Matamu Begitu Kecil

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Suatu ketika, mungkin Rumi lagi ngobrol dengan Tuhan. Orang-orang sufi memang terlihat lebih rileks, bisa ngobrol, mungkin juga ngobar (ngopi bareng) tuhan. Beda dengan jurusan sarengat, dikit-dikit ngomongin surga, juga neraka. 

"Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana Anda bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya?" demikian Rumi mengandaikan dirinya bertanya dalam puisinya. Anda yang dimaksud di situ adalah Tuhan, yang kemudian menjawab; "Dengar, matamu lebih kecil, namun engkau bisa melihat dunia."

 

Di dalam matamu, seluruh isi dunia kau masukkan, dengan melihatnya tentu. Bukan dengan cara memasukkan isi dunia ke rongga matamu. Tapi, bukankah demikian engkau memasukkan segala kesedihan ke dalam hatimu? Hingga sesak, tumpat-pedat?

Itulah sebabnya, kebahagiaan khayalan sebagaimata tulis Rene Descartes, lebih bernilai daripada kesedihan yang nyata. Hingga ia bisa dieksploitasi begitu rupa. Seperti para pengemis dan penarik cycle rickshaw di India. Kaum miskin negeri Mahatma Gandhi itu, menabung sebagian penghasilannya untuk menonton film. 

Di dalam gedung bioskop, orang-orang kalah bisa merasai kemenangannya. Dalam banyak film India, tuan tanah dan Polisi, bisa dikalahkan. Demikian kostum yang gemerlap, tarian massal dengan tari dan nyanyian gumbira ria. Dalam film, mereka menemu dan bertemu pahlawannya. Dan kita tahu, industri film India tak mampu dikalahkan Hollywood volume dan skalanya. 

Bukan hanya film, bahkan partai politik dan agama, juga acap diperankan dalam pada itu (ini gaya bahasa 'Api di Bukit Menoreh' SH Mintardja). Meski tak sebagaimana imbal-balik nonton film, dalam politik dan agama janji sorga bisa berbalik arah. Hingga orang bisa jadi korban tipu-tipu agen perjalanan haji, sampai penjual rumah syariah berkah bertubi-tubi. Jadinya malah bertuba-tuba.

Sementara, pendidikan yang mestinya jadi agen perubahan, justeru menjadi agen gas tiga kiloan. Itu pun belum tentu full tiga. Kalau habis harus beli. Kalau yang jual bilang kehabisan, baru kita berpikir skala prioritas. Hidup seperti cinta sekolah dasar, kata Chairil Anwar. Hanya menunda kekalahan. Apakah sekolah hanya menunda angkatan kerja? Yang ada manusia tergantung. Bukan manusia bebas. 

Walhal menurut Sartre, sebagaimana juga Rousseau, manusia dikutuk bebas. Kenapa kita seolah justeru dikutuk tidak bebas? Agar bisa jadi sumber pendapatan politikus, ustadz dan ustadzah? Pemilik Cafe? Petugas Pajak? Seniman? Motivator? Disainer renda celdam dan bra? Pendeta? Pelukis? Debt-collector? Dramawan dan dramawati? Mark Zuckerbergh?

Tapi, tiba-tiba Will Durant, sejarawan dan penulis Amerika akhir abad 19, bikin kita pusing. "Manusia menjadi bebas ketika dia menyadari bahwa dia tunduk pada hukum," katanya. Bukankah kita tak pernah diajari tunduk, patuh pada aturan? Bukankah kita bangsa pejuang, semakin melanggar semakin heroik? Mari menjura! 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, January 12, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: