Mayor "Edan" yang Jujur

Oleh: Ali Valentino

Rencana beliau pensiun dini dari militer untuk mengikuti Pilkada sama saja dengan mempertaruhkan karirnya, bagus bila terpilih tapi bila tidak maka selesailah karir laki-laki kelahiran 1972 ini. Itulah mengapa keluarga beliau pada saat itu mengatakan beliau "edan".

Tetapi karena usaha-usahanya mampu mengambil hati masyarakat Batang, maka beliau terpilih menjadi Bupati untuk periode 2012-2017. Beliau berjanji pada masyarakat Batang, bila dalam 3 tahun beliau tidak mampu merubah Kab. Batang menjadi lebih baik, maka beliau akan mengundurkan diri.

Sehari setelah dilantik, beliau mengirim surat pada seluruh kepala dinas agar tidak memberikan proyek pada siapapun yang meminta baik keluarga, kerabat, teman ataupun tim sukses beliau. Beliau memerintahkan agar surat tersebut ditempel disetiap meja kepala dinas. Karena sikap anti korupsi selama menjabat beliau mendapatkan penghargaan "Bung Hatta Anti-Corruption Award", sama seperti penghargaan yang diterima Bung Joko saat menjabat walikota Solo.

Seperti kepemimpinan Bung Joko, gaya kepemimpinan Pak Yoyok juga merakyat, jujur, anti korupsi dan sangat sederhana. Rumah beliau tanpa penjagaan baik dari satpol pp atau polisi. Beliau mempersilahkan masyarakat datang 24 jam ke rumah dinas bila ingin bertemu beliau. Kemana-mana beliau selalu menyetir sendiri kendaraannya (innova model lama) tanpa pengawalan. Mobil dinasnya (Camry) malah terparkir di kantornya karena memang TIDAK pernah beliau gunakan. 

Setiap hari beliau menggunakan sepeda untuk shalat lima waktu di Masjid Jami'. Jadi siapapun yang ingin bertemu beliau, bisa menemuinya diwaktu-waktu shalat. Kepeduliannya pada masyarakat dan semangat anti korupsi, beliau mampu meningkatkan pendapatan daerahnya yang diawal kepemimpinannya hanya 67 milyar/tahun sekarang meningkat menjadi 186 milyar/tahun.

Beliau memangkas birokrasi yang menyulitkan rakyat, beliau membangun infra struktur dan memperbanyak fasilitas-fasilitas umum yang dibutuhkan oleh rakyat. Dan beliau berhasil memajukan kota Batang. Lalu bagaimana seorang militer mampu menata kota dan birokrasi dengan baik? Menurut pengakuannya, beliau banyak belajar pada Ibu Risma (walikota Surabaya). Beberapa kali beliau ke Surabaya untuk belajar sistem penataan kota dan lain-lain. Dan beliau berhasil menerapkan di kotanya.

Yang aku sayangkan, beliau hanya ingin memimpin satu periode saja, dan tidak ingin mencalonkan diri lagi pada periode kedua. Karena beliau menginginkan kotanya dipimpin oleh orang yang lebih baik dari beliau

"Tugas pemimpin yang paling berat adalah bagaimana menghasilkan pemimpin baru yang lebih baik dari sekarang" (Yoyok Riyo Sudibyo)

 

Monday, February 1, 2016 - 00:00
Kategori Rubrik: