Media Framing Model Kompas.com

Oleh: Sunardian Wirodono

 

ompas sebagai media cetak dengan Kompas media online (kompasdotcom) adalah dua hal berbeda, meski mungkin dari korporat yang sama. 

Kasus dalam berita ‘Anies melakukan kerja bakti bersama warga masyarakat Kampung Makassar, yang diteriaki warga sebagai ‘Gubernur Rasa Presiden’ (kompasdotkom, 5/1/2020), layak dicurigai sebagai sebuah kasus jurnalistik.

 

Masih satu korporat atau tidak, media kompasdotkom nebeng nama beken Kompas yang cukup prestisius (dan berimpak pada pendapatan iklan bukan?). Tapi ketika kita tahu, editor yang menangani tulisan (kerja bakti gubernur rasa presiden) mempunyai hubungan pribadi dengan Gubernur itu, orang menjadi gampang curiga. Apakah kompasdotkom mallpraktik?

Apa yang dilakukan kompasdotkom itu mengingatkan mengenai apa yang disebut media framing. Dalam perkembangan terakhir, berkait upaya pencitraan dalam kaitan kontestasi Presiden 2024, kompasdotkom secara terang-terangan bermain sebagai media online lainnya, yang reputasi independensinya pantas diragukan. 

Media framing secara harfiah artinya pembingkaian (dari kata frame = bingkai) makna atas fakta. Framing merupakan bagian dari strategi komunikasi media atau komunikasi jurnalistik. Pengertian praktisnya, framing adalah menyusun atau mengemas informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini. Menggiring persepsi publik terhadap sebuah peristiwa.

Framing berita merupakan perpanjangan teori agenda setting. Pemilihan fakta dalam sebuah peristiwa yang dinilai penting, disajikan untuk dipikirkan masyarakat (pembaca). Fakta yang disajikan tidak bohong (meski bisa jadi adegan factual merupakan rekayasa). Namun ia mencoba membelokkan fakta dengan halus, melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu. Bahkan pemilihan kata, atau gambar, hingga meminggirkan informasi utama yang seharusnya disampaikan.

Apakah kompasdotkom melakukan itu? Kita akan lihat nanti bagaimana dalih redakturnya. Sehari setelah pemberitaan itu, redaktur yang sama, menuliskan dalihnya pada berita berikut; 'Menelusuri Rodiyah, Perempuan di Balik Viralnya Teriakan Gubernur DKI Rasa Presiden', dimuat 06/01/2020, 23:47 WIB, malah semakin menguatkan kecurigaan mengapa perlu membela diri begitu rupa. Secara naif dikatakan, bahwa berita itu bukan hanya dimuat oleh medianya doang. Tapi oleh banyak media online lainnya.

Sementara kita tahu, framing bertujuan membingkai sebuah informasi, agar melahirkan citra, kesan, makna tertentu, yang diinginkan media itu (mengenai wacana yang hendak dilemparkan ke khalayak). Pada sisi itu, kompasdotkom menjadi terkesan sebagai media partisan. Itu menyedihkan. Apalagi, lihat berita-berita yang ditulis kompasdotkom, dengan editor sama, dalam mempertentangkan antara Jokowi dengan Anies Baswedan head to head. 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Wednesday, January 8, 2020 - 19:15
Kategori Rubrik: