Melampaui Politik

ilustrasi

Oleh : Amin Mudzakkir

Foto ini diambil kemarin ketika Jokowi diminta menjadi saksi pernikahan anaknya Maruf Amin. Jadi lagi-lagi silakan saja berpendapat bahwa ini adalah pencitraan, tetapi sejak awal Jokowi memang demikian. Dia tidak segan mencium tangan orang yang lebih sepuh, meskipun ia wakilnya, apalagi jika orang tersebut adalah ulama yang berpengaruh.

Dihitung dari sisi politik elektoral, apa yang dilakukan Jokowi itu mungkin bahkan tidak menguntungkan. Sebagian pendukungnya sendiri menganggap Jokowi berlebihan. Buat apa mencium tangan orang yang menjebloskan Ahok ke penjara? Kira-kira begitulah mereka bertanya. Terlebih lagi di mata pembencinya, semua yang dilakukan Jokowi selalu salah belaka.

Juga ketika kemarin membesuk Arifin Ilham, sebagian pendukungnya masih saja mempertanyakan. Buat apa mengunjungi ustadz yang pamer poligami dan, padahal, jelas sekali selalu berseberangan secara politik dengannnya? Sementara itu, para kampret seperti biasa menuduh itu hanya pencitraan. "Semoga saja tulus", komentar mereka dengan curiga.

Tetapi Jokowi tetaplah Jokowi. Dia tidak peduli apakah cium tangannya kepada orang yang lebih sepuh atau langkah kakinya untuk menjenguk orang yang sedang sakit berdampak secara politis atau tidak. Barangkali dia berpikir kalau berdampak ya alhamdulillah, tetapi kalau pun tidak ya tetap alhamdulillah. Tidak ada yang dirugikan dengan membuat orang lain senang, bukan?

Saya yakin sebagian besar kita pada dasarnya lelah melihat segala sesuatu yang selalu dikaitkan dengan politik, khususnya pilpres. Kita merindukan kehidupan yang tidak melulu ditafsirkan ada apa di baliknya. Jokowi, mau diakui atau tidak, memberikan sedikit kepastian bahwa kerinduan akan hal-hal yang sederhana itu, yang manusiawi itu, yang apa adanya itu masih ada.

Sumber : Status Facebook Amin Mudzakkir

Thursday, January 10, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: