Materialisme dan Dilibasnya Bisnis Rente

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Dulu waktu masih muda tahun 1986. Saya pernah membeli batu apung di NTB. Para kerja tambang di bayar dengan sangat murah. Mengapa saya simpulkan sangat murah? Karena menurut pekerja itu upah hanya cukup hidup 4 hari dalam seminggu. Tapi mereka engga punya pilihan. Pemilik tambang itu adalah seorang tokoh masyarakat yang juga dipanggil tuan guru. Hidupnya bergelimang harta. Rumah mewah. Kalau ke jakarta nampak sekali penampilan hedonisme. Tinggal di hotel berbintag. Jam tangan mahal. Istrinya berbalut emas dari leher, lengan, dan jari. Menurut ceritanya dia setiap tahun pergi haji. Dia terpandang karena memang status haji dan hartanya. Bagaimana nasip pekerjanya ? Dia hanya ceramahi agar hidup sabar dan ikhlas. Setahun sekali ketika dia keluarkan zakat, orang berdesakan antri di depan rumanya sampai ada yang pingsan menanti giliran dapat zakat. Itupun hanya uang recehan.

Dulu ketika era jaya batubara sedang hebat hebatnya, teman saya yang punya lokasi tambang dan mendapat kuasa beberapa lahan tambang milik rakyat. Teman ini tidak keluar modal untuk mendapatkan uang dari tambang itu. Dia suruh pembeli ( umumnya dari China yang bukan pembeli akhir tapi hanya broker) kerja sendiri membawa alat berat dan lain lain termasuk biaya operasional untuk setiap proses mengangkutan batu bara ke atas kapal. Jadi jangan tanya bagaimana nasip pekerja dan lingkungan akibat cara kerja seperti ini. Karena mana mungkin pembeli peduli soal kesejahteraan pekerja dan lingkungan. Setiap loading batubara ke kapal dia dapat fee USD 20 per ton. Jadi bila sebulan dia loading sedikitnya 40.000 ton maka dia dapat fee sebesar USD 600.000 atau Rp. 7 miliar. Tanpa kerja. Tanpa keluar modal.

 

Kemana uang fee itu? Dia gunakan untuk membiayai hidup hedonisnya. Jalan jalan keluar negeri dengan artis bertarif sekali terbang USD 50,000. Beli apartement mewah untuk beberapa wanita piarannya di Jakarta. Beli rumah mewah di Pantai Mutiara. Melayani pejabat di tempat tempat karaoke VIP dengan PL wanita dari Turki, Uzbekhista , Tiongkok. Sekali bayar bill sedikitnya Rp. 60 juta. Itu di lakukan 5 malam dalam seminggu. Pergi haji bersama seluruh anggota keluarga setiap tahun. Menjadi donatur ormas keagamaan dan Ormas underbow partai. Bahkan untuk acara atas nama keluarga besar, dia berani terbangkan Dai selebritis dari Jakarta dengan biaya ratusan juta sekali kotbah. Dia kaya tapi tidak ada dampak sosialnya bagi lingkungan kecuali menciptakan budaya rakus dari semua mereka yang terikat langsung atau tidak langsung dari cara hidupnya.

Suka tidak suka, budaya materialisme ini tumbuh subur karena adanya bisnis rente. Bisnis yang mengadalkan kekuasaan atau memberikan fasilitas kekuasaan kepada pihak yang secara business tidak capable. Karena tidak punya akses modal, tehnologi dan market. Bisnis rente ada di semua sektor. Dari pertanian, perkebunan, pertambangan, perdagangan, jasa, sampai urusan keagamaan seperti perjalanan haji. Mereka inilah yang menjadi virus menyebarkan budaya malas dan rakus kepada siapa saja yang bersinggungan dengannya. Makanya jangan kaget era reformasi sampai era SBY terjadi deindustrialisasi. Karena orang males buat pabrik. Lebih suka impor dan karena mudah dan cepat untung.

Di era Jokowi , business rente inilah yang di sikat habis. Makanya yang paling meradang adalah mereka yang terbiasa manja dengan kemudahan dan fasilitas negara. Siapa mereka itu? Para penjual izin konsesi business dan mereka yang kecipratan uang dari business rente yang mengakibatkan terjadinya bubble price , dari harga rumah atau property sampai dengan harga artis, prostitusi , sampai harga menjadi kepala daerah, bahkan harga donasi kepada ormas...membuat mereka semua kaya raya tanpa kita tahu dari mana mereka dapat uang karena tidak ada pabrik yang didirikan. Yang ada hanyalah rumah mewah, mall yang terus tumbuh bak cendawan di musim hujan, kendaraan super mewah. Sementara kendaraan presiden aja sampai mogok. Rakyat banyak yang engga kecipratan semakin terpuruk. Gap kaya miskin semakin lebar. Kini saatnya berubah. .Keluar dari comfort zone...harus.

 

(Sumber: Status Facebook ERizeli)

Friday, March 24, 2017 - 08:15
Kategori Rubrik: