Masyarakat Indonesia Mudah Ditipu Dan Berpikir Irasional

ilustrasi

Oleh : Eiwei Younora

Kenapa Sebagian Masyarakat Indonesia Mudah Ditipu dan Tidak Berpikir secara Rasional

Sebab, semua kegiatan yang mengatasnamakan agama dianggap benar-benar bertujuan baik. Apalagi ada “ajaran” umat beragama tidak boleh “suudzon”. Tidak boleh berprasangka buruk. Bahkan juga ada sikap “sami’ na wa atho’na yang mengatakan “saya mendengarkan dan saya melakukannya”, apa yang dikatakan guru agamanya dianggap benar dan “HARUS” diikuti.

Apalagi sebagian masyarakat Indonesia sangat menghargai profesi guru agama, ustadz atau ulama. Bahkan partai yang berazaskan agama juga dianggap benar-benar membawa aspirasi bagi umat beragama, terutama “sebagian” umat Islam atau kata lain “ Muslim “

Husnudzon atau prasangka baik masyarakat telah disalahgunakan oleh “oknum-oknum” yang mengaku guru agama, ustadz atau ulama. Semua tujuan yang baik ternyata hanya “kelihatannya” saja baik. Sebagian tujuan yang baik itu kadang telah disalah gunakan untuk kepentingan2 tertentu yang tidak berhubungan dg keagamaan, misalnya menjatuhkan lawan politik dengan menggunakan dalil agama. Mengkafir2 kan teman dekat atau saudara sendiri karena berbeda pendapat dsb.

Oleh sebab itu rendah nya pengetahuan dan tidak pernah berpikir diluar kotak , sebagian masyarakat Indonesia tidak bisa lagi berpikir secara rasional. Bahkan sebagian masyarakat Indonesia hatinya telah tertutup dan bahkan memusuhi atau menganggap rendah terhadap teman atau saudara sendiri yang berbeda pendapat karena telah di pengaruhi oleh oknum2 yg menggunakan dalil agama untuk menjatuhkan semua kawan atau saudara sendiri yang berbeda pendapat.

“Manusia yang telah menutup mata, hati dan telinga” tidak bisa lagi di ajak berdialog atau berkomunikasi secara rasional karena mereka hanya mau melihat apa yang ada di dalam kotak saja dan tidak mau melihat apa yang ada di luar kotak.

Sumber : Status Facebook Eiwie Younora

Tuesday, March 12, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: