Mati

Oleh: Kajitow Elkayeni

 
 

Hawking dikabarkan meninggal. Saya turut berduka untuk ateis satu ini. Keyakinannya untuk menolak keberadaan Tuhan dijalani dengan sungguh-sungguh. Saya tak bisa jadi ateis. Satu-satunya alasan saya, karena ateisme tak memberikan jawaban atas kematian.

 

Jika engkau ateis, mati bagimu adalah kembali menyemesta. Ribuan atau jutaan tahun lagi jika beruntung, partikel dirimu akan mengalami "kecelakaan" dan menjadi makhluk hidup lagi. Jika tidak, engkau akan jadi materi penyusun jagad raya. Untuk masa yang tak terbayangkan.

 

 

 

Apapun yang kau lakukan dalam hidup ini sia-sia. Ini jika jatuh pada nihilisme. Kesia-siaan hidup itu dilihat dari jarak yang sangat panjang sesudahnya. Jutaan tahun lagi, tidak ada satu makhlukpun yang mengingat keberadaanmu.

 

Mengingat mati, satu tahun belakangan ini membuat saya benar-benar tak menemukan jawaban. Semakin dalam kita merenungkan kematian, semakin gelap yang kita lihat. Harus bagaimana hidup ini? Orang baik, mati. Orang jahat, mati. Orang kaya, mati. Orang miskin mati.

 

Ada yang mengatakan, "Jasadmu boleh mati, tapi tulisanmu abadi." Ini omong kosong. Jarak yang jauh itu, ribuan atau jutaan tahun lagi, keberadaan kita ini sia-sia. Apapun yang kita lakukan sia-sia. Waktu akan menghapuskan keberadaan kita, peradaban kita.

 

Dalam teisme, sedikit ada kabar baik sekaljgus kabar buruk. Kau akan dihidupkan kembali, tapi untuk menerima balasan atas perbuatanmu.

 

Ada beberapa manusia yang dikabarkan abadi dalam keyakinan beragama. Seperti Khidir dalam Islam (mestinya Yahudi) atau Babaji dalam Hindu. Sel-sel tubuh mereka tidak mengalami kematian seperti kita. Versi Khidir meminum Maul Hayat (air kehidupan) versi Babaji dengan teknik yoga.

 

Namun baik ateisme maupun teisme berpulang pada satu kesimpulan, masing-masing kita punya tiket sekali jalan. Mau jadi bajingan atau orang bajik, kau akan mati. Sebaik-baik yang akan mati, ada dua hal yang perlu dipersiapkan.

 

Pertama, menjalani hidup dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Berani hidup. Hawking mati, tapi mati sebagai manusia mulia. Menjadi ilmuwan paling berpengaruh abad ke 21.

 

Hidup akan sia-sia kalau hanya biasa saja. Saya mungkin termasuk di dalamnya. Padahal tiket kita hanya sekali jalan.

 

Yang kedua, bahagia. Mati memang mengakibatkan pesimisme seperti yang digugat Nietzsche. Kesia-siaan hidup terlihat nyata karena ia pasti berakhir. Namun menjalani hidup dengan pesimisme jauh lebih buruk dari mati. Kesedihan, ketakutan, kegamangan membuat hidup jauh lebih buruk dari kematian.

 

Mati, jika engkau ateis hanya berarti engkau tiada. Jika beragama, kehidupan baru bermula. Namun akan lebih berat jika hidup menanggung derita dan ketakutan.

 

Agama-agama di dunia menawarkan pelepasan dari sakit dan derita hidup itu. Melepaskan kemelekatan dan dukka. Semua itu bagian dari upaya untuk bahagia. Bukan eskapisme atau hedonisme. Upaya untuk bahagia adalah cara manusia melalui proses hidup yang sangat sebentar itu.

 

Pada akhirnya kita akan menyusul Hawking. Orang-orang yang mengabarkan hal ini juga sudah meninggal. Selamat datang dalam kesia-siaan. Atau ingin meniru Chairil Anwar, sekali berarti, sudah itu mati.

 

Melupakan kematian dan asyik berfoya-foya tidak melepaskamu dari kematian. Menghadapinya juga menimbulkan kejerian. Kecuali mereka yang telah mampu melepaskan kemelekatan.

 

Hiduplah untuk hidup. Maksimalkan semua kemampuan. Bercita-cita sejauh mungkin. Seperti kata Buya Hamka, "Jika hidup hanya sekadar hidup, beruk di hutan juga hidup." Yang membedakan kita dengan mereka adalah nilai dalam hidup itu.

 

Masing-masing kita memegang tiket sekali jalan. Seperti Hawking dan yang lain, ini hanya soal waktu. Beruntunglah mereka yang memiliki kesadaran mendalam tentang mati ini. Selamat jalan Tuan Hawking, semoga tidak kau temukan Tuhan di sana seperti keinginanmu. Tenanglah menyemesta.

 

Sabbe satta bhavantu sukhitatta...

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Wednesday, March 14, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: