Mbah AR, Belajarlah Dari Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Sampai dengan tahun 2005, Jokowi itu bukan siapa-siapa dibandingkan dengan dirimu. Banyak orang tidak mengenalnya kecuali dia salah seorang calon wali kota yang bertarung dengan 2 kandidat wali kota lainnya untuk merebut hati wong solo menjadi Wali kota Surakarta masa bakti 2005-2010. Sebelum dicalonkan lewat partai besutan Megawati S, dia mengadu peruntungan lewat konvensi partai besutanmu dan tersingkir. Dengan susah payah dan terseok-seok perolehan suara Jokowi berhasil mengungguli perolehan suara dua kandidat lainnya.

Di bidang pengalaman politik, Jokowi jelas jauh tertinggal dari dirimu, mbah. Kamu pernah menjadi ketua ormas yang cukup besar pada jaman menjelang keruntuhan rejim korup Orde Baru. Pun pada 1998, kamu dengan lihainya memanfaatkan panggung untuk turut mengendalikan arah Reformasi. Sebagian kalangan menilai kamu salah satu penumpang gelap reformasi. Namun ibarat pepatah Anjing menggonggong kafilah berlalu, bukan ?

Kamu politisi ulung, mbah. Manuver politikmu dengan memunculkan poros tengah berhasil mempecundangi 2 tokoh kaliber nasional saat itu yaitu Megawati dan Gus Dur. Yang satu harus gigit jari sebab pada 1999, Megawati harus puas menerima kenyataan politik sebagau wakil presiden dan pada 23 Juli 2001 Gus Dur dilengserkan. Bahkan Gus Dur mengakui bahwa beliau menjadi Presiden hanya dengan modal dhengkul...iya dhengkulmu mbah. Dalam hal bermanuver seperti itu, Jokowi ibarat motor balada si Doel melawan Ducati.

Kenyang makan asam dan garam dalam urusan politik ternyata tidak membuatmu makin bijak mbah. Sementara kamu berkutat mengelus-elus kejayaan masa lalu, Jokowi yang sekampung halaman denganmu konsisten menatap ke depan baik sebagai Walikota, Gubernur maupun yang paling mencolok menjadi Presiden.

Lihatlah Jokowi dengan pandangan, hati dan nalar yang jernih, mbah. Kemudian temukan sebuah alasan yang tepat untuk membenci dan memusuhinya. Alasan yang tepat, mbah bukan hoax dan informasi yang belum tentu kebenarannya. Bukankah orang yang cerdik cendekia dan paham serta mendalami agama identik dengan orang yang jiwanya tenang, tidak gelisah ? Tanyakan pada dirimu mbah kenapa jiwamu justru resah dan gelisah ?

Apakah kamu belum bisa menerima kenyataan mengapa Jokowi yg dulunya nobody, hijau dalam politik, kalah pamor dalam intelektualitas dan ilmu agama justru menjadi pilihan rakyat ? Jokowi dan kamu yang sama-sama berasal dari kota Solo sama-sama menapaki jalan politik dengan intensi dan determinasi yang berbeda. Hasilnya pun berbeda. Kamu terpenjara dan menjadi milik masa lalu sedang Jokowi berjalan menuju dan menjadi milik masa depan.

Andai kamu menyisakan ruang dihatimu untuk rendah hati, tentu banyak yang dapat kamu pelajari dari sosok Jokowi. Dihina, dicaci, dibenci dan difitnah namun dengan ikhlas hati mengatakan "aku ra popo" sembari terus bekerja untuk rakyat. Tidakkah kamu bertanya-tanya spiritualitas macam apa yg dihayati oleh Jokowi yang seakan tidak kenal lelah bekerja dan menyapa rakyatnya di seluruh Nusantara ?

Mbah, manfaatkanlah waktumu di usia senjamu untuk menjadi guru dan teladan bangsa. Masih ada waktu untuk itu. Bangsa ini membutuhkan banyak guru bangsa yang mampu memberikan teladan, ujaran-ujaran sejuk dan pesan-pesan kebijaksanaan. Terlalu banyak provokator, bigot, demagog serta pengujar kebencian yang mencemari nurani rakyat dan akal sehat. Mbah, keluarlah dari kubangan sampah itu atau kamu akan tenggelam di dalamnya. Belajarlah dari Jokowi dan bersahabatlah dengannya.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu Nugroho

Saturday, October 13, 2018 - 23:30
Kategori Rubrik: