Matematika Arab Spring dan Rusia

 

Oleh : Hadi Susanto

Lama saya tidak menulis di Facebook. Sejak tulisan terakhir tiga bulan yang lalu, ada beberapa coret-coretan yang saya buat yang pada akhirnya tidak saya lanjutkan. Di antara kejadian-kejadian besar yang muncul di Facebook, seperti Aleppo, Aksi Damai I dan II, sidang Jakarta, keinginan menulis berujung pada pertanyaan yang sama: Apakah tulisan ini nanti bermanfaat?

Krisis kemanusiaan beberapa hari yang lalu di Aleppo yang membuat para pewarta media sosial mengirimkan yang mungkin akan menjadi pesan terakhir mereka mengingatkan saya pada sebuah paper yang saya baca hampir tiga tahun yang lalu tentang model matematika Arab Spring.

Penulis artikel membuat asumsi bahwa sebuah revolusi ditentukan oleh empat parameter: enthusiasm dan visibility dari demonstran dan efisiensi dan kapasitas pemerintah dalam mengatur. Dengan sebuah persamaan diferensial sederhana, mereka memetakan revolusi Arab Spring yang terjadi di Tunisia dan Mesir dan revolusi lain di dunia. Dan terhadap Syria sebagai bagian dari Arab Spring, mereka menulis bahwa model mereka terlalu sederhana untuk konflik negara yang melibatkan banyak pihak. Kita tahu Amerika dan Rusia ikut bermain di dalamnya.

Membicarakan Rusia, Mei lalu saya diundang mengunjungi Tashkent, Uzbekistan. Akomodasi dan segala keperluan dalam negeri ditanggung tuan rumah. Selain saya, ada beberapa kolega yang diundang juga. Salah satunya kolega dekat, seorang Rusia yang jadi professor di Canada. Dalam satu kesempatan makan malam, pembicaraan kami merembet kemana-mana, mulai dari matematika hingga ke politik Rusia dan Amerika. Tentang Syria, kolega itu mengatakan dia sangat mendukung keikutsertaan Putin dalam perang Syria. Kami tanya kenapa. Dia bilang: tanpa Rusia, Syria sudah akan lama jadi boneka dan pangkalan Amerika, sebagaimana Irak dan Libya. Karena itu pula dia condong kepada Donald Trump dibanding Hillary Clinton: Trump akan sibuk dengan urusan dalam negeri, sedang Clinton jelas berlumur darah Benghazi. Sebuah sudut pandang yang mungkin berbeda dengan kita.

Tapi apapun itu, entah kita melihat perang Syria ini sebagai perang antara 'Pemerintah vs Pemberontak' atau 'Mujahidin vs Rejim Asaad', saya yakin kita semua sepakat bahwa sudah terlalu banyak rakyat kecil yang menjadi korban. Dan di situlah posisi saya: hati saya bersama mereka, termasuk bersama Syaikh Ramadhan Al Bouthi Asy Syahid yang adegan ketawadhuannya terhadap Habib Ali Al Jifri tidak pernah tidak berhasil membuat air mata saya mengalir.**

Sumber : facebook Hadi Susanto

Thursday, December 29, 2016 - 17:30
Kategori Rubrik: