Maulid Nabi

Maulid

Oleh : Aldinsyah Vijayabwana

Cerita tentang sejarah Nabi Muhammad, tentang kelahiran beliau, adalah urusan pendidikan agama Islam di tingkat dasar dan menengah. Pada tingkat yang lebih tinggi, sebaiknya kita merenungkan makna kelahiran Nabi Muhammad, Rasulullah saw., secara lebih mendalam. Ini juga terkait dengan tujuan diutusnya Rasulullah di bumi ini.

Dalam Alquran Allah swt. telah berfirman yang artinya:
"Tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS Al-Anbiya: 107)

Rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, adalah tujuan utama diutusnya Rasulullah saw. Tujuan ini sangat luas maknanya, namun ada satu lagi tujuan yang lebih spesifik, yang disampaikan Rasulullah saw. dalam hadist beliau:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Bukhari)

Dengan begini, jelas bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Sempurnanya akhlak ini menjadi jalan untuk mewujudkan kasih, mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Tujuan ini sudah sepatutnya menjadi tujuan kita umat muslim, yang mengaku meneladani beliau. Namun, bagaimana faktanya?

Sejak tahun 2014 silam, ujaran-ujaran kebencian, fitnah, hasut, hoax, banyak beredar hingga sekarang. Sedihnya, ini banyak dilakukan oleh umat Islam. Lebih parah lagi, hal-hal tersebut disandingkan dengan ayat Alquran, dijadikan alat politik, yang berhasil memecah-belah masyarakat kita.

Terhadap pemimpin-pemimpin kita, meskipun ada ajaran akhlak untuk mengingatkan kesalahan dan mengkritik beliau-beliau ini, tetap saja kita lebih memilih ujaran kebencian atau bully yang tak membangun. Bukan menggunakan kritik berakhlak yang memberikan solusi. Ketika ditindak sesuai hukum yang berlaku, lantas berlindung pada kebebasan berpendapat, lupa bahwa sejak SD sudah diajarkan kebebasan yang bertanggung jawab.

Ketimbang membangun persaudaraan dengan rekan-rekan kita yang berbeda keyakinan, kita cenderung menajamkan perbedaan tersebut dengan dalih akidah. Maksud saya, bukannya saya ingin mempreteli akidah. Saya hanya tidak mau jika dalih akidah digunakan untuk mempertajam polarisasi dengan cara meributkan hal-hal yang tak perlu, sesuatu yang tidak layak dilakukan di era sekarang ini.

Ketimbang berkontribusi kepada umat manusia secara luas, umat Islam saat ini masih sibuk dengan saling ribut dengan hal-hal yang tak perlu. Kita masih ribut dengan reuni angka cantik, masalah khilafiyah, beda preferensi politik, tanpa sadar bahwa masih banyak hal produktif yang bisa dikerjakan bersama.

Contoh saja, saat ini, dalam berbagai bidang, riset sedang berkembang pesat. Sementara umat Islam, cuma kebagian mencocoklogikan hasilnya dengan Alquran dan hadist. Kenapa? Ya karena kita sibuk dengan ribut yang tidak perlu.

Sederet fakta di atas membuat kita bertanya: sudahkah kita mencapai tujuan kita seharusnya? Dan yang lebih penting, sudahkah kita berusaha untuk mencapainya, atau kita masih terjebak pada hal-hal yang tak perlu?

Kutipan Jumat ini:
"Allah Maha Pengasih. Rasul-Nya diutus untuk menebarkan kasih bagi seluruh alam. Kenapa umat-Nya malah alergi sama kata 'kasih'?"

Sumber : Status Facebook Aldinsyah Vijayabwana

Friday, December 1, 2017 - 12:45
Kategori Rubrik: