah wawasan untuk mengarahkan diri kepada kepentingan orang lain. Siapakah “orang lain” itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang dalam keadaan tak berdaya. Lho, bukankah Yesus datang untuk semua orang? Benar! Justru itulah Ia datang untuk membuat manusia peka dan mengarahkan perhatian kepada mereka yang tak berdaya.

Kita melihat satu perikop lagi dari Injil Markus, yaitu Markus 8:1-10. Perikop ini sering tenggelam dengan cerita Yesus memberi makan kepada 5.000 orang yang terdapat dalam Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17, dan Yohanes 6:1-13. Ada perbedaan hakiki pelayanan Yesus pada Markus 8:1-10 dan keempat perikop tersebut. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi geografis. Pemberian makan kepada 5.000 orang terjadi di wilayah Palestina, yaitu di Galilea, sedang pemberian makan kepada 4.000 orang (Mrk. 8:1-10) terjadi di luar wilayah Palestina, yaitu Dekapolis. Daerah itu banyak dihuni oleh orang Grika perantauan.

Para murid Yesus sebelumnya sudah menyaksikan bagaimana Ia memberi makan 5.000 orang. Suasana yang mirip terjadi juga di Dekapolis, tetapi para murid tetap saja tidak peka. Mereka berpikir Yesus tidak akan memberi makan, karena orang-orang itu bukan orang Yahudi. Ternyata mereka keliru! Yesus memberi makan kepada 4.000 orang itu atas dasar belas kasihan, yang bukan sekadar kasihan. Orang-orang itu dikenyangkan-Nya. Jelas sekali di sini Yesus melayani tanpa pamrih. Tidak ada cerita tentang pertobatan atau mereka menjadi pengikut Yesus. Malahan setelah mereka kenyang Yesus menyuruh mereka pulang (ay. 9).

Dari teladan pelayanan Yesus semestinya gereja melayani melewati batas golongan sendiri dan tanpa strategi untuk menjadikan mereka anggota kelompok. Pelayanan mestilah serbacakup. Pelayanan serbacakup mestilah menyentuh orang yang tidak seagama seperti yang telah Yesus lakukan.

Gereja mesti membuat Kristen lebih membumi, lebih mengikuti akal sehat. Gereja mesti lebih peduli pada kebutuhan nyata manusia, membuat kehidupan lebih manusiawi, lebih rendah hati untuk tunduk pada norma-norma etika. Beragama bukanlah untuk urusan vertikal saja, yang menekankan gatra ritual dan kemurnian ajaran. Keluhuran ajaran agama mestilah dipraktikkan secara nyata untuk mengembangkan wawasan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kemiskinan, keadilan sosial, demokrasi, ancaman terorisme dan korupsi, dlsb.

Melayanilah seperti Yesus melayani.

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Thursday, January 31, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: