Media Bermain Clikbait Corona?

ilustrasi

RedaksiIndonesia-Disaat pemerintah sedang serius menangani penyebaran Corona, kita dikejutkan dengan banyak pemberitaan yang cenderung bombastis. Dalam bahasa media disebut clickbait. Ya, clickbait atau judul yang merangsang pengguna atau pembaca mengklik tautan pemberitaan untuk membaca artikel. Mengapa begitu? Mereka akan dapat pundi-pundi ketika sebuah artikel dibaca oleh netizen.

Disetiap artikel, pasti ada iklan dan media sangat diuntungkan dengan hal itu. Maka wajar yang banyak diberitakan ya yang bombastis dari Corona. Kita lebih sering menemukan judul berita dengan dugaan suspect baru apalagi terkait dengan tokoh.

Sementara jumlah kematian atau orang dinyatakan sembuh masuk dibadan pemberitaan dalam porsi minim, bukan menjadi subyek utama sebuah berita. Mestinya, pemberitaan yang bombastis tentang tokoh atau publik figur terkena Corona malah menjadi bagian kecil saja. mengapa? karena ini mempengaruhi psikologi massa. Indonesia merupakan negara yang mayoritas warganya memang mudah sekali bereaksi terhadap hal-hal yang berbau perdebatan. Maklum, masyarakat yang secara teknologi melek namun efek dari cepatnya bereaksi jarang dibarengi nalar sehat. 

Akibatnya yang keluar dari para netizen ketika membuka artikel tersebut justru berisi provokasi baru, ketakutan baru, atau pernyataan yang malah membuat suasana makin runyam.

Lihat saja dalam gambar, seorang rektor bahkan salah membaca sebuah berita di detik.com. Jelas-jelas yang dinyatakan meninggal adalah pasien suspect ke 25, bukan meninggal 25 dan kebetulan dia WNA. Masak sekelas rektor tidak mencoba memahami pemberitaan itu. Musni Umar menyebut di Bali sudah meninggal suspect Corona 25 orang. Sebuah logika yang sulit diterima akal sehat namun itu dilakukan oleh orang yang sangat berpendidikan meski akhirnya dia meminta maaf atas kesalahannya.

Namun itu menggambarkan bagaimana jika kalangan berpendidikan saja bersikap begitu, lantas apa sikap awam pada pemberitaan media?

Paus Paulus yang hanya demam diberitakan suspect, Menteri Pertahanan Polandia terkena, lalu menteri kesehatan Inggris dan masih banyak yang lain. Mengapa media tidak fokus pada penanganan pemerintah dalam negeri? Ya karena memang tidak news maker atau clickbait. Mestinya Dewan Pers mampu menyoroti dan mengkritisi sikap media yang begini. Apa tetap mau dibiarkan atau harus dikontrol. Mengontrol tentu tidak sama dengan membatasi. Yang penting fokus pemberitaan mestinya pada upaya pencegahan, antisipasi, apa yang sedang dan akan dilakukan pemerintah, apa yang harus dilakukan masyarakat.

Lihat saja pengumuman Mendikbud terkait pencegahan dini Corona di satuan pendidikan yang tidak menjadi sumber berita yang menarik. Padahal langkah atau himbauan itu sangat perlu.

Ini yang harus disikapi bersama. Sekelas CNN saja masih keliru memberitakan pernyataan Wapres yang bercandaan soal Corona namun ditulis dengan serius. Akibatnya ya runyam meski kemudian pemberitaan itu telah direvisi. Bercanda disini bukan guyonan, tetapi lebih pada perumpamaan untuk mendorong optimisme warga menghadapi pandemi Corona. Ini yang dibutuhkan kita bersama.

Thursday, March 12, 2020 - 16:00
Kategori Rubrik: