Melawan Teror dengan Hashtag

Ilustrasi

 

Oleh: Hilman Fajrian

"Ada pesan berantai dari teman pers: Mohon yang ada foto korban jangan di-forward atau re-forward. Buat pelaku itu akan jadi materi viral yang bisa dijadikan patokan kesuksesan sebuah aksi. Mohon dipahami."

Pesan itu sampai ke dinding Facebook dan grup Whatsap saya, tidak sampai 2 jam setelah bom di Sarinah meletup pada hari Kamis, 14 Januari 2015 pukul 10.50 WIB. Entah darimana pesan itu berawal, ia sangat sulit dilacak sama seperti user generated content (UGC) lain di media sosial. Tak jelas pula pers yang mana. Tapi itu tak penting. Bila benar kelompok teroris menggunakan viralitas media sosial sebagai alat ukur keberhasilan aksi, ini yang mau saya sampaikan kepada para teroris: YOU'RE IDIOT!

Teror di dunia terbuka

Data terakhir hari ini, pengguna Facebook di Indonesia 79 juta orang, 24 juta di antaranya ada di Jakarta. Tahun lalu pengguna Twitter di Tanah Air mencapai 50 juta orang, dan Jakarta telah 'dinobatkan' sebagai kota dengan netizen teraktif di Twitverse. Keriuhan di media sosial nasional datang bak tsunami sesaat setelah bom meledak. Berbagai hashtag yang menandai topik percakapan langsung bermunculan dalam bentuk #Sarinah, #BomSarinah, #PrayForJakarta hingga #JakartaBombing. Tidak sampai 1 jam keyword 'Sarinah' menjadi trending topic di Twitter. Bila tujuan teroris adalah untuk mencuri perhatian kita, maka mereka berhasil mendapatkannya. Tapi bagaimana pula tidak sampai begitu bila bom yang diletupkan berada di ring 1 Istana Negara, terjadi dalam beberapa rangkaian, dan dilakukan dengan cara yang asing? Jelas mereka akan mendapatkan perhatian. Tak sampai 30 menit setelah bom meledak, stasiun televisi Al-Jazeera dan NBC telah menyiarkannya secara live.

Apa yang hendak kita tutupi dalam dunia yang terbuka?

Terpujilah Mark Zuckerberg dan Jack Dorsey. Karena dengan media sosial kita sebagai rakyat sipil tak hanya memiliki medium untuk menciptakan konten dan mendistribusikan informasi secara massal. Namun media sosial juga adalah perangkat kita dalam berkomunikasi dan mengungkapkan ekspresi. Yang bermunculan tak hanya foto dan video warga langsung dari TKP, tapi juga teks yang mengekspresikan ketakutan, kemarahan dan kesedihan.

Menggelindingnya kesadaran kolektif virtual

Manusia mana yang tidak takut, marah dan sedih ketika tanah airnya tercinta diporakporandakan bom? Justru itulah yang membuat kita tetap menjadi manusia dan merasa sebagai sebuah bangsa. Ekspresi itu tak bisa (atau tak boleh) diungkapkan secara eksplisit oleh media mainstream karena tugas mereka hanya meneruskan informasi dan menghindari opini redaksi, kecuali pada tajuk recana. Ekspresi pada media mainstream hanya bisa tampak pada judul headline berita yang mereka pilih atau framing. Melalui media sosial, ekspresi itu kita ungkapkan, tumpahkan dan ledakkan serta bersatu dalam hashtag sebagai topik sesuai ekspresi kita. Demikianlah kesadaran kolektif virtual atau virtual collective consciousness (VCC) bekerja. Ia menghubungkan ekspresi dan perasaan antar manusia tanpa harus berbondong-bondong melakukan aksi turun ke jalan raya membawa spanduk. Dalam VCC, kita merasakan merasakan sesuatu yang 'sesama' sebagai manusia.

Di jam-jam awal kejadian, berseliweran saran untuk tidak menyebarkan foto atau video kejadian dan korban. Alasannya untuk tidak menebarkan ketakutan—salah satu tujuan teror—dan demi menjaga perasaan keluarga korban. Namun salah satu roda penggerak dalam VCC adalah efisiensi informasi (information effieciency) dan kecepatan (speed) yang berada dalam ekosistem UGC. VCC bersifat spontan, homogen dan tersinkronisasi. Seperti itulah yang kita lihat di Tunisia, Mesir, Libya, sampai Hongkong.

Konten yang mengerikan itu tak terhindarkan lagi, terutama di fase awal kejadian. Namun media sosial bukan hanya sarana broadcasting, ia merupakan medium komunkasi peer dan network. Sebagian kita menganggap distribusi konten brutal itu sebatas pesan 'Ini foto mayat korban, dan sayalah yang paling update'. Namun saya yakin pesan dalam komunikasi yang hendak kita sampaikan adalah, 'Inilah yang telah mereka lakukan kepada kita'.

Yang timbul kemudian adalah rasa takut, marah dan duka. Tapi apakah kita selesai sampai di situ? Apakah bola VCC berhenti menggelinding hanya sampai rasa takut? Apakah netizen Indonesia mati tenggelam dalam ekspresi ketakutan?

Takut itu alami, berani itu pilihan

Kita telah membuktikan yang sebaliknya. Sebagai bagian dari sesama sebuah bangsa, bola VCC itu menggelinding terus hingga menciptakan kekuatan #KamiTidakTakut. Tak hanya jadi trending topic, namun juga mengundang decak kagum bangsa lain akan begitu cepatnya bangsa kita bersatu keluar dalam ketakutan itu dan melahirkan kekuatan kolektif. Rasa takut itu adalah mekanisme alamiah mahluk hidup untuk bertahan hidup. Namun selamanya berani adalah pilihan.

Kekuatan besar #KamiTidakTakut itu lahir dari ketakutan, kemarahan dan kesedihan. Dalam teori sosial, rasa takut adalah salah satu pencetus terbesar sebuah perubahan besar di masyarakat. Tak ada manusia yang tidak takut kepada bom. Tapi terus tenggelam dalam ketakutan atau bergerak bersama menggalang kekuatan, itu pilihan. Dan kita telah memilih #KamiTidakTakut.

Saya selalu optimistis pada Indonesia sebagai bangsa yang selalu jantan menghadapi cobaan, tidak lari ketika menghadapi tantangan, serta selalu bisa bangkit setelah badai. Itu sebabnya saya terus melakukan update konten berupa foto, video, teks dan tautan di Facebook pribadi yang saya kurasi dari berbagai sumber. Beberapa teman protes dan mencela bahwa saya ikut menebar teror dan kecemasan. Tapi saya punya keyakinan bahwa bangsa kita tidak selemah dan secengeng itu. Justru, para pengamat di media mainstream -- yang entah darimana dan apa kompetensinya -- yang lebih banyak menebar kecemasan lewat asumsi dan prediksi. Bahwa pers diwajibkan melakukan sensor terhadap konten brutal, itu berlaku umum -- dari kecelakaan sepeda motor sampai bencana alam. Namun ketika negara diserang, seseorang harus menegaskan tentang kebiadaban yang telah dilakukan musuh-musuh kita.

Saya hendak menyampaikan pesan lewat konten itu, "Inilah kebiadaban yang telah mereka lakukan pada kita dan seluruh dunia mesti melihatnya. Hari ini negara kami diserang, dan lihatlah bagaimana kami akan bangkit melawannya." Tidak sampai 4 jam setelah kejadian, Indonesia bersatu dan bangkit menyuarakan #KamiTidakTakut. Kini, terorislah yang mesti takut kepada kita.

Teroris salah memilih lawan

Inilah alasan mengapa saya mengatakan teramat idiot para teroris yang menggunakan viralitas percakapan media sosial sebagai alat ukur keberhasilan aksi. Karena VCC tak berhenti menggelinding di satu tempat 1-2 jam setelah kejadian. Ia akan terus mencari jalannya sendiri berdasarkan karakter sebuah kerumunan, dalam hal ini bangsa. Tujuan aksi terorisme adalah publikasi unjuk kekuatan, menciptakan ketakutan yang berkelanjutan, dan meruntuhkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah bahwa mereka tak bisa memberikan rasa aman, serta merusak pilar ekonomi. Publikasi terang saja telah mereka dapatkan. Namun tidak dengan rasa takut berkelanjutan dan ketidakpercayaan yang menggoyahkan pemerintahan. Bahkan, pasar pun segera bangkit kembali tak lama setelah tragedi.

Muncul dan bertahannya trending topic #KamiTidakTakut, #JakartaAman, #JakartaBerani, #IndonesiaWorthIt dll, adalah alat ukur sebenarnya atas ekspresi dan sikap yang kita pilih pasca tragedi. Dalam hal ini, teroris berhasil membuat keberanian dan persatuan kita bangkit melawan balik mereka, dan kita memperlihatkan wajah asli kita. Bahkan mulai sore hari sudah mulai bermunculan ekspresi candaan. Senjata kita bukan senapan dan peledak, tapi perangkat komputasi. Hashtag tak lagi jadi sekedar barisan string, namun ekspresi kolektif yang menunjukkan sikap dan pilihan sebuah bangsa.

Setiap masa, kualitas sebuah bangsa diuji melalui berbagai teror. Butuh waktu lama bagi rakyat Amerika Serikat untuk sembuh dari rasa takut pasca penyerangan World Trade Center 2001. Setelah tragedi pemboman Paris, rakyat Eropa berkubang dengan rasa cemas kepada pengungsi Timur Tengah hingga sekarang. Namun tanda-tanda kecemasan menahun seperti itu tak tampak di Indonesia pasca bom Sarinah. Kita hadir sebagai bangsa yang jantan, berani, kuat, dan tidak cengeng. Yang semua itu kita tunjukkan dengan menggaungkan kekuatan #KamiTidakTakut di dunia maya.

Teroris memang terlatih menebar rasa takut. Tapi sebuah bangsa bebas memilih sikap. Kemarin negara kita diserang. Cara yang kita pilih dengan bersama-sama dan bersatu menghadapinya, membuat kita boleh bangga menjadi rakyat Indonesia.

 

Sumber: Kompasiana
 

Friday, January 15, 2016 - 18:00
Kategori Rubrik: