Mbak Sri, Bungkus Rokok dan Jaminan Kesehatan

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Kulihat iblis menyelinap dalam cangkang rokok. Katanya, ia akan tega membunuhku. Tapi kau juga tahun depan ingin minta tambah dariku uang saku. Cukai dinaikan, cekik di leher rakyat dikuatkan. Disisi lain kau jual jasa asuransi dan kesehatan BPJS dipakai untuk menekan, rakyat bisa tak bisa harus iuran.

Kulihat baik-baik raut mukamu. Apa yang sebenarnya kamu mau dariku : membunuhku dengan lewat perijinan pabrik rokok dan penyematan pita cukai, atau menyembuhkanku dengan jualan asuransi dan kesehatan. Ku tak mengerti kau mau aku ini terbunuh, sembuh atau kasih kau uang begitu. Sehingga sibuk melarang merokok, sibuk menaikan cukai rokok dan sibuk juga mewajibkan (nyaris) BPJS. Kapitalis farmasi dan kapitalis nekotin serta kapitalis asuransi bekerja sama sehingga proposisimu kacau seperti orang sakit malaria meracau.

Depkes barfirman : merokok membunuhmu. Depkeu berfirman : cukai rokok menyehatkan APBN. Departemen perindustrian dan departeman perdagangsn keluarkan izin pabrik rokok dan perdagangan rokok. Kalau sudah tahu itu akan membunuh rakyat kenapa dijadikan andalan APBN ? Apa supaya rakyat mati banyak dan uang APBN nya bisa naik ? Kalau penduduk ududan banyak yang mati terbunuh rokok, apa yang udud masih bangak ? Padahal semua menteri itu bawahan presiden, tapi visi misi tentang rokok masing-masing berbeda. Presiden seolah absen visi misi soal rokok.

Bukan hanya soal itu, banyak juga soal lain yang ambigu. APBN, APBD dan APBDes di negeri kita seperti jarum suntik sekali pakai. Wajib habis dalam setahun. Seolah kalau tidak habis, seperti butir beras sisa di piring makan, bisa berefek kurang berkah. Perencanaan anggaran tidak memakai falsafah sila kelima. Rumus ekonomi development, karangan Barat yang khusus diperuntukkan negara ber-flower, adalah binatang langka yang tidak hidup di negeri Barat. Ekonomi sebagai panglima, provokasi dan proxy tingkat dewa. Dari dulu keadilan sosial tak dihiraukan.

Tabu dengan syariat Islam tapi kalau urus dana haji dan zakat paling bersemangat. Terhadap Syahadat, sholat dan puasa sesama rukun Islam menteri agama kurang berminat ngurus.

Bahkan di jaman SBY, tahun 2009 pergi haji boleh nyicil. Maka mengekorlah antrean haji. Sehingga kalau mau pergi haji, bayi baru lahir harus sudah didaftarkan, soalnya takut gak kebagian. Rezim setelahnya menuduh SBY gagal tapi jurusnya masih dipertahankan.
Lumayan dana antrean haji bisa untuk dipinjam-pinjam. Elit dan kita semua diam. Apakah Tuhan sebagai tuan rumah setuju dengan cara demikian ?

Santri Kalong :
Kang coba jelaskan mengenai radikalisme di Indonesia. Kita ini bingung, apa ini nyata atau sekedar selebritas ambiguitas.

Kang Mat :
ISIS, Al Qaedah, Wahabisme, Ihwanul Muslim, HTI, Terorisme Internasional dan apapun namanya yang bertabiat Muslim Sombong dirinya lebih baik dari yang lain, itu alat proxy poros kebiadaban yang lima ratus tahun belakangan sedang membuat kerusakan kedua. Modusnya sama dengan PKI. Merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Dalih revolusi (komunis) atau dalih jihad (khilafah) substansinya sama : jalan kekerasan. Yang melakukan kekerasan di Papua, Jakarta dan bakar hutan itu orang yang sama. Ujungnya kita bisa simak di pembentukan kabinet.
Negara yang dicita-citakan jadi pelindung segenap tumpah darah, tidak hadir saat nyawa dan harta rakyat terancam.

Apa yang terjadi di Libiya, Suriah, Irak, Yaman itu nyata. Dunia peradaban muslim diinfiltrasi dari dalam dengan sejumlah pembelokan dan indoktrinasi kekerasan. Merek lokal contoh FPI.

Bahwa kondisi ini dilumayankan oleh elit politik itu juga teridikasi. Kekuasaan bisa diambil dengan mudah dan murah dengan membranding politik anti-radikalisme. Itulah pemasaran politik dibalik kemenangan Pilpres kemarin. Untuk sembunyikan sulap tentu harus dengan sulap lagi. Sekarang ribut debat Menag dan Somad. Dari pada sibuk menyimak permainan sulap, habis waktu lebih baik rakyat konsentrasi menghadapi ekonomi sulit ini. Dapur ngebul sudah untung.
Jadi Cebong dan Kampret, korban sandiwara politik. Kedepan kita biasa saja, gak perlu nyolot seperti Pilpres kemarin. Yang berkelahi siapa, yang makan bareng siapa ? Kalian yang kemarin ramai berkelahi cari makan sendiri-sendiri. Jangan bodoh dua kali.

Bung Cebong :
Kenapa Kang menurunkan kadar harapan di lima tahun periode ini ?

Kang Mat :
Yang tidak boleh itu harapan putus semua. Itu Tuhan melarang. Jangan berputus asa dari rahmatNya. Kalau dibanding Bangsa Kurdi dan Bangsa Palestina, keadaan Bangsa Indonesia jauh lebih baik. Itu kita jangan lupa bersyukur. Bikin status juga dalam rangka bersyukur. DPR-RI sudah satu tabiat, lupa rakyat. Pers nasional sedabg sakratul maut.
Kita rakyat yang harus kontrol bangsa dan negara ini. Timbangannya harus falsafah Pancasila, manifesto filosofis yang sudah jadi mufakat bangsa. Sesuatu tabiat kaum milik bangsa ini yang Soekarno dinamakan Gotong Royong. Suatu nilai yang melalui shalat istiharah MbahHasyim Asyari tiga hari tiga malam dinyatakan layak sebagai hal/amr yang disepakati. Walhasil Tuhan setuju dengan substansi mufakat bangsa bernama Pancasila itu.

Dari sisi diskursif, falsafah Pancasila yang telah jadi mufakat bangsa ini dapat mencapai mafhum nya yang layak memerlukan secara darurat kepada ilmu filsafat metafisika. Duskursif keilmuan filsafat Barat yang skeptis mustahil dapat mengupasnya. Kita membuka era baru yakni era menafsir falsafah Pancasila secara layak. Mari kita melahirkan cabang ilmu baru yakni ilmu filsafat Pancasila. Walhasil Pancasila dibahas melalui ranah rasionalitas logika fiksafat, gnostik/tashowuf, dan ferivikasi ketauhidan dari kitab suci.

Dul Kampret :
Ilmu baru bagaimana Kang ?

Kang Mat :
Epistemologi akan terus menyediakan ruang kamar baru bagi lahirnya cabang-cabang ilmu.
Mungkin juga Cebongologi dan Kampretologi. Tergantung ada ilmuwan yang siap menekuni atau tidak.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Monday, November 11, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: