Mau Ngajak Benci Jokowi?

ilustrasi

Oleh : Han Dyani

Dl pernah ada orang di friendlist..Akunnya punya nama yg menggetarkan. Mengandung makna mendalam kurasa. Mengingatkanku pada misteri huruf mim atau titik dibawah huruf ba.

Aku jatuh cinta pada postingan2nya. Bahasanya keren, nyufi gitu. Dia jg sering komen, dan aku sangat suka komen2nya. Ya gitu. Sarat makna gitulah. Waktu itu aku masih suka CN. Apalagi pas beliau ngomongin soal islam radikal yg beragama ugal2an kayak jaran. Kami sering ngobrolin ajaran2 CN. Setiap aku bertanya, dia menjelaskan dengan senang hati.

Aku tidak tau seperti apa wajahnya. Pict profilnya seperti cover buku2 sufi, seperti embun jatuh tapi dibingkai lukisan senja. Aku ubek2 isi fbnya gada satupun wajah. Tapi tak apa. Kupikir seperti apapun dia tetaplah tampan, aku sudah memutuskan makrifat  pada apa yg disebut rupa jika seseorang itu menarik buatku, mampu menyentuh hatiku dg kebijaksanaan dan pemikirannya gitu. Menurutku orang seperti itu memiliki ketampanan filosofis yang melampaui kriteria2 fisik.

Ketika aku mulai menunjukkan kesukaanku pada Jkw dia komen halus menunjukkan rasa kecewa. Aku sedikit kaget, orang seluas dan sedalam ini kok ga suka sama Jkw. Biasanya kan yg ga suka Jkw itu yg sempit2 dan cetek2 gt Maksudnya gini, kalopun ga suka, biasanya yg spesies begini tidak kuasa membenci. Hatinya sudah bebas dr rasa benci bahkan terhadap iblis. Aku yakin bahkan dia berfikir bahwa iblis adalah mahluk paling mumpuni dalam ilmu ikhlas. 
Jadi kalopun ga suka ya biasanya dia mengambil posisi netral sambil kritik tipis2 kek golput level premium.

Tapi dia tidak, dia mendadak kekanakan. Dia mengungkapkan rasa kecewanya yg banget nget..nget.. kenapa harus aku. Sepertinya dia patah hati banget. Seperti seseorang yg menaruh harapan besar lalu dihianati.

Jujur aku kaget dengan reaksinya. (Padahal waktu itu aku baru ngungkapin kekaguman tipis2 pd Jkw yg menurutku 'dia seseorang yg berbeda dan sepertinya membawa harapan'. Rasa cintaku waktu itu pada Jkw belum terlalu mendalam belum segila sekarang).

Dia bilang: Bu Mega dan Jkw tak kan pernah bisa mendekati CN. Takkan kuat. Mereka bisa kobong.

Jelas aja aku menyangkal hal2 yg ga bisa dibuktikan gitu. Terjadi perdebatan panjang. Dia tak berhasil meyakinkan aku apapun. Padahal aku ( waktu itu ) masih type yg lebih gampang terpesona dan gampang dipengaruhi. 
Ujung2nya setengah putus asa dia bilang : cintailah CN. Aku pingin kamu mencintai CN sepertiku.

Trus aku tekon: kenapa harus? Apa alesannya? Sedang aku mulai ragu akhir2 ini blio aga gimana. Tidak konsisten gt.

Trus dia, dg kepedihan ntah beneran ntah gombal berkata samar bahwa akulah alasannya. Aku lupa bahasanya, tapi kalo kusimpulkan secara geer, sepertinya dia naksir aku, dan ingin aku menapaki jalan maiyah bersamanya. Biar syahdu kalo mendiskusikan alam semesta ini, ngunu.

Setelah pengakuan itu dia ga ada lagi di friendlistku. Aku tidak tahu pasti alasannya, yang jelas dia menderita. Kepergiannya menghindariku awalnya geer kusimpulkan bahwa dia sedang menjalani lelaku meninggalkan sesuatu yang membuat hatinya terikat. Soalnya waktu bikin pengakuan dia menyukaiku tuh kek menderita banget  seperti seseorang yg sedang menempuhi jalan tirakat tapi hatinya condong pada suatu unsur duniawi. Ayam geprek Bang Kotan misalnya. Lalu dia borong ayam geprek itu. Dia jejalkan habis2an ke mulutnya sampai muntah, blenger dan menceraikan ayam geprek untuk selamanya.

Tapi bisa jadi tidak begitu. Bisa jadi dia menghindariku karena kecewa aku menyukai Jkw.

Sumber : Status Facebook Han Dyani

Wednesday, May 8, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: