Massa Dalam Bom Bunuh Diri di Sarinah, Blessing in Disguise

Ilustrasi

Oleh : Musni Umar

Bom bunuh diri yang dilakukan di depan Sarinah Jakarta pada tanggal 14 Januari 2016 terjadi anomali. Sejatinya masyarakat takut, panik dan menjauh dari area TKP (Tempat Kejadian Perkara), tetapi yang kita saksikan justru sebaliknya, masyarakat berkumpul di TKP.

Reza dari Metro TV dan juga dari Republika ketika wawancara saya (15/1/2016), menanyakan hal itu. Saya menjawab, setidaknya ada lima hal yang membuat masyarakat berkumpul di TKP bom bunuh diri.

Pertama, ingin tahu peristiwa teror bom bunuh diri secara langsung. Kedua, mendapat tontonan gratis bom bunuh diri, yang sangat langka terjadi dan bisa disaksikan. Ketiga, mereka yakin tidak akan terjadi bom bunuh diri susulan. Keempat, masyarakat percaya kemampuan polisi dan TNI mengamankan TKP. Kelima, masyarakat memberi support atau dukungan kepada polisi dan TNI untuk melawan aksi teror bom bunuh diri.

Sudah Diketahui Intelejen

Pada bulan November 2015, saya mendapat info bahwa jaringan ISIS di Indonesia akan melakukan penyerangan di DKI Jakarta pada saat Natal dan Tahun Baru, yang menjadi target utama mereka adalah markas polisi.

Info intelejen itu direspon oleh Densus 88 polisi dengan melakukan penggerebekan dan penangkapan di seluruh Indonesia yang diduga sebagai teroris. Adanya penangkapan dan ketatnya pengamanan menjelang Natal dan Tahun Baru, menyebabkan mereka mengurungkan niat untuk melakukan penyerangan di DKI pada saat Natal dan Tahun Baru.

Rencana melakukan teror di ibukota baru dilakukan tanggal 14 Januari 2016, saat aparat keamanan menurunkan kesiap-siagaan menghadap teror.

Maka ada benarnya pernyataan Sutiyoso, Kepala BIN bahwa intelejen sudah tahu dan sudah melakukan antispasi bersama seluruh aparat keamanan untuk mencegah teror bom bunuh diri, tetapi pelaku bom bunuh diri juga tahu saat yang tepat untuk melakukan aksinya.

Mereka melakukan aksi bom bunuh diri pada saat masyarakat dan polisi lengah.

Blessing in Disguise

Berkumpulnya masyarakat di TKP sempat dikeluhkan polisi karena mengganggu kerja mereka dan riskan dilihat dari perspektif keamanan dan keselamatan.

Akan tetapi, tanpa disadari ada semacam blessing in disguise kerumuman massa dalam jumlah besar di TKP. Pertama, tujuan teror bom bunuh diri untuk menakut-nakuti dan membuat panik masyarakat tidak tercapai.

Kedua, masyarakat di seluruh Indonesia tidak takut dan tidak panik menghadapi teror bom bunuh di Sarinah Jakarta, karena mereka menyaksikan banyak kerumunan massa di TKP. Logika publik, kalau kondisi keamanan gawat di ibukota, maka pasti tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah apalagi berkumpul dalam kerumunan massa di TKP, karena sangat rawan untuk dibom dan ditembak teroris.

Ketiga, secara psikologi, teroris pasti tidak mau melakukan aksi bom bunuh diri lanjutan dalam kerumunan massa jumlah besar, karena berpotensi mereka ditangkap hidup-hidup. Selain itu, kerumunan massa dalam jumlah besar di TKP bisa juga dimaknai bahwa masyarakat bersama Polisi dan TNI bersatu untuk melawan dan memberantas Teroris.

Keempat, karena tidak ada kepanikan dan ketakutan masyarakat dalam aksi bom bunuh diri di depan Sarinah Jakarta. maka keamanan ibukota dan seluruh Indonesia segera pulih.

Kelima, dampak negatif dari bom bunuh diri di Sarinah, dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan keamanan, tidak besar dan kondisi ibukota segera kembali normal.

Oleh karena itu, saya tegaskan dalam wawancara dengan Metro TV dan Harian Republika bahwa ada blessing in disguise dibalik kerumunan massa di TKP aksi bom bunuh diri.

Semoga peristiwa aksi bom bunuh dijadikan pelajaran dan akar masalah mereka nekat melakukan kegiatan terorisme dipecahkan, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Allahu a’lam bisshawab

Sumber:  (Kompasiana)

 

Monday, January 18, 2016 - 00:00
Kategori Rubrik: