Melacak Jejak Pemikiran KH Ma'ruf Amin Dan Orientasi Politik Tebu Ireng

Ilustrasi

Oleh : Syaiful Huda Ems

Kyai Ma'ruf Amin itu alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, sama dengan saya, sama dengan Gus Dur, karena setidaknya Gus Dur merupakan cucu pendiri Ponpes Tebuireng, yakni KH. Hasyim Al-Asy'ari. Tetapi saya melihat orientasi politik Tebuireng sekarang sangat berbeda dengan ketika Gus Dur masih ada. Tebuireng sekarang sangat didominasi oleh kelompok Islam konservatif, ke PKS-PKS an, ke FPI-FPI an, karenanya ada istilah baru yakni NU Tebuireng rasa Wahabi, NU Tebuireng rasa FPI, NU Tebuireng rasa PKS dlsb. Oleh sebab itu pula saya pernah menantang debat terbuka dengan Gus Sholah (adik kandung Gus Dur yang sekarang memimpin Tebuireng) dalam perkara penistaan agama yang dialamatkan pada Ahok yang sarat dengan nuansa politisisasinya, sebab saya melihat Tebuireng juga menjadi berubah orientasi politik keagamaannya dibawah kepemimpinan Gus Sholah.

Saya telah lama mendengar Ipang Wahid putra Gus Sholah menjadi konsultan komunikasinya PKS dengan bendera Fastcom, dan sekarang Irfan Yusuf (Gus Irfan) sepupu Gus Sholah juga menjadi jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Capres-Cawapres Prabowo-Sandi. Ini bagi saya tidaklah mengejutkan. Disaat Hari Santri Nasional bulan September 2018 lalu Prabowo dan Uno juga datang ke Tebuireng menemui Gus Sholah dan berkampanye di lapangan parkir Tebuireng. Meski ketika hal itu dipertanyakan, Gus Sholah berdalih bahwa lapangan parkir itu bukan milik Ponpes Tebuireng melainkan milik Pemda Jombang. Ini semakin jelas menunjukkan peta dukungan politik Tebuireng itu pada siapa.

Kembali pada Kyai Ma'ruf Amin (KMA) yang alumnus Tebuireng dan menyatakan perjuangannya dengan perjuangan Habib Riziek Sihab (HRS) itu sama, hanya bedanya--masih menurut KH. Ma'ruf Amin-- bahwa HRS menginginkan perubahan secara cepat yang seringkali menyebabkan benturan, sedangkan KMA memperjuangkan perubahan dengan mengikuti mekanisme yang ada, berdasarkan kesepakatan dan tata hukum nasional.

Menanggapi persoalan pernyataan KMA diatas saya melihatnya ada dua kemungkinan:

Pertama, bisa jadi visi misi kedua orang tsb. (KMA dan HRS) sama, karena keduanya berangkat dari pemikiran Islam konservatif yang biasanya agak berat untuk menerima pembaharuan pemikiran Islam seperti yang selama ini bisa kita lihat dari pemikiran moderatnya Gus Dur. Olehnya tidak heran mengapa KMA mengatakan apa yang diperjuangkannya sama dengan apa yang diperjuangkan oleh HRS.

Kedua, bisa jadi sebenarnya KMA sudah jauh lebih maju pemikirannya, dari konservatif ke moderatisme Islam hingga sudah tidak mungkin lagi bisa sejalan dengan pemikiran HRS yang konservatif dan radikal. Akan tetapi karena sebuah siasat atau strategi untuk mencari dukungan politik, sebab saat ini telah memasuki tahun politik menjelang Pilpres 2019, KMA harus membuat pernyataan demikian agar resistensi dari kelompok Islam radikal pada Jokowi-MA berkurang. Saya pikir ini masih sah dari sisi politik, meskipun harus saya katakan haram dari sisi hukum, sebab siapapun yang mendukung pengacau negara berarti ia salah. Yang menjadi persoalan kemudian, siapkah kita jika Jokowi kalah? Tentu saja tidak bukan? Karena kekalahan Jokowi akan memperberat perjuangan konsolidasi demokrasi kita kedepannya. Sebab nyatanya, Prabowo-Uno tak lebih hanyalah bagai gunung persoalan bangsa yang seharusnya segera kita akhiri bersama sepak terjang politiknya.

Muncul pertanyaan kemudian dalam benak kita, bukankah KMA pernah memberikan fatwa melalui MUI bahwa selain muslim dilarang menjadi pemimpin?

Benar, KMA pernah memberikan pernyataan seperti itu melalui fatwanya di MUI, meskipun saat ini KMA nampak lebih berhati-hati memberikan pernyataan yang sejenis karena sepertinya beliaupun telah sadar bahwa fatwa semacam itu kemudian disalahgunakan oleh kelompok Islam radikal. Dan pernyataan KMA dahulu yang demikian itu sebenarnya merupakan ciri dari pemikiran Islam konservatif, sebab bagi pemikir Islam moderat akan menjadi sesuatu hal yang debatable. Misalnya akan dipertanyakan terlebih dahulu mengenai definisi pemimpin itu apa? Apakah Presiden itu juga bisa dikategorikan sebagai pemimpin ataukah hanya cukup disebut sebagai administrator pemerintahan? Benarkah Almaidah 51 memaksudkan awliya sebagai pemimpin ataukah teman dekat dlsb.

Pemikiran Islam konservatif yang seperti itu sekarang semakin berkembang pesat di Tebuireng stelah wafatnya Gus Dur. Dahulu ketika Gus Dur masih hidup, meskipun Tebuireng dipimpin oleh KH. Yusuf Hasyim yang merupakan paman Gus Dur dan pemikirannya kerap bersebrangan dengan Gus Dur, santri Tebuireng dan para alumnusnya mayoritas masih mengikuti pemikiran Gus Dur yang sangat moderat. Tetapi setelah Gus Dur wafat, Ponpes Tebuireng yang pindah di tangan Gus Sholah adik kandung Gus Dur menjadi berubah, alias kembali pada pemikiran konservatif. Pemikiran konservatif ini terus menjalar ke berbagai pesantren yang kyainya bersebrangan dengan Ketum PBNU KH. Said Aqil Shiradj.

Saya mengambil Tebuireng sebagai studi kasus disini mengingat Tebuireng itu sebagai markasnya NU. Jadi kalau markasnya NU saja sudah bisa dirasuki pemikiran takfiri ala PKS, FPI terlebih HTI, bagaimana dengan pesantren-pesantren lainnya? Beruntung Tuhan masih menyelamatkan bangsa ini, hingga masih ada pesantren-pesantren lainnya yang masih tetap istikomah, konsisten dalam mempertahankan pemikiran Islam Moderat, Ahlu Sunnah wal Jama'ah, NU, setia pada Pancasila dan NKRI, serta bisa menerimah kemajemukan agama, suku dan ras sebagai kekayaan bangsa. Mari kita lindungi dan terus dukung mereka.

Akhirul kalam, saya berharap setelah Kyai Ma'ruf Amin jadi Wapres nantinya bisa belajar dan mengerti serta memahami dan menyadari betapa sangat tidak mungkinnya pemikiran Islam konservatif bisa dipertahankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Indonesia sebagai bangsa yang plural, penuh keaneka ragaman, tentunya semua warga negaranya apapun agamanya mempunyai hak yang sama dalam politik, ekonomi dan kebudayaan. Saya berharap pula, KMA dapat segera menyadarkan para alumnus Tebuireng lainnya untuk kembali beragama yang lebih sejuk dan tak terkontaminasi ideologi politik PKS dan HTI. Semoga.....

Wallahu a'lamu bissawab...Salam Jokowi dua periode !...(SHE).

Sumber : Status Facebook Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang 

Friday, November 16, 2018 - 18:15
Kategori Rubrik: