Masuk Kabinet

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Minggu ini adalah Minggu ketiga setelah Pentakosta. Bacaan Ekumenis diambil dari 2Raja-raja 2:1-2, 6-14, Mazmur 77:2-3, 12-21, Galatia 5:1, 13-25, dan Lukas 9:51-62.

Dalam narasi bacaan Injil Lukas di atas ada dua adegan. Adegan pertama. Dikisahkan Yesus dan murid-murid-Nya hendak ke Yerusalem. Dalam perjalanan mereka masuk ke desa orang Samaria. Ternyata orang Samaria menolak mereka, karena Yesus hendak ke Yerusalem. Yakobus dan Yohanes, dua murid Yesus, naik darah. Mereka meminta izin Yesus untuk membinasakan orang-orang Samaria itu dengan menurunkan api dari langit. Yesus menghardik kedua murid-Nya dan mereka pergi ke desa lain.

Adegan kedua. Dalam perjalanan menuju Yerusalem seseorang berkata kepada Yesus bahwa ia akan mengikut Dia. Yesus menjawab, “Serigala empunya liang, burung empunya sarang, tetapi Aku tak memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Ikutlah Aku!” Mendengar jawaban Yesus orang itu berkilah, “Izinkanlah aku pergi dahulu mengubur bapaku.” Jawab Yesus lagi, “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Dalam pada itu seorang yang lain berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Yesus menjawab, “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Dalam adegan pertama Yesus ditolak di desa orang-orang Samaria. Mengapa mereka menolak? Samaria dulunya masuk dalam Kerajaan Israel Utara yang bersama dengan Kerajaan Yehuda bergabung menjadi Kerajaan Israel Bersatu di bawah Raja Salomo. Kerajaan itu pecah dan membuat orang-orang Yehuda (kemudian dikenal dengan Yahudi) menuding Israel Utara (Samaria) sebagai biang kerok perpecahan. Ini merupakan satu dari banyak alasan mengapa orang Yahudi membenci orang Samaria secara turun-menurun. Barangkali atas latar belakang ini orang Samaria membalas tidak mau menerima Yesus di desa mereka.

Dalam adegan kedua justru orang-orang ingin mengikut Yesus. Tentu saja Yesus tidak sekonyong-konyong menerima mereka. Yesus memberikan gambaran tantangan berat yang akan dilakoni juga oleh para pengikut-Nya dengan “Aku tak memiliki tempat untuk meletakkan kepala”. Melihat jalan berat yang akan dilalui, orang-orang itu njipèr. Dengan berbagai alasan mereka membatalkan mengikut Yesus.

Pada Kamis lalu Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan keputusan sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU). MK memutuskan menolak permohonan Paslon 02 untuk seluruhnya. Tentu saja keputusan ini sudah diduga oleh para ahli yang waras. Pada dasarnya permohonan PHPU itu bukan untuk mencari kemenangan. Permohonan tersebut sebenarnya hanya untuk memelihara kebencian kepada Presiden #Jokowi. Benih kebencian yang sudah ditanam sejak lima tahun lalu harus terus dipelihara agar tumbuh subur. Jika perlu dipelihara turun-menurun seperti kebencian antara orang Yahudi dan Samaria. Hal ini diperparah dengan tanggapan kontradiktif Prabowo: menerima keputusan MK dan meminta pertimbangan kuasa hukum apa masih ada langkah hukum. Padahal semua orang waras memahami keputusan MK adalah final dan mengikat.

Dalam pada itu Presiden Jokowi menegaskan tidak ada lagi 01 dan 02. Yang ada persatuan Indonesia. Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia membangun bangsa, karena ia adalah presiden terpilih bagi seluruh rakyat Indonesia. Tantangan Indonesia makin berat di dalam ketidakpastian situasi dunia. Hal serupa ditelatahkan oleh Jokowi ketika ia menjadi Gubernur DKI untuk tidak mengorek-orek masa lalu, melainkan menatap ke depan. Tantangan maha berat di depan tentu hanya bisa tertanggulangi apabila para pengikut Jokowi siap untuk membajak tanah, karena “Setiap orang yang siap untuk membajak tanah, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk masuk kabinet.”

Quote of the day:
“Football is a game of mistakes. Whoever makes the fewest mistakes wins.” Johan Cruijff

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Saturday, June 29, 2019 - 20:15
Kategori Rubrik: