Masyarakat Patungan Bantu Support Logistik Polisi Yang Kawal Demo Bawaslu

ilustrasi
Oleh : Susy Rizky Wiyantini
 
Saya lagi nonton siaran tv yang menyiarkan langsung provokasi massa terhadap aparat dan perusakan2 yang perusuh lakukan ketika masuk WA dari Irene Atmaja, Ahoker Jokower Bali. Pasti soal donasi nih. 
 
Bener aja. "Mbak Susyyyy, semoga aku nggak kepagian. Mbak, aku nonton tv. Nggak tega lihat Polisi dan TNI yang lagi tugas. Apakah kita nggak mau kumpulin donasi? Teman2 Bali lagi bahas dan kita mau minta tolong Mbak Susy kordinir / Saya tanyakan ke Mbak Ezki Suyanto dulu ya. Kalau menurut dia boleh saya inform Irene." 
 
Langsung saya WA Ezki di grup. Dia langsung jawab : "Ide bagus! Ayo kita jalanin."
Mbak Ria Cai  -Ratu Aksi Sosial di WAG kami- langsung ikut nyaut akan borong semua roti produksi pabrik roti dekat rumah beliau. 
 
Saya posting di FB, niat awalnya hanya mau ajak teman2 sendiri. Sebentar saja ajakan itu ramai karena disebar teman2 ke WAG2 lain. Banyak nomor2 yang nggak saya kenal kontak mau ikut donasi. Saya udah nggak sempat nanya tau nomor saya dari mana karena banyak WA yang harus dijawab.
 
Kenapa mereka mau menyumbang? Kita semua tau bahwa TNI Polri nggak kekurangan dana. Pasti ada anggaran yang cukup untuk menyediakan akomodasi dan konsumsi. Namun hati kita semua tergerak melihat foto2 polisi yang lelah, buka puasa makan mie instant. Ada lagi foto dimana aparat yang applusan tugas tertidur di tempat terbuka, lalu ada yg lagi video call-an sama anaknya yang masih balita. Semua itu bikin hati kita trenyuh. 
 
Kita membayangkan di bulan suci ini kita semua yang berpuasa ibadah dengan tenang. Makanan minuman tersedia komplit di rumah, sementara para penjaga negara makan seadanya di lapangan, bukan di meja makan. Di bulan penuh berkah ini mereka berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia untuk menjaga ibukota dari perusuh-perusuh yang tidak punya hati.
 
Tepat jam 14.00 WIB saya minta ditemani Didit Suswanto, Leonita L Suswanto dan Yennie untuk belanja dan antar konsumsi. Lalu Milliyya kontak saya mau ikut bantu juga. 
 
Menghindari kesulitan mencapai lokasi posko polisi, saya pilih untuk beli minuman di sekitar Jakarta Pusat. Dari salah satu gerai swalayan di Rawasari saya dapat 50 box minuman mineral, lalu kita cari agen minuman. Dapat lagi 125 box. Mau nyari lagi takut kesorean karena Ezki pesan harus udah sampai di Bawaslu pukul 18.00 dan harus segera pulang karena khawatir situasi nggak kondusif. Oya, saya juga beli sekitar 400an roti yg siap santap. Pokoknya roti dan kue2 basah semua saya bersihin dari dua toko itu. 
Kami janjian sama Mbak Judith Lubis yang membantu kordinasi dengan pihak kepolisian untuk menyalurkan donasi teman-teman. Karena mendadak, kami baru bisa diterima di Polda pukul 18.00. Rencananya kami akan dikawal menuju Bawaslu tapi waktunya tunggu laporan dari yang tugas di lapangan. Pukul 21.00 polisi ngajak berangkat. Tapi ketika kita sudah siap di mobil, petugas yang akan mengawal menghampiri kami. "Bu, maaf. Kami baru dapat laporan situasi memanas. Kami mengkhawatirkan keselamatan Ibu-ibu. Kita tunda besok gimana Bu?
 
Niat kita mau bantu polisi, bukan merepotkan. Saya setuju untuk batalkan antar ke Bawaslu. Tapi minuman dan makanan yang terlanjur dibeli kan nggak mungkin dibawa pulang? Saya telpon Mbak Judith dan Mas Robert yang tadi udah pisahan di Polda. Beliau tunggu di Senopati untuk antar saya ke Senayan, posko polisi2 yang sedang bergantian istirahat. Sebelumnya kita sempatkan lagi beli buah di Jl. Barito.
 
Sampai di Senayan kami diterima oleh Komandan Batalyon AKBP Faisal dan Pak Imam. Matanya kelihatan ngantuk dan lelah, tapi terlihat haru mendengar banyaknya atensi dari masyarakat kepada aparat yang bertugas. 
 
Pak Faisal bermarkas di Batam. Seperti pasukan-pasukan lain dari luar kota, Pak Faisal ditarik sementara untuk menjaga ibukota. Beliau bercerita bagaimana harus mengatur strategi agar stamina anak buah di lapangan tetap terjaga dan emosi tetap terkendali. Beliau juga cerita bahwa yang ditarok paling depan dari pihak demonstran adalah anak-anak remaja belasan tahun. Komandan aksi aman, semua di belakang.
 
Aparat dilempari bermacam benda tapi harus tetap sabar dan tetap dalam formasi, nggak boleh bergerak sendiri lalu kocar-kacir.
 
Yang mengharukan adalah ketika beliau cerita tentang kerusuhan di Petamburan. Orang tua, ibu hamil dan anak-anak kecil ikut sesak kena sisa-sisa gas air mata. Salah satunya seorang ibu keluar dari gang sempit, menangis gendong anak balitanya yang sesak, "Pak tolongggg Pakkk ini anak saya kenapaaa??". Beliau yakin itu efek gas air mata yang merembes ke pemukiman. Beliau keluarkan oksigen bawaan tim medis kepolisian yang harusnya jadi persediaan untuk diri sendiri. Beliau pakai supaya anak itu nggak sesak napas lagi. "Saya ingat anak saya sendiri Bu. Hal seperti ini juga banyak dialami teman-teman. Jatah kami diserahkan buat warga." Mata beliau menerawang, bibirnya tersenyum waktu cerita dan kita yang mendengarkan terdiam haru.
 
Sambil bercerita sebentar-sebentar beliau melap lengannya yang keringat. "Maaf Bu, ini saya masih berkeringat terus, efek dari gas air mata."
 
"Pak, apakah situasi aman Pak melihat di beberapa tempat agak kisruh? / Aman terkendali Bu. Jangan khawatir. Kami yang bertugas selalu siaga." 
 
Di posko itu ada 1.000 Brimob yang sedang memulihkan tenaga setelah berjam-jam di bawah terik matahari, di provokasi dan diserang. 
 
Malam tadi saya merenung dan akhirnya paham, mungkin inilah jihad yang sebenarnya. 
 
Selamat bertugas TNI dan Polri! Tuhan akan menjaga Bapak dalam tugas serta keluarga yang ditinggalkan.
 
Ini saya sertakan juga link postingan saya sebelumnya yang saya update terus tentang jumlah donasi yg masuk http://bit.ly/2VZKEkT . Di kolom komentarnya bisa kita baca curahan hati dari istri-istri yang suaminya ditarik dinas ke Jakarta.
 
Hari ini teman-teman dan saya akan berkeliling lagi utk antar tanda simpati dan bentuk solidaritas dari teman-teman kepada aparat-aparat yang bertugas. 
 
Terima kasih ke semua sahabat yang sudah berdonasi dan juga membantu dalam doa.
 
Sumber : Status Facebook Susy Rizky Wiyantini
Thursday, May 23, 2019 - 13:30
Kategori Rubrik: