Matinya Kritikus

ilustrasi

Oleh : Sunardian Wirodono

Sebelum matinya kepakaran, kritikus kayaknya sudah lama mati duluan. Meski bukan berarti kritikus sama dengan pakar. Kecuali di medsos kayak fesbuk ini, yang tak bisa membedakan antara kritik dengan nyinyir. Karena itu menyampaikan kritik bisa dituding nyinyir sebagai iri tanda tak mampu.

Walaupun di Indonesia, yang dulu kita tuding kaum nyinyir, kalau mereka kita kritik maka akan menuding balik kitalah yang nyinyir. Kita? Itu kalau sepakat dengan paragraf di atas. Karena bahkan seorang profesor, ketika gubernur idolanya dikritik tak bisa mengelola sampah, bisa dengan sombong bertanya pada pengritik, “Anda ini siapa?”

Walau pun jika ditelisik, yang berkomentar itu ternyata track record atau rekam jejak digitalnya sama saja. Itu jika melihat postingannya selama proses pilpres lalu. Meski postingan-postingan nyinyir dan hoax mereka kini sudah banyak dihapus.

Dikiranya sebutan kecebong dan kampret mudah dihapus. Senyatanya, pertarungan terus dibangun. Bahkan setelah Prabowo tampak loyo, dan hopingan dengan kubu Jokowi, kini Anies Baswedan menjadi jagoan baru. Untuk digadang-gadang jadi Kuda Troya capres 2024 mendatang.

Sebenarnya bukan barang baru. Bahkan sejak Pemilu pertama kali di Indonesia, pada 1955, pertarungan dengan embel-embel ujaran kebencian, juga fitnah dan hoax, sudah dimulai. Kalau mau nelusuri lebih jauh, dari jaman Ken Arok juga sudah ada. Termasuk bagaimana melibatkan kaum agama dalam politik kekuasaan, hingga akhirnya Ken Arok merebut kekuasaan Kertajaya, raja Kadiri, dengan memanfaatkan sentimen agama para brahmana.

Jadi, jangan cuma nyalahin generasi sekarang. Para leluhur kita juga memberi contoh buruk, meski bukan berarti tidak ada contoh baik. Sama seperti sekarang, belum tentu politikus atau elite memberi contoh buruk mulu. Orang yang keren, baik hati dan tidak sombong juga ada.

Nggak ada hubungan antara ras, suku, agama, pendidikan, gender, wajah, dengan sikap atau perilaku, juga kecerdasan dan rasa empatinya. Nilailah manusia atas perbuatannya, bukan karena asal-usul atau statusnya. Itu sebab orang Jawa mengajar ‘aja gumunan’, ‘aja kagetan’, ‘aja ngentutan’. Jangan mudah jatuh heran, kenapa ada begini ada begitu.

Lihat orang berpendidikan tapi bodoh, kok bisa ya? Lihat orang jengkang-jengking, kok jahat ya? Ada orang gondrong, tatoan, kok baik hati, peramah dan sopan, ya? Lihat saja perilakunya, outputnya. Bukan chasingnya. Lihat isi kritikannya, bukan siapa yang ngritik.

Walaupun itu juga sebagai pertanda, pada dasarnya kita cenderung tak suka dikritik, meski suka mengkritik. Bukan hanya dalam sikap keseharian, dalam berkesenian juga demikian. Apalagi dalam politik dan agama. Kritik itu pokokmen jelek. Bukan kepribadian kita.

Lha kepribadian kita apa? Kepribadian kita adalah mengritik, bukan dikritik. Maka jika ada yang ngritik, ya, langsung balas kritik. Dan yang ngritik kita sebut nyinyir. Tak peduli argumennya apa. Pokokmen gitu!

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono

Saturday, August 3, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: