Maulana Budi Arif Satrio

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Tak maksud mem-provokasi atau apa, saya menulis ulang cerita ini. Sekedar ungkapkan betapa tidak sederhana hal-ikhwal dampak pandemi Corona ini.

Penanganan, antisipasi, bahkan juga respon dan reaksi masyarakat atas aturan yang ditetapkan oleh pemerintah juga beragam. Luas sebaran arti, maksud, definisi, atau nilainya.

Sering tidak ada batasan tegas, hitam-putih. Begitu samar. Dan begitu rumit. Sangat manusiawi. Yang kadang juga nggrêgêti . . .

"Mau kemana, Pak ?" Tanya sapa Ibu pemilik warung makan di satu waktu 'surup'. Waktu sibuk warungnya dengan orang2 yang makan atau sekedar minum untuk ber-buka. Tak biasanya si Ibu bgt perhatian. Namun 'tamu' kali ini agak lain. Tak dilihatnya dia turun dari sepeda motor atau mobil. Naik apa . . . ?

Tampilan lusuh. Nampak sekali garis2 lelah di wajahnya. Namun dibalik mata sayunya seakan terpancar sesuatu. Begitu jelas. Mungkin rasa rindu . . .

Hanya bersandal. Tas ransel yg tadi disandang, digeletakkan saja di lantai. Begitu juga tas plastik kreseknya, yang ternyata berisi sepatu. Yang tersisa nempel hanya tas selempang. Dingklik, tempat duduk papan kayu panjang, penuh pengunjung.

Si Ibu tercengang, juga tamu lain. Bahkan ada yang sampai tersedak, mendengar jawaban tamu yang 'satu' ini, "Solo . . ."

Dia katakan, dari Cibubur, daerah selatan-timur Jakarta, dengan berjalan kaki menuju Solo, Jawa Tengah.

Warung itu sudah berjarak ratusan kilometer dari Cibubur, namun masih puluhan, ratusan kilometer lagi untuk menuju kota Solo . . .

Maulana Arif Budi Satrio, seorang pengemudi angkutan pariwisata sejak 3 tahun lalu yang bermukim dekat tempat kerjanya di daerah Cibubur, yang lebih dikenal sebagai Rio.

Wabah Corona sebabkan perusahaan tempat dia bekerja jadi surut, dia pun terpaksa di rumahkan untuk sementara waktu.

Dalam kondisi tanpa pekerjaan, untuk tetap bertahan di Cibubur tentu meresahkan. Bayar kontrak harus terus berjalan, selain pengeluaran harian untuk minum dan makan.

Hal itu mendorongnya untuk pulang mudik ke Solo. Awalnya naik bis. Namun yang datang ternyata cuma Elf, sejenis minibus. Yang tentu saja akan duduk berdesakan. Dibatalkan.

Lalu pinjam mobil setir sendiri. Sampai di Cikarang di suruh putar balik. Memang aliran arus mudik telah dilarang.

Namun tak surutkan tekadnya. Niatkan akan berjalan kaki saja untuk menuju Solo . . .

Siapa pun paham dan tahu, jarak Jakarta Solo bukan lah dekat. Sekitar 500 kilometer. Kecepatan orang berjalan kaki paling 10 - 13 kilometer per-jam. Sehari juga paling cuma kuat 10 jam. Dalam keadaan ber-puasa . . .

Akan sampai Solo berapa hari . . . ?

Teman2nya sudah mencegah. Tinggal saja bareng2 di rumah mereka. Namun dalam keadaan sama2 serba susah, pasti bikin risuh dan tak enak hati, bagi pak Rio.

Dan setelah sembahyang Subuh, Senin tanggal 11 Mei, berangkatlah pak Rio pulang menuju Jebres, Solo. Dengan berjalan kaki . . .

Selasa dinihari sudah sampai sekitar Cirebon. Hari Kamis, 3 hari setelah berangkat, sampai Gringsing. Kota kecil sebelah barat kota Batang. Jadi sudah sekitar 350 kilometer-an pak Rio berjalan. Tak diceritakan apakah sudah sempat berganti sandal . . .

Dari kabar mulut ke mulut, berita pulangnya pak Rio sampai di telinga teman sesama sopir angkutan. Dia pun di jemput dan di bawa ke Solo. Sisa jarak perjalanannya pun ditempuh jauh lebih cepat. Karena naik mobil.

Hanya beberapa jam sudah sampai. Segera di inapkan' sementara di Graha Nata. Tempat isolasi atau karantina yang telah disiapkan oleh Pemda Solo bagi para pemudik . . .

Bagi saya, kisah pak Rio, Maulana Arif Budi Satrio, sungguh mengesankan. Orang yang punya semangat 'hero'.

Memang telah langgar aturan 'Jangan Mudik'. Tapi dengan berjalan kaki sendirian, di tengah panas matahari terik, tak langgar aturan 'jaga jarak', bahkan 'social distancing'.

Inilah inti dan semangat PSBB dan Lokdan-lokdon. Bukan sekedar aturan tertulis, namun diumbar, lalu bagi-bagi sembako . . .

Maulana Arif Budi Satrio, pak Rio, tentu bukan sekelas orang yang berkerumun saat 'count-down' warung ayam goreng. Bukan juga golongan orang yang menyesaki Mall cuma buat belu baju lebaran.

Jauh kelasnya dari orang yang sudah ngerti positip Corona, tapi maksa jadi Imam sholat. Lebih tinggi 'maqam'nya dari orang2 yang berdesakan dalam tabligh . . .

Maulana Arif Budi Satrio, bergerak sesuaikan isi hati nurani-nya. Sangat mungkin beliau setiap harinya selalu berlaku santun dan penuh adab. Pada sekitar, dan tentu saja pada Tuhannya . . .

Hingga setiap gerak langkahnya selalu dijaga oleh-Nya. Tak akan mungkin menyakiti siapa saja, tak kan merusak terjang apa-apa . . .

Dan memang semua tampak jelas dari jawabannya atas satu pertanyaan, setelah keluar dari karantina, apa yang akan dilakukannya ?

"Ingin menengok makam Bapak-Ibunya. Di Kadipiro, Solo . . . . "

Memang pak Rio, jenis Pemudik yang lain. Nyucuk dengan namanya Maulana Arif Budi Satrio . . .

Pemimpin 'Laku' yang selalu Arif dalam bertindak bak Ksatria . . .

Adab . . .
Adab . .
Adab . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Thursday, May 21, 2020 - 23:30
Kategori Rubrik: