Mbak Pijet Miliitan Jokowi

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Hallo Young and Old Swing-Voters . . .
Hallo yang 54,9 percents . . .
Hallo juga 34,8 percents . . .

Kemarin pagi ndak sengaja lihat iklan di tivi. Iklan odol, pasta gigi. Di klaim mengandung 'siwak', ranting atau akar satu jenis tanaman, 'salvadora persica', yang secara tradisional dipakai sebagai odol sekaligus sikat gigi di Timur Tengah.

Dan hanya karena itu saja, ya, cuma dikatakan mengandung siwak saja, iklan di tutup dengan jargon, 'saatnya hijrah !' Wadouw ! 

Seingat saya 'Hijrah' itu peristiwa Nabi pindah dari Makkah ke Madinah. Perjalanan penuh marabahaya dan butuh strategi yg paripurna.

Diawali perjalanan malam yang justru menjauh dengan arah ke Madinah. Untuk mengecoh. Ali bin Abi Thalib, sepupunya, berperan pengganti dengan tidur berselimut di ranjang Nabi.

Menginap dan sembunyi dulu 3 hari dalam goa Tsur. Nabi ditemani Abu Bakar baru tiba di Madinah sekitar 20 hari-an.

Pokoknya rumit pol ! Lha kok sekarang ganti odol saja sudah berani nyebut hijrah. Apa ndak 'kucluk' dan menghina itu . . .

Memang sekarang banyak muncul definisi yg 'aneh2' atas beberapa kata. Aneh disini silakan dibaca 'sak enak udêl-nya'.

Termasuk diantaranya kata, hoax, kafir, dzalim, sorga, neraka, ulama, santri, bid'ah, rekayasa, dan lain-lainnya.

Kalau termasuk 'friend' meski pikirannya jorok dan bertingkah ndak genah, digelari ulama, kalau bukan meski 'berilmu', ya kafir, minimal pembela kafir. Kalau 'friend' yang suka bikin hoax disebut pahlawan kebenaran. Dan kalau ditangkap, yg nangkap disebut berlaku dzalim dan masuk neraka . . .

Kalau ada orang tahlilan disebut tukang bid'ah, kalau 'friend' meski nyolong harta rakyat dan umat tetep saja dipanggil tukang ngustat. Jika diusut dan ditangkap, dibilang rekayasa. Dan seterusnya . . .

Seorang perempuan paruh baya. Tinggi tubuh rata2. Jilbab dan pakaian selalu warna gelap. Meski kembang2. Orang tua asal Tegal. Tapi dia sendiri dari kecil ikut kakaknya di Lampung.

Seorang tukang pijet 'jempolan'. Sangat sopan. Kemana-mana bersepeda termasuk ke rumah para 'customer'nya. Sebut saja dgn mBak Pijet.

Satu malam dia, mBak Pijet, bertugas mijet Nyonya. Di lantai dilapis kasur tipis. Saya nunggui sambil tiduran di tempat tidur sambil baca2 buku. Nguping.

Mereka berdua, Nyonya dan mBak Pijet, ngobrol ngalor-ngidul, ndak tahu asalnya tiba2 nyaut Pilpres 2019. Ternyata si mBak Jokower Militan 

Cerita pertama-nya tentang dia dpt panggilan mijet pas tanggal 17 Januari, tepat Debat Pertama para CaWaPres. Dia nolak dengan alasan mau lihat debat.

Akhirnya terjadi proses negosiasi diputuskan mau mijet asal boleh sambil nonton debat. Artinya di pilih ruang yg ada tivinya. 'Customer' ngalah. Dan si mBak bisa mijet sambil nonton debat 

Ada cerita lagi, dia mijet orang yang pro- Prabowo. Si customer cerita apa saja tentang 'kejelekan' Jokowi. Tapi ndak ada cerita 'prestasi' Calon nomer 02. Si mBak ndak bereaksi. Inggah-inggih saja.

Namun waktu ditanya nanti milih siapa, dengan lugas si mBak njawab pilih Jokowi ! Wong sudah ada yang baik, ngapain diganti. Si mBak 'canthas' menambahkan dengan girang. Ini saatnya membalas, pikirnya 

"Goblog ! Wong dia itu banyak ngutang. Kamu dan anak-cucumu sekarang sudah nanggung utang !" Malah customer yang jadi berang.

Si mBak makin ngeyel tanpa rasa sungkan, meski tangannya tetep memijat. Profesional. "Ah, nyatanya saya dan anak cucu ndak ada yang punya utang kok !" 

Ditambahkan juga, adiknya yang punya warteg di Tegal, jadi makin laris dagangannya. Orang dari mana2, termasuk Jakarta, sekarang jadi sering main ke Tegal karena ada jalan Tol Jokowi !

Si mBak ini kalau omong gayanya kalau dalam wayang orang seperti Sembodro plus Srikandi. Kadang klêmak-klêmèk kadang lugas. Sering menjurus. Kadang malah nembak. Bikin orang grêgêtên. Tapi ndak sampai bikin marah orang.

Begitu PD utarakan pikirannya tanpa takut nanti dipanggil mijet lagi atau ndak. Tapi nyatanya tetap saja 'beliau2' manggil saya, ujarnya dengan bangga.

Sekarang balik lagi tentang definisi. Banyak teman2 sekerja, saya dulu juga pekerja, dengan enteng nyebut 'Cina2' atau 'Kafir2'. Kadang saya nasehati, "Ati2 kalau bicara, toh kalian sekarang kerja, yang ngasih makan, dan bos kalian, kafir dan cina juga lho !"

Mereka ngeyel, sok gagah. Ini seperti 'dagang' biasa. Menjual tenaga ! Umat bin Khattab pun ber-dagang dengan Yahudi juga !

Nah, ini salah definisi juga. Plus ngeyèl juga. Ber-jamaah. Karyawan kok disamakan dengan pedagang . . . 

Saya tanya pada mereka. Berani ndak kalian dipanggil Bos nolak ? Berani ndak kalian berangkat siang dan telat ? Berani ndak kalian mbolos kerja ? Berani ndak kalian sholat dhuha seenaknya, dari jam 9 sampai jam dhuhur ? Berani ndak setelah Jum'atan baca Qur'an sampai tiba waktu Ashar ?

Di jawab, "Tidak !" Itu berarti kalian 'bukan' pedagang. Karena para Pedagang itu 'setara' dengan 'Pembeli'.

Kalau pertanyaan yang sama, saya ajukan pada para Pedagang, jawabnya pasti, 'Siapa takut ?' Wong semua dia atur sendiri. Kalau males pun, resiko miskin dan kelaparan diatur dan ditanggung sendiri. Merdeka . . . .

Ya. Orang Merdeka itu contohnya kayak si mBak tukang Pijet tadi. Berani 'ngeyel'. Resiko dipanggil lagi atau ndak, terserah ! 

Makanya kalau mau bisa 'sembarangan' teriak kopar-kapir, jangan jadi karyawan para kafir. Pilih profesi jadi Pedagang, atau bahkan jadi Tukang Pijet saja . . . .

Sekarang ndak pake 'krak-krik' lagi ah ! Bosen. Ganti klonthang . . klonthang . . klonthang . . . !

Kok pating klonthang ? Itu bunyi dari 'Tong Kosong' yang biasa 'Nyaring Bunyi'nya ! Otak Kosong Nyaring Mulut-nya !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, February 9, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: