Masyarakat Resah

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Populasi china diatas 1 miliar orang tetapi tidak bisa menciptakan satu Team kesebelasan bola kaki sehebat Eropa. Mengapa ? Demikian saya tanya keteman di china. Menurutnya bukan karena china tidak punya sumber daya untuk itu tetapi lebih karena budaya china yang individual. Mereka tidak mungkin dimotivasi untuk kepentingan Team. Apalagi suruh kejar bola agar orang lain yang menggolkan bola dan jadi bintang lapangan. Engga bisa. Di perusahaan pun sama. Tidak bisa mereka di motivasi bekerja demi perusahaan. Bekerja demi negara. Engga mungkin efektif. Tetapi cobalah beri mereka insentif pribadi atas apa yang mereka lakukan maka mereka akan jadi mesin kerja yang efektif mencapai tujuan.

Dalam kehidupan keseharian tergambar jelas bagaimana masyarat china tidak pernah resah dengan situasi politik. Tidak pernah resah dengan pabrik yang Senen kemis. Mereka hanya resah terhadap diri mereka sendiri. Diluar itu tidak masuk hitungan. Makanya kalau mereka tidak nyaman di perusahaan, ya mereka keluar begitu saja. Cari kerjaan lain atau buka usaha sendiri. Dan mereka tidak perlu jelaskan apa alasannya sampai membenci tempat kerja yang lama. Teman saya mantan pegawai PNS di china yang beralih profesi sebagai pengusaha, juga tidak pernah membahas soal pemerintah. Baginya, entah itu pemerintah atau Perusahaan punya sikap tersendiri namun mereka juga punya hak untuk bersikap. Jadi tidak perlu mempertanyakan sikap pihak lain. Karena hidup kita tidak tergantung pihak lain tetapi diri kita sendiri.

 

 

Masyarakat kita lain lagi. Kalau saya perhatikan, sebagian orang selalu punya alasan menyalakan pihak lain. Sebaliknya juga mudah memberikan pujian dan menaruh harapan kepada pihak lain. Akibatnya mudah menjadi pembenci dan juga Follower. Padahal hidup kita tergantung terhadap diri kita sendiri. Kalau kita berkerja baik dengan skill hebat maka pemberi kerja akan membayar lebih. Orang tidak akan tanya agama kamu apa? Asalnya dari mana. Harga kamu bukan ditentukan oleh agama atau etnis tetapi oleh skill kamu. Barang yang kamu jual laris bukan karena agama atau ras tetapi memang menguntungkan bagi orang lain. Penyebabnya bisa karena harga murah atau kualitas bagus atau tempat jualan yang strategis. Itu aja.

Lebih lagi sikap sebagian orang awam sampai mencela pemerintah untuk ganti presiden. Entah sampai dimana kebencian itu menimbulkan motivasi hebat untuk ganti presiden. Karena mungkin mereka tidak paham bahwa harga barang naik itu terjadi disemua presiden dan pemerintahan. Apakah mereka berharap ganti presiden harga turun? Kalau itu harapan maka benarlah mereka tidak lagi memiliki dirinya. Mereka selalu lupa memperbaiki diri agar punya harga lebih tinggi dari kenaikan harga barang. Karenanya mereka hanya bisa mengeluh dan mudah terprovokasi politisi petualang. Padahal siapapun jadi presiden tidak akan bisa membuat harga turun.

Jadi seharusnya focuslah terhadap diri sendiri dengan terus memperbaiki diri agar berapapun harga naik tidak membuat resah dan tidak jadi masyarakat resah.

 

(Sumber: Facebook Erizeli Bandaro)

Monday, May 21, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: