Maulwi Saelan, Saksi Hidup Dibengkokkannya Sejarah oleh Orde Baru

Oleh: Mas'ad Taharani
 

Usianya akan genap 90 tahun, 8 Agustus mendatang. Suaranya masih jelas, meski kadang cukup lirih. Badannya sudah tidak sebugar beberapa tahun lalu. Namun ingatannya masih tajam.

Saat kami menemuinya Jum'at siang, dengan antusias, dia bercerita tentang kekagumannya yg sangat dalam pada bung Karno. Presiden yg pernah dikawalnya di tahun-tahun terakhir kekuasaannya. Juga tentang hari-hari paling menderita dalam hidupnya, ketika ia ditahan lebih dari 5 tahun oleh rezim orde baru, tanpa pengadilan. Ia pernah ditahan dalam sel isolasi, selama sepekan: dibiarkan kehujanan, kehausan dan kelaparan berhari-hari.

Maulwi Saelan, Kolonel Tjakrabirawa, mantan Ajudan Presiden Sukarno itu, dipenjara tanpa pengadilan, karena menolak membuat kesaksian palsu bahwa presiden yg sangat dihormatinya itu terlibat G 30 S.

Tanpa pengalaman buruknya ditahan dan diperlakukan semena-mena oleh orang-orang sebangsanya sendiri itu, hidup Maulwi Saelan sesungguhnya lebih dari cukup, untuk disebut luar biasa. Betapa tidak, ia adalah pejuang perang kemerdekaan yg ditakuti Belanda. Ia juga kiper legendaris dan pernah menjadi kapten Timnas sepakbola nasional pada era 1950-an, yg prestasinya tidak main-main. Tahun 1954, timnas yg dikapteninya meraih medali perunggu dalam Asian Games di Tokyo, Jepang (prestasi tertinggi yg pernah dicapai timnas sepakbola Indonesia). Setahun kemudian, timnas yg juga diperkuat oleh Ramang (legenda sepakbola nasional) itu, sukses menahan imbang 0-0 kesebelasan Uni Sovyet dalam Olimpiade Melbourne (1955).

Selepas dari penjara Orde Baru, Maulwi Saelan, yg sudah dikeluarkan dari kemiliteran, mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan. Dengan dukungan Hamka, ia mempelopori pendirian perguruan Al Azhar, yg kemudian hari melahirkan banyak sekolah, dan perguruan tinggi Al Azhar.

Kini, di usia senjanya, pak Maulwi mengaku sudah sangat bahagia, karena pernah menjalani hidup yg sangat berwarna. Dan meski, telah lama memaafkan orang-orang yang pernah bertahun-tahun memenjarakannya tanpa pengadilan, dia tetap berharap, agar berbagai narasi sejarah yang pernah dibengkokkan oleh rezim Suharto diluruskan.

"Sejarah yg salah harus diluruskan. Ya, meski seiring perjalanan waktu, seperti pesan Bung Karno pada saya, sejarah pada akhirnya akan selalu mengungkapkan bahwa yganan benar adalah benar, dan yg salah adalah salah".

 

(Sumber artikel dan foto: Facebook Mas'ad Taharani)

Friday, April 8, 2016 - 22:00
Kategori Rubrik: