Media Tidak "Melemahkan" Anis

ilustrasi

Oleh : El Kaezzar

Ada yg anggap "serangan" media sebagai konspirasi "melemahkan" Anies. Padahal media juga sering "menyerang" Jokowi misalnya soal utang, impor atau TKA ilegal. Apa itu "melemahkan"? Biasa saja. Sepanjang landasannya valid, kritik tetap diperlukan siapapun.

Jadi berhenti berpikir sebagai korban, Anies memang harus "dibangunkan". Praktis 2 tahun ini belum ada terobosan. Semua masih normatif, belum ada inovasi sama sekali. Jakarta bukan maju bersama, tapi sayangnya malah mundur, dan terjatuh.

Ada yg membalas dengan daftar penghargaan Anies. Pertanyaannya, apa efek dr penghargaan itu dirasakan warga sehari-hari? Waktu pendukung fanatik Aher membanggakan ratusan penghargaan dan mendsikreditkan Jakarta 2012-2017, saya cuma membalas singkat,

"Kalo era Jokowi Ahok saya bisa sebutin banyak kaya KJP, KJS, eAPBD, aduan balkot, pasukan pelangi. Tp karena saya bukan warga Jabar, saya mo tanya, kebijakan Aher yg dirasa ngaruh untuk warga Jabar apa sih?"

Dan orangnya ngilang...

Ya, sama seperti soal Anies, mereka banyak bicara penghargaan formal atau "mejeng" di forum. Tapi itu tadi, efeknya apa? Jangan salah. Jakarta 2012-2017 jg dapat banyak penghargaan tp buat saya "ga ngaruh". Harus bisa dibedakan apa itu penghargaan dan kebijakan karena tidak selalunya terkait. "Miskin" penghargaan belum tentu kebijakannya buruk. Sebaliknya, "kaya" penghargaan belum tentu kebijakannya bermanfaat. Makanya jangankan 10 atau 5, sebut 1-2 pun sejauh ini belum memuaskan. Wajar.

DP 0, pada akhirnya seperti program pengembang umumnya karena selain DPnya tidak gratis, tp "nyicil", peruntukannya pun untuk kalangan menengah atas. Bukan menegah bawah seperti yg dulu digaungkan. Belum ada rumah petak, sejauh ini baru rumah lapis alias rusun. Istimewa? Tidak.

Oke Oce, akses pemodalannya minim, ada gerai yg malah tutup. Dibanding Oke Oce, program Mekaar atau UMI dari pemerintah pusat justru lebih bisa memastikan bantuan modal tanpa jaminan. Jadi apa yg spesial dr Oke Oce? Tidak ada.

2 program andalan "mati". Lalu apa yg bisa diandalkan? Saya jujur sangat apresiasi soal pelebaran trotoar atau integrasi Trans Jakarta (TJ), tapi sekali lagi, ini normatif karena digagas dan sudah jalan di era sebelumnya. Bukan hal baru.

Beda dengan KJP, KJS, Qlue, eAPBD, PTSP, bus standar eropa, pasukan pelangi, PBB Rp.0 atau aduan balaikota, semua adalah hal baru. Atau semisal busway, ini tidak ada sebelum era Bang Yos. Itulah yg dinamakan kebijakan terobosan, inovasi. Atau eksekusi MRT/LRT yg walau sudah lama digagas tp selalu "mandek". Anies belum punya "karya". Paling jauh baru sebatas "pengembangan". Minimalis.

KJP plus atau PBB Rp.0 untuk veteran/pensiunan PNS adalah pengembangan tp intinya tetap kebijakan lama. Ada soal naturalisasi tp malah "ngambang". Praktis belum ada inovasi sampai hari ini. Nol.

Sayangnya, yg sudah baik malah memburuk. Kinerja pasukan oranye contohnya, jauh melemah. Tidak perlu jauh-jauh, jalur hijau depan rumah saya jadi saksi. Dulu tiap hari mereka rajin bersih-bersih, pro aktif, tanpa harus lapor di QLUE. Malah berapa kali saya lihat waktu hujan pun mereka masih kerja. Sekarang, jangankan waktu hujan, sebulan sekali "nongol" pun belum tentu kalau tidak "dipanggil" lewat QLUE. Jeblok.

Di berapa tempat, PKL mulai berani "menjajah" trotoar. Tentu yg paling heboh soal Tanah Abang dimana pemprov menutup jalan demi PKL. Jangankan warga, Ombudsman pun diabaikan, konon demi "keberpihakan" tapi caranya malah menindas pengguna jalan yg merupakan "pemilik" jalan raya. Ironi.

Sementara di internal, saya saksikan sendiri bagaimana mata anggaran eAPBD sebuah SKPD "bengkak" puluhan miliar karena sekarang bisa gelar seminar/pelatihan menyewa hotel dan bus. Di eAPBD 2016-2017, saya tidak melihat ini. Paling cuma biaya konsumsi dan honor trainer. Ya, Ahok keras menyisir model pemborosan begini. Sekarang, "gembok" itu hilang. Miris.

Ketimbang sibuk cari pembenaran soal bambu dan impor Tiongkok (yg sebetulnya banyak perusahaan besi baja lokal) atau berwacana soal tanaman Lidah Mertua untuk kurangi polusi kota, lebih baik Anies dan jajaran pemprov fokus memikirkan ide baru.

Jadi, saya cuma bisa senyum kalau ada yg bilang Anies "dilemahkan". Tidak, bukan. Anies tidak "dilemahkan" media karena sejak awal ia memang sudah "lemah". Dan terbukti sejauh ini.

Tapi jangan kuatir, sebagai warga DKI saya tetap sabar. Harus diakui tidak mudah lepas dari bayang-bayang era sebelumnya. Masih banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan, karena masih ada London, Tokyo, Doha, Madrid, Milan, Moskow atau Rio de Janeiro untuk dikunjungi berikutnya. Jadi jangan takut. Percayalah.

Oiya, Beijing sudah dicoret karena nanti yg dapat uangnya Tiongkok...

Sumber : Status Facebook El Kaezzar

Monday, July 22, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: