Matikan Media Sosial

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dalam kasus simpang siurnya berita hoaks yang tidak bertanggung-jawab di media sosial, saya setuju kalau sementara waktu beberapa platform media sosial dengan kesadaran pada menonaktifkan diri.

Bagusnya diprakarsai oleh masing-masing penyelenggaranya sendiri. Biar kalau ada sok protes, silahkan saja kepada pemilik WA, FB, IG dan lain-lain, bukan kepada negara. Nantikan pemilik platform tinggal menjawab,"Lu nikmatin media kita gratisan aja pakai sok protes segala. Pernah merasa bayar? Gak pernah kan? Kok protes?".

Yang menonaktifkan bukan pemerintah, tapi inisiatif yang punya platform. Tentu mereka harus diajak kerjasamanya demi keutuhan nusa dan bangsa.

Lalu pihak yang berwenang kudu mengaktifkan berita resmi lewat semua jaringan TV, radio, portal web internet. Biar masyarakat tidak mendapat informasi yang keliru, bias, menyesatkan.

Misalnya di TVRI, TV swasta teresterial, TV berlangganan, TV parabola, TV kabel dan semuanya tiap saat menampilkan arahan-arahan yang positif dari sumber resmi yang berwenang dan struktural.

Boleh juga para ulama diminta merekam pakai HP ceramah dari rumah masing-masing menyampaikan kajian yang mengarahkan positif. Pada intinya mengajak bubar dan tidak kumpul-kumpul dulu, rajin cuci tangan, jaga jarak, tidak keluar rumah, jangan bikin berita bohong, jangan nuduh-nuduh sembarangan dan seterusnya.

Ditambah liputan positif tentang kosongnya semua tempat, seperti masjid, mal, pasar, dan tempat yang biasanya orang pada kumpul. Ini biar semua orang ikut serta program pencegahan virus secara kompak.

Boleh juga wawancara artis atau para pesohor. Misalnya mereka melaporkan via HP ngapain aja aktifitas di rumah ketika sedang mengisolasi diri sekeluarga di rumah masing-masing.

Pendeknya isi konten yang positif, lurus, jujur, bertanggung-jawab dan tidak menyesatkan, juga tidak bawa-bawa pesan sponsor kepentingan politik tertentu.

Ibarat kita lagi di pesawat terkena turbulensi keras, tidak perlu semua penumpang ikut ngatur. Serahkan komando kepada kapten, biar dia koordinasikan para awak bekerja.

Kalau awak perintahkan pakai sabuk pengaman, ikuti saja. Jangan sok belagak punya nyawa 12 biji. Kalau awak perintahkan tundukkan kepala dan badan, lakukan segera. Jangan malah pada joget dansa-dansi.

Jangan ada yang sok jadi pahlawan, jangan maki-maki awak pesawat, jangan cari-cari kambing hitam. Semua konsentrasi untuk menyelamatkan diri. Namanya juga musibah, tidak bisa dielakkan.

Dan jangan ada satu pun yang berupaya loncat lewat pintu darurat, padahal masih di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut.

Jangan ada yang nambah-nambah keributan di dalam kabin dengan teriak-teriak bikin semua penumpang tambah panik. Jangan teriak kita akan mati, korban tidak ada yabg selamat, kalau pun selamat pasti pada gosong, patah tulang, terbakar dan semua cerita horor lain.

Jangan sampai niat baik dilakukan dengan cara yang keliru. Katakan saja bahwa dari semua moda transportasi, pesawat masuk yang paling aman. Maksudnya biar penumpang tenang dulu. Ikuti semua prosedur.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, March 27, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: