Mbah Moen dalam Politik

Oleh: Kajitow Elkayeni

Saya tidak mengenal Mbah Maimoen Zubair secara langsung. Tapi melalui penuturan Mbah Mustain (Demak), saya mendengar banyak cerita tentang para ulama sepuh. Beliau adalah saksi hidup. Puluhan tahun di pondok pesantren Sarang. Beliau memanggil Mbah Moen dengan sebutan Lek Mun. 

Saya tidak bertanya mengenai muasal panggilan itu. Menurut saya usia keduanya tidak terpaut jauh.Tapi yang saya tahu, Mbah Moen ini yang mendorong Mbah Mustain untuk nendirikan pondok pesantren di Demak. Saya termasuk yang kemudian ikut ngangsu kawruh di sana. Meski hanya kilatan. Itupun dengan putra-putra beliau. Karena dari beliau, saya diajak berdongeng.

Berbeda dengan Lek Mun atau Mbah Moen, Mbah Mustain tidak berpolitik. Bahkan cenderung anti politik. Komentarnya terhadap politikus selalu sinis. Lelaki sepuh yang "nyegoro" ilmunya ini selalu merendah dan mengatakan hanya ngerti satu kalimat saja tak penuh. Setiap kali saya menceritakan perkembangan tentang Gusmus atau Mbah Moen, Mbah Mustain ini hanya berkata pendek, "Mereka putra kyai-kyai besar..." Saya menggangapnya sebagai bentuk kerendah-hatian.

Akhir-akhir ini beredar pendapat Mbah Moen di medsos mengenai Pemilukada Jakarta. Pendapat beliau dijadikan dalil tentang sah-tidaknya memilih pemimpin non muslim. Umat di bawah bergolak dan terbelah. Yang pro maupun yang kontra membawa qaul dari orang yang sama. Dan keduanya merasa sama-sama yang paling berhak atas pernyataan Mbah Moen itu. Lantas mereka seolah yang punya otoritas untuk menghalal-haramkan.

Saya tidak layak untuk memberikan pandangan untuk bersikap terhadap ulama sebesar Mbah Moen. Saya hanya debu. Saya tidak berani. Tapi yang saya sayangkan adalah mereka yang menyeret Mbah Moen ke kancah politik. Termasuk yang mengutip qaulnya untuk pembenaran politik. Seperti kita tahu, politik itu kubangan busuk. Ulama-ulama sepuh mestinya mengawasi dari jauh. Menjadi perekat dan penyejuk. Bukan terjun dan berkecipak di kubangan kotor itu. 

Orang-orang sepuh mestinya kita tempatkan pada posisi luhur. Kita hormati dengan sepenuh hati. Urusan remeh bernama politik praktis, biarkan dipikir oleh orang-orang muda yang suka berdebat, beradu gagasan. Politik praktis adalah arena gulat, tempat kita saling membanting, bergelut, saling dorong. Apakah layak kita membawa Mbah Moen ke dalam gelanggang itu?

Seperti halnya Mbah Mustain, saya menghormati Mbah Moen. Ulama sepuh adalah cahaya yang menenangkan. Melihat wajahnya yang teduh, mendengar dawuhnya yang lembut, menghasilkan kesejukan. Membasuh keluh-kesah dan meluruhkan daki perjalanan hidup. Melahirkan daya, menumbuhkan inspirasi. Benar belaka, merekalah pewaris para nabi. Kita menemukan atsar itu ada pada diri mereka.

Tapi semua itu kita rusak dengan menyeburkan mereka ke kubangan hina bernama politik praktis. Kandang yang dipenuhi binatang berbisa yang ganas. Mereka tidak salah, kitalah yang jahat dan kurang ajar. Kita yang selalu kekanak-kanakan dan tak tahu diri.

(Sumber: Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Thursday, October 20, 2016 - 11:30
Kategori Rubrik: