Melayang Perayaan Valentine's Day

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Banyak orang tua, tokoh agama, sekolah, bahkan pemerintah daerah melarang perayaan Hari Valentine. Kenapa? Alasannya banyak. Ada yang menuduh ini perayaan orang kafir. Ini perayaan untuk menyesatkan umat Islam. Bahkan, ini perayaan yang merupakan misi kristenisasi. Alasan lain? Ini tak kalah mengerikan. Hari Valentine kabarnya adalah perayaan untuk memperkenalkan seks bebas. Konon banyak remaja yang merayakannya dengan berhubungan seks. Konon lagi, banyak anak gadis yang rela diperawani pada perayaan ini.

Benarkah itu semua? Entahlah. Di masa remaja saya merayakan Hari Valentine kepada gadis-gadis, berharap mereka mau jadi pacar saya. Tapi sampai masa remaja itu lewat, tak satupun dari gadis-gadis itu yang mau jadi pacar saya. Teman-teman saya pun setahu saya hanya sebatas itu. Tapi bukankah memang ada perilaku remaja yang menjurus pada hubungan seks bebas? Kembali ke masa remaja saya, seingat saya ada 2 kawan perempuan yang hamil saat masih sekolah. Tapi lucunya, mereka ini bukan anak-anak yang aktif merayakan Hari Valentine.

Terlepas dari soal pengalaman masa remaja saya, seharusnya kita melihat dulu bagaimana hubungan soal-soal di atas dengan Hari Valentine. Mengapa remaja pacaran? Mengapa mereka berhubungan seks? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menurut saya akan lebih fundamental untuk mencari solusi atas persoalan, ketimbang menuding Hari Valentine sebagai biang kerok.

Dari pengalaman hidup dan pengamatan subjektif saya menyimpulkan bahwa berbagai persoalan remaja pada umumnya disebabkan oleh rapuhnya hubungan antara anak dan orang tua. Formatnya hadir dalam berbagai wujud. Ada orang tua yang tidak paham fondasi pendidikan anak, sehingga tidak tahu bagaimana memperlakukan anak yang sedang tumbuh. Banyak keluarga yang anak-anaknya tumbuh seperti rumput liar, orang tua tidak hadir merawat mereka. Ada pula orang tua yang gagal mengenali potensi anak, sehingga tidak mengarahkan mereka untuk mengembangkan potensi. Sebaliknya ada yang memaksa anak-anak untuk menempuh jalan sesuai keinginan mereka.

Banyak orang mengira bahwa agama adalah jawaban atas semua persoalan pendidikan anak. Mirip dengan anggapan bahwa apapun makanannya, Teh Botol adalah minumannya. Maka banyak orang tua yang mengirim anak-anaknya ke pesantren, atau ke sekolah-sekolah agama. Pada saat yang sama tidak sedikit dari mereka yang menganggap tugas mendidik anak selesai sampai di situ. Lalu kita menemukan bahwa perilaku menyimpang pada remaja terjadi di manapun, tak peduli di pesantren maupun sekolah agama.

Jadi, sebenarnya apa yang kita takutkan? Kristenisasi? Serbuan budaya asing? Ah, yang terakhir ini kadang sungguh menggelikan. Para orang tua sering ribut soal serbuan budaya asing, tapi diam-diam mereka menikmatinya. Bukankah mereka sendiri suka membawa anak-anak pergi ke mal, menjalani hidup konsumtif. Tidakkah lucu ketika orang menolak perayaan Hari Valentine tapi menerima perayaan ulang tahun? Bukankah keduanya adalah budaya asing? Bahkan celana yang tiap hari kita pakai adalah budaya asing, bukan?

Apakah saya hendak mempromosikan perayaan Hari Valentine? Tidak. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa persoalan pendidikan anak remaja jangan direduksi dengan larangan-larangan. Ada masalah yang jauh lebih besar, yang membutuhkan sangat banyak energi kita dalam soal pendidikan anak. Sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk hadir bersama mereka? Sudahkah kita membantu menumbuhkan mimpi-mimpi mereka? Sudahkah kita menyelami setiap kesulitan yang mereka hadapi?

Singkat kata, soal seks bebas, misalnya, tak akanselesai hanya karena tak ada lagi perayaan Hari Valentine.

Dalam berbagai diskusi pendidikan sering muncul kesimpulan bahwa sekolah-sekolah kita belum mampu menjadi tempat pembentukan karakter. Sementara itu, para orang tua mengirim anaknya ke sekolah seperti orang mengirim pakaian kotor ke binatu, berharap pakaian itu kembali dalam keadaan bersih dan terlipat rapi. Mereka cukup mengeluarkan biaya yang dibutuhkan. Persoalan-persoalan remaja, yang salah satunya adalah hubungan seks tak patut, berawal dari persoalan fundamental dalam dunia pendidikan kita. Bukan oleh sebab yang sangat sepele seperti perayaan Hari Valentine.

(Sumber: kanghasan.com)

Tuesday, February 9, 2016 - 12:30
Kategori Rubrik: