Media Cetak Jangan Mati Besok

ilustrasi

Oleh : Jonminofri Nazir

Di akhir Agustus lalu saya menerima notifikasi dari kompas.com. Isinya, menawarkan koran Kompas edisi cetak yang diantar ke rumah. Tema besar edisi itu adalah tentang Covid-19: bagaimana pemerintah menangani pandemi covid-19 selama enam bulan.

Saya tertarik. Saya mengklik notifikasi itu, dan mengisi kolom kosong yang diminta. Nama, alamat pengiriman, alamat email, dan sebagainya seperti kalau kita belanja online. Setelah terisi lengkap, muncul harga koran yang mesti saya bayar, Rp4.500. Harga resmi Kompas kalau kita beli eceran. Plus ongkos kirim Rp9.000. jadi total saya harus transfer Rp13.500.

Jika saya setuju membeli, saya harus menentukan cara pembayaran. Banyak pilihan. Dari mulai pakai Go Pay sampai transfer bank. Jadi memudahkan pelanggan untuk membayar. Rasanya, semua orang bisa melakukan pembayaran dengan banyak pilihan itu. Artinya, Kompas menghilangkan kemungkinan orang tidak membeli jika alasannya susah cara membayarnya.

Apalagi jika Kompas membuka cara pembayaran melalui semua kanal pembayaran yang ada di di HP pelanggan, tentu akan semakin mudah pelanggan memesannya
***

Pembelian secara eceran Kompas edisi cetak melalui online seperti ini adalah berita baik bagi penerbit media cetak. Kelebihannya adalah harga per edisi terasa murah, cara membayar mudah, dan media yang dipesan tiba dengan cepat. Jika topik yang ditawarkan tidk menarik, pembaca boleh mengabaikannya.

Sebenarnya cara pembelian seperti ini tidak baru-baru amat. Tahun 2003 penerbit majalah Jagat Media sudah melakukannya.

Ketika itu saya bekerja di Jagat Media. Perusahaan itu menerbitkan majalah 52 halaman. Nama majalah MNS, singkatan dari Multimedia and Style. Terbit sebulan sekali. Isinya tentang segala sesuatu yang terkait dengan HP. Ketika itu, Jagat Media bekerjasama dengan operator seluler PT Indosat.

Bentuk kerjasama dengan Indosat adalah: operator itu menyebarkan info kepada pelanggannya tentang majalah ini melalui SMS. Jika mereka berminat, pelanggan mengirim SMS ke nomor pendek (4 digit) yang berisi nama, alamat lengkap, dan kode pos. Setelah itu, pulsa pelanggan akan terpotongRp10.000 untuk biaya pembelian majalah dan ongkos kirim majalah ke rumah mereka sepanjang berada di wilayah Indonesia.

Catatan: ketika itu penipuan melalui SMS belum banyak. Ini zaman sebelum era “mama minta pulsa.” Jadi, SMS masih dipercaya oleh masyarakat.

Kerjasama ini saling menguntungkan. Indosat mendapat 12 halaman yang isinya ditentukan oleh operator itu. Selain itu, Indosat mendapat Rp2.000 dari setiap eksemplar majalah yang dipesan. Ini sebenarya biaya pemakaian SMS pendek (SMS premium) yang digunakan oleh pelanggan untuk memesan majalah.

Jadi, penerbit sudah mengetahui jumlah pesanan majalah sebelum dicetak. Penerbit mencetak majalah sesuai dengan jumlah pesanan. Tidak ada eksemplar majalah yang tersisa.
***

Sekarang teknologi makin berkembang. Cara penawaran majalah dan koran seperti di atas bisa dilanjutkan dengan lebih canggih. Cara pelanggan membayar juga lebih mudah, karena kehadiran aplikasi pembayaran yang beragam. Semua dilakukan melalui HP pelanggan.

Penerbit Kompas atau penerbit lain bisa menawarkan koran cetak atau majalah melalui banyak platform di HP, termasuk menyelipkan link penawaran ini di tengah berita di kompas.com.

Intinya, sangat mudah bagi penerbit media untuk menyampaikan iklan pembelian koran atau majalah edisi cetak hingga pesan iklan itu dipastikan dibaca oleh pemilik HP.

Saya yakin masih banyak orang yang senang membaca koran atau majalah yang terbuat dari kertas, alias bukan penerbitan digital. Apalagi orang yang mempunyai pengalaman panjang membaca koran dan majalah edisi cetak.

Mungkin hal yang perlu diperhatikan penerbit adalah
1. Penerbit menyiapkan edisi khusus yang dijual melalui online, seperti Kompas edisi 1 September kemarin, edisi tentang Covid-19. Jadi, pembaca mendapatkan value yang lebih besar dibandingkan dengan edisi reguler.
2. Isi edisi khusus itu bersifat timeless, atau setidaknya dibaca selama seminggu ke depan isinya tidak terasa basi. Jadi, topik dan cara penulisannya diusahakan seperti penulisan untuk majalah mingguan: opini dan news feature.
3. Intinya, pembaca harus merasa mendapatkan nilai lebih dari membaca artikel di edisi yang dipesan melalui online ini: lengkap, padat, enak dibaca, dan yang paling penting ditulis sesuai dengan kaidah jurnalisme.
4. Cari kurir yang dengan biaya pengiriman yang paling murah.

Mudah-mudahan cara seperti ini bisa memperpanjang usia Suratkabar dan majalah yang dicetak di atas kertas. Penerbit media cetak harus selalu berusaha agar koran dan majalah tidak mati besok.

Sumber : Status Facebook Jonminofri Nazir

Sunday, September 6, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: