Matikan TV-mu

Oleh: Sunardian Wirodono

 

 Selepas sepuluhtahunan kerja di stasiun TV Jakarta, bersama 5-7 teman, kami punya jadwal rutin tiap Jumat malam nonton film Indonesia. Film apapun, cerita apapun, sutradara apapun, pemain apapun, yang diputar di bioskop Twenty One Jakarta. 

Namun kejadiannya hampir sama. Belum pernah bioskop terisi lebih dari 20 orang. Bahkan pernah hanya ditonton 8 orang, 5 adalah saya dan kawan-kawan. Itu kira-kira tahun-tahun 2000 - 2012.

 

Yang ditonton 8 orang tadi, lupa-lupa ingat, kayaknya di daerah Pasar Minggu. Waktu itu diputar film ‘Jakarta Hati’ (2012). Sebuah film model omni-bus, yakni satu paket film berisi lebih dari satu cerita. Bisa beragam cerita, dengan penulis skenario, sutradara dan pemain yang berbeda pula. Dari 6 cerita yang berbeda, Jakarta Hati disutradarai Salman Aristo doang, dengan skenarionya pula. 

Ada beragam tema di JH yang berdurasi total 1 jam 52 menit. Dalam cerita yang berbeda-beda itu, pemainnya antara lain Surya Saputra, Slamet Raharjo, Didi Petet, Agus Kuncoro, Ence Bagus, Roy Marten, Andhika Pratama (yang masih culun), Dwi Sasono, Shahnaz Haque, Jajang C. Noer, Choki Lubis, dll, dll. 

Nah, dalam cerita ke-empat, ‘Hadiah’ berdurasi 22 menit, adegan dibuka tokoh yang diperankan Dwi Sasono dalam posisi tidur, dan kemudian terbangun suara handphone. Sepanjang film kami ber-5 terus ngomel, kayak nonton sepakbola (apalagi serasa nonton di bioskop pribadi). Melihat adegan awal cerita ‘Hadiah’ itu, kami tambah ngomel. 

Kami menduga qlue akan dibuka info dari suara handpone. Beberapa teman kemudian nyindir saya, “Ini cerita tentang Mas Wiro”, kata mereka. Dwi Sasono memerankan seorang penulis skenario film, yang idealis tapi bokek. Hahaha, ketawa ngakak saya dalam bioskop.

Tapi menjadi surprise, ketika Dwi Sasono membuka-buka isi dapur, yang cuma ada indomie doang. Setelah membuka kulkas yang kosong, tokoh ini mengambil buku yang terletak di atas kulkas. Wuih, buku di atas kulkas? Buku apa saudara? ‘Matikan TV-Mu’, di-shot khusus beberapa second. Saya teriak, “Itu bukukuuuu,....”

Teman-teman saya hilang kantuknya. Kemudian kita ribut, tebak-tebakan endingnya menurut versi kami masing-masing. Buku saya itu terbitan 2006 (Resist Press). Mengenai refleksi dunia industri televisi di Indonesia. Ehm, thank’s Salman Aristo, ngiklanin gratis!

Hari-hari ini, ada seruan ‘matikan tv’. Khususnya pas pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI 2019 2024. Saya tidak akan mematuhi seruan sirik itu, meski kalimatnya 'menjiplak' judul buku saya. Uhuk! Penting banget yah? 

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Wednesday, July 10, 2019 - 19:15
Kategori Rubrik: