Melafal Ayat Al Qur'an (Faseh)

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Salah satu kata dalam bahasa Arab yang sering keliru diterjemahkan adalah al-fashahah (الفصاحة). Kata itu sering diterjemahkan menjadi fasih atau faseh.

Sayangnya fasih atau faseh dalam pengertian kita agak jauh berbeda dengan maksud istilah al-fashahah. Dalam bahasa Arab, fashahatul lisan itu maksudnya kepandaian dalam bernarasi secara verbal, baik dalam pilihan diksi, struktur kalimat, intonasi, sastra dan cara me-deliveri nya, sehingga membuat para pendengarnya terpesona bagai tersihir.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW menyebut bahwa diri beliau adalah afshahul 'arab (أفصح العرب). Hal itu karena bahasa ibu beliau memang bahasa Quraisy, yang kedudukannya dalam sastra Arab paling tinggi. Juga karena Beliau SAW punya kemampuan di atas rata-rata dalam bernarasi secara lisan.

Hadits-hadits beliau SAW itu unik, singkat kalimatnya tapi dalam sekali maknanya. Pilihan diksinya benar-benar ngepas dan akurat.

Sebutlah ketika Beliau SAW menjawab pertanyaan seorang shahabat tentang hukum berwudhu' pakai air laut. Jawaban beliau singkat tapi sarat makna.

هو الطهور ماؤه الحل ميتته
Dia (laut) itu airnya suci mensucikan dan bangkainya halal dimakan.

Diksi thahur dalam hadits itu punya dua makna sekaligus, bukan hanya suci dalam arti tidak najis, namun juga 'mensucikan' dalam arti bisa digunakan untuk berwudhu, mandi hadats atau juga membersihkan najis. Cukup satu kata : THAHUR.

Dalam bahasa Indonesia, kita tidak punya padanan kata Thahur, sehingga terpaksa digunakan dua kata yaitu suci dan mensucikan. Itulah salah satu bentuk ke-fasehan- lisan Rasulullah SAW.

* * *

Lucunya kata faseh dalam istilah kita justru lain lagi artinya dan amat jauh bergeser dari aslinya. Dibilang lidah tidak faseh kalau susah dan tidak bisa melafazkan huruf hijaiyah dengan tepat.

Huruf 'ain (ع) kadang dibaca hamzah (ء) atau malah berubah jadi ngain. Rabbul-'alamin berubah jadi rabbul-ngalamin.

Huruf ha (ح) kadang dibaca jadi kha (خ). Ahmad (أحمد) berubah jadi Akhmad, bahkan dalam ejaan lama menjadi Achmad. Muhammad (محمد) jadi Mukhammad dan dalam ejaan lama jadi Mochamad. Rahman berubah jadi rakhman. Rahim berubah jadi rakhim.

Yang parah lagi, huruf dzal (ذ) dan zai (ز) sering berubah jadi jim (ج). Idza zul zi la til berubah jadi ija jul ji latil.

Yang baca Quran masih model-model kayak gitu sering kita katakan tidak faseh. Padahal di kalangan Arab, faseh tidak faseh sama sekali tidak ada kaitannya dengan ngain, rakhman, rakhim atau ija jul ji latil.

Kalau ukurannya kayak gitu, maka semua orang Arab itu pasti pada faseh-faseh. Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sufyan sebagai tokoh musyrikin Mekkah di masanya, lidahnya faseh banget dalam arti artikualasi mereka dalam melafazkan huruf hijaiyah sudah presisi. Namanya juga orang Arab, pasti faseh banget.

* * *
Yang susah justru kita ini, melayu-melayu yang ingin melafazhkan huruf hijaiyah dengan benar, tapi dasar lidah melayu, susah banget melafadzkannya dengan tepat dan benar.

Apalagi saya sebagai keturunan orang Jawa dari pihak ibu saya (asli Jogja), sudah dari sononya kalau menyebut huruf ba' (ب), ada rada ngebas-nya. Bahkan suka ditambahi huruf M sebelum B. Bogor jadi Mbogor, Bandung jadi Mbandung. Kudu dikerok kayaknya lidah kita ini. Ya sudah lah mau dibilang apa lagi.

Asal diusahakan biar pas baca Quran jangan sampai terucap Mbismillah . . . Itu kudu diluruskan oleh guru ngajinya, kalau perlu dijitak kepalanya. Tak jiwit kuwe le ndak tuman.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, July 21, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: