Mbak Nana, Rek

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Beban Berat Bawa Pesan Sponsor)

Rencana akan ada tayangan Najwa Shihab 'meets' Jokowi tempohari membikin hati saya senang. Gembira.

Sedari sore sudah saya pasang alarm untuk mengingatkan. Nunggu ndak sabar. Karena sepanjang pengetahuan saya, yang telah lama ndak ikuti sepak terjangnya sejak pindah stasiun tivi, mBak Nana, wanita cantik pesohor ini selalu tampil menggelitik dengan pertanyaan2nya.

Cerdas ceria ciamik, seperti penampilan luar-nya . . .

Jokowi seperti biasa tampil casual. Baju putih lengan dilinting. Celana hitam. Kaos kaki putih tertutup sneaker hitam.

Duduk santai dekati meja, seperti cara duduk mBak Nana. Tanda perhatian. Namun kaki tungkai kaki goyang seirama kecepatan daya pikirnya. Sekaligus mungkin berharap segera usai. Di belakang banyak kerjaan . . .

Harapan saya mBak Nana bisa jadi 'jembatan'. Berbagai macam pertanyaan dan harapan dari masyarakat, Warga Negara Indonesia, dengan Presidennya.

Masyarakat ndak semua suka dan cinta Jokowi. Banyak juga yang apriori atau bahkan benci. Ndak sedikit pula yang biasa2 saja. Netral. Jika baik ya baik tanggapannya. Kalau pun jelek, buruk pula tanggapannya.

Itu biasa . . .

Yang penting warga masyarakat tahu, ini lho, itu lho, 'know how' Pemerintahannya dalam tangani sesuatu. Dalam hal ini issue Covid-19.

Tapi ndak ngerti, sejak saat pertama mBak Nana buka bicara, kok saya rasa ada yang ndak enak. Gaya condongkan tubuh ke depan dengan senyum menawan, rasanya suguhkan 'gestur' yang bikin hati ndak nyaman.

Ternyata perasaan saya bener, paling tidak nurut saya. Banyak pilihan kata dan susunan kalimat, bahkan intonasi, terasa begitu memojokkan. Kadang terasa 'ndak sopan'

Sering terdengar 'dengusan'nya. Hem, hem, hem . . . Kayak polisi interogasi 'pesakitan'. Kata 'tapi' muncul juga menyergah omongan Jokowi, Presiden Republik Indonesia . . .

Makin lama makin 'mblênhêg' saya. Apalagi saat mBak Nana tanya Jokowi, penting mana Ekonomi atau Kesehatan ? Ndak mutu . . .

Lha ini sudah menginjak abad 21 tahun ke 20, dunia makin menyempit, berbagai macam isu dan masalah bisa saling kait dan saling mengisi, kok beri pertanyaan model pilihan ganda kayak gitu . . .

Itu model pertanyaan tahun 1945, jaman Perang Kemerdekaan. Merdeka atau Mati ?! Yo mesti milih merdeka lah . . .

Akhirnya saya ndak tahan. Makin 'mblênhêg' saja. Channel tak pindah. Lebih baik nonton Drakor. Lebih menarik lihat gaya Park Shin-hye. Kebetulan filem Memories of Alhambra baru nyampai episode 9. Ndak nafsu nonton lanjutannya lagi.

Ingat omongan Gus Dur. Usai rapat atau seminar ditanya, Kok bisa tahu isi seluruh yang dibicarakan nara sumber. Wong waktu mereka bicara, justru Gus Dur tidur. Meski begitu saat ditanya tangggapan beliau, selalu bisa dijawab dengan tangkas dan benar.

Gus Dur menjawab, 'Orang Indonesia itu suka omong panjang2. Padahal isinya ya gitu2 saja. Dengar saja ujung omongannya. Itu resume. Makanya saya bangun tidur pas ujung saja . . .'

Saya jelas ndak secerdas dan sepinter Gus Dur. Jauh pol !

Tapi ndak perlu pinter2 banget untuk ngerti 'resume' wawancara itu. Jauh sebelum acara usai. Percakapan antara Najwa Shihab dan Jokowi.

Najwa Shihab ternyata bukan dan ndak bisa, lagi, jadi 'Jembatan'. Penghubung masyarakat dengan Presidennya.

Najwa Shihab ternyata terlalu berat membawa beban. Beban 'sponsor'. Dari para penyuka 'hiruk-pikuk' yang suka menari diatas derita orang lain.

Derita para pasien Covid-19 yang gelisah. Para Nakes dan Relawan yang keletihan. Para Penganggur Baru karena PHK yang susah beli beras. Para Pedagang kecil yang makin susah cari rejeki. Kuli bangunan atau Pekerja Harian yang kelaparan dan bingung bayar kontrakan.

Saya jadi 'gêlo'. Bahkan sedikit 'nêlongso'. Kok tega ya . . . ?

Ah . . . Mbak Nana, Rek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, April 25, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: