Melacak Jejak Berkembangnya HTI Di Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Fritz Haryadi

Bahwa bos HTI dikasih suaka di MUI, itu saja sudah cukup untuk melihat bagaimana kusutnya sulam kebangsatan hasil tenunan 2 periode peleluasaan gerak Hizbut Tahrir & Ikhwanun Muslimin di bumi Nusantara.

.Sulam kusut yang, untuk mengurainya tanpa menumpahkan darah, ibarat kamu disuruh membersihkan isi perut ikan tapi tidak boleh membelah perutnya.

Sebab 2 periode, 10 tahun, itu lebih dari cukup untuk menyusupi & meracuni Parpol-parpol besar; sehingga ndak ngaruh siapa yang menang Pilleg, ideolohi Khilafah Imamah tetap paten dan laten di titik-titik strategis pada seluruh struktur parlemen, siap bangkit kapan saja, belagak mamfus bila diminta, lalu gentayangan jadi sundel bolong yang bebas mengacau tapi tidak bisa disembelih.

Satu dekade itu lebih dari cukup untuk meracuni seluruh struktur eksekutif di bawah eselon 1. Sehingga ganti rezim ndak terlalu ngaruh, karena sleeper cells di level pelaksana siap disuruh membangkang kapan saja; atau lebih parah, taqiyyah belagak kerja tapi merusak sistem dari dalam. BPJS misalnya.

Di level daerah, tidak perlu harus kepala daerah yang diracuni. Kepala dinas pun tidak perlu. Cukup seekor Kabid saja, mampu memastikan kepala-kepala sekolah di sekolah-sekolah besar punya loyalitas taqliditas dajjalitas ultra-kental yang lebih takut murabbi daripada Rabbi; untuk istiqomah memproduksi generasi ampas peradaban calon pemuja Felix Siauw sambil tak kenal lelah korupsi dana BOS untuk mendanai mesin Partaik.

10 tahun itu lebih dari cukup untuk infiltrasi kampus-kampus besar, sehingga memastikan tidak bakalan kehabisan stok kader bahkan kalau misalnya 7 juta seniornya mendadak mamfus massal kena Rubella komplikasi ambeien.

SBY dulu sebenarnya sudah ada pada rel yang agak-agak benar, saat meneladani taktik Pantjing Djaring gubahan Ali Moertopo tahun 1971. Masalahnya, beliau mantjing doang, tidak ndjaring. Atau lebih tepatnya ndjaring tapi cuma dapat teri; sebangsa Imam Samudra atau Noerdin M. Top. Kakapnya lolos, karena saat pendjaringan pada taqiyyah menyamar jadi gitar.

Mungkin niat luhur beliau berharap HT dan IM bakal saling cakar dan mamfus dua-duanya; sebab memang mereka ini satu ghoyah beda washilah. HT senangnya merombak sistem dengan cara menghasut akar rumput untuk kudeta, sedangkan IM lebih doyan mengendarai sistem dengan menyusup pada ormas dan/atau parpol. 
Devide et impera memang tak pernah lekang dimakan sekolah, tapi sayangnya SBY lupa : walaupun rival, HT dan IM bisa sekonyong bersekutu saat dua-duanya dalam posisi kalah. Seperti yang terjadi sekarang : IM alias PKS kalah pemilu, HT dibubarkan. Maka tercipta kebutuhan untuk gabung jurus. HT butuh entitas, butuh kardus buat menampung dana; sedangkan PKS punya entitas tapi mubazir impoten kagak ada duitnya.
Maka rujuk. 
...dengan maskawinnya seperangkat alat hipnotis dan paku permen lollipop Limbat lengkap. Sah, sah, sah.

.Jadi begitulah. Lagi-lagi disuruh sabar. Dan memang harus sabar. Kalau mau instan, ngapain dulu kamu milih tukang kayu, bukan tukang sulap.

Kecuali kalau kamu mau sembelih iparmu sendiri; karena memang sudah sebegitu dekatnya mereka.

Sumber : Status Facebook Fritz Haryadi II

Wednesday, October 31, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: